Sabtu, 22 Juli 2017

Kamu Memberi Hutang, Kamu yang di Unfriend? Udah, Ikhlas Aja.


Pernah meminjamkan uang, tapi tidak dibayar sama sekali? Aku pernah.
Pernah meminjamkan uang, tapi yang pinjam bilang udah transfer padahal dilihat dari transaksinya belum sama sekali? Aku pernah.
Pernah meminjamkan uang kepada calon pasangan yang sangat butuh untuk biaya mereka menikah, tapi akhirnya akun fb kita di remove tanpa tau sebabnya? Aku pernah.

Apa yang aku lakukan? Yang mana? Yang tidak dibayar sama sekali? Yaaa... sudah pernah sih aku ingatkan lewat WA dan sms, tapi responnya tidak ada. Angka hutang nyampe hitungan juta. Sedangkan kondisinya dia ketika itu masih mahasiswa yang bekerja paruh waktu di usahaku. Akhirnya, ya sudahlah, aku ikhlaskan dulu hingga dia mendapatkan pekerjaan yang baik dan bisa membayar hutang-hutangnya.
Empat tahun berlalu, kabar pun tiada.
Nah tipe peminjam yang tak bayar, bukan cuma satu, tapi ya beberapa kali. Dan suamiku mengikhlaskan. Berhubung suami ikhlas, aku pun jadi ikut legowo saja.



Kasus kedua. Jika kita sama-sama kekeh, baiknya bagi kita "Ya sudah ikhlaskan saja". Toh itu karena dia merasa sudah membeayar hutangnya, bukan karena tidak mau membayar hutangnya.

Tapi untuk 3 pengalaman piutang diatas, yang paling bikin "nggak habis pikir" adalah yang terakhir. Untuk yang ini, hutang sudah terbayar, walau lewat dari yang dijanjikan.
Pasangan ini adalah pasangan yang aku anggap adik yang sudah dekat. Ketika mereka meminjam, padahal itu adalah disaat aku juga sedang membutuhkan uang untuk 2 anakku yang harus pindah sekolah di Depok karena kami ikut ayahnya mutasi ke Jakarta. Uang sekolah yang cukup besar, belum lagi urusan biaya-biaya lain sebagai keluarga yang baru pindahan.
Namun, suami dengan ikhlas membolehkan aku meminjamkan uang ke mereka, itu karena suami melihat si laki-laki adalah orang yang baik-baik, dan dia mendukung pernikahan mereka. Akhirnya aku meminjamkan sejumah dana itu pada mereka, dan si laki-laki berjanji untuk mencicil tidak lewat tahun itu.

Mereka menikah, aku mengirimkan kado untuk istrinya, sebab aku tak bisa datang karena sudah berada di Depok. Bulan terus berganti, bahkan lewat dari waktu pembayaran yang sudah dijanjikan. Aku mencoba menagih, karena memang saat itu kami sedang butuh tambahan dana untuk sesuatu.
Tentu aku meminta baik-baik, karena mereka juga sudah seperti adik. Saat itu mereka belum bisa membayarkan, karena sedang belum ada pemasukan. Aku menunggu sampai mereka ada.

Beberapa waktu beralu, aku tanyakan kembali beberapa kali, namun kurang respond.
Akhirnya aku menuju FB istrinya, dan mencoba inbox. Sepertinya tidak terbaca karena tidak dibalas.
Dan saat itu, aku tiba-tiba ingat, biasanya aku sering melihat status istrinya wara-wiri di Timeline, tapi belakangan tidak. Ternyata setelah aku buka, aku sudah di Unfriend oleh beliau yang pernikahannya kukirimkan kado, dan kupiutangkan juga. (Saat itu sepertinya tidak ikhlas ya, tapi hanya sesaat)

Aku beristighfar. dan mencoba berbaik sangka dengan menanyakan pada suaminya, apakah ada masalah sampai putus pertemanan via media sosial?
Suaminya menjawab bahwa ia tidak tahu kalau ternyata istrinya sudah memutuskan pertemanan maya kami.
"Ya sudah kalau tidak ada masalah apa-apa" kataku.

Sudah, sampai disitu. Dan cukup tau saja. Kira-kira begitu yang aku fikirkan. Aku yakin, selain aku, ada yang Maha Adil dalam membalas seluruh kebaikan dan keburukan.
Bagiku, memafkan justru lebih mendatangkan rejeki untuk keluarga kita, Insya Allah.

Sekarang, apa kabar mereka? Ya kurang tau, karena sudah di "Unfriend" oleh istrinya, sedangkan aku juga sudah tidak pernah berkabar lagi dengan suaminya.



Segala Sesuatu Allah yang Membalas




Ini benar, loh. Aku selalu belajar dari orang tuaku yang lebih sering ter-zholimi untuk masalah hutang piutang. Tapi Alhamdulillah rejekinya dilancarkan Allah.
Kasus paling baru yang aku pelajari dari ibuku adalah, ketika dia pernah meminjamkan uang (sudah sering sebenarnya) pada keluaga saudara dekat kami, yaitu meminjamkan kepada kerabatnya yang sedang butuh dana untuk usaha dan biaya kuliah anaknya. Tahun-tahun berlalu. Usaha anaknya bangkrut, dan keluarganya (ayah ibunya) bercerai. Padahal sang Ayahnya masih punya hutang ke mama, tapi tak mau membayarnya, bahkan marah-marah ketika ditagih.

Nah kalo ini sih cocok untuk gambar dibawah ini:




Singkat kata, dana pinjaman tersebut sebenarnya didapat mama dari meminjam ke temannya juga. Karena mama sangat sayang dengan kerabatnya ini, dia berani malu dengan meminjam kesana-sini agar kerabatnya tidak masuk penjara dan dihujat banyak orang.
Setelah banyak tahun terlewati, teman mama mengeluh karena uang yang dipinjam kerabatku belum terbayarkan semua...masih ada sekiaan puluh juta.

Saat itu, mama mencoba menemui salah satu saudara kandung kerabatku. Mama ke rumahnya untuk membicarakan hutang piutang ini, karena memang menganggap mereka yang paling mapan dari semua anaknya. Sekaligus mama mencoba menagih hutang ayahnya yang ayahnya itu tidak mau membayarnya. Ternyata, sakit hati yang didapat mama. Bahkan setelah ditawar-tawar, '100 ribu'pun tak mau mereka membayar hutang ayahnya ke mama.

Sedihnya mama, sedangkan meminta kerabat yang sedang bangkrut itu melunasi hutangnya pada teman mama pun tidak tega. Akhirnya, mama menggunakan uang pinjaman dari bank untuk membayar hutang kerabatnya itu kepada si teman.

Subahanallah, karena ikhlas, usaha penginapan mama semakin lancar, Penginapan selalu saja dipenuhi pelancong yang datang ke Medan. Mama bisa memperbesar penginapannya, juga membeli lahan baru. Dan ponakannya itu boleh membayar hutangnya dicicil semampunya, yah walaupun sampai sekarang masih sedikit yang bisa dibayarkannya. Tapi mama selalu mendoakan kerabatnya itu semoga dilancarkan usahanya.

Sebenarnya ini hanya contoh terakhir, sedangkan sebelum-sebelumnya, ada banyak sekali hal-hal serupa yang sudah dimaafkan mama dan Allah yang membalas dengan kebaikan.

Aku masih belajar, tapi semoga bisa seperti mereka.

Aku percaya, Allah Maha Adil, dan segala sakit hati kita yang tak bisa kita balaskan, Allahlah yang akan membalasnya, Insya Allah.

Yang di bawah ini satu cerita kecil dariku, tapi tak patutlah dicontoh
Sebenarnya sekitar setahun lalu, suamiku berjumpa dengan si suami dari adik yang 'unfriend' tadi di kantornya. Kebetulan, perusahaannya mengadakan semacam kompetisi, dan temanku ini ikut. Disana mereka bertemu dan berfoto.
Suamiku membawa pulang kabar itu, dan bercerita dengan senang juga menunjukkan foto mereka karena menjumpai seorang adik yang pernah dikenalnya dulu. Aku diam saja.
Semangat suamiku, berbanding terbalik denganku. Dan ntah kenapa justru membawa ketidaksuksesan kompetisi si teman. Dia tidak menang. Ntahlah, apakah itu karena aku belum ikhlas, atau karena memang dia belum layak menang.

Mendengar kabar itu, aku beristighfar, beristighfar pada diriku sendiri, dan mencoba melupakan sakit hati yang masih terbawa-bawa. Alhamdulillah, ketika aku sudah ikhlas, dan memaafkan, justru aku mendapat kabar dari suami bahwa suami akan dipromosikan lagi jabatannya. Allah memanjangkan rejeki orang-orang yang ikhlas, insya Allah. Bukan hanya rejeki kita, tapi juga rejeki dari orang yang kita ikhlaskan.
Karena, dengan terus menyimpan ketidak-ikhlasan, justru cuma menambah penyakit hati.
Ikhlas itu memang sulit, tapi tetap harus diusahakan. 


Begitu juga untuk orang-orang dari 3 tipe pengalaman piutang diatas, semoga untuk kedepannya mereka bisa lebih baik.

4 komentar:

  1. banyak yang spt itu yang aku alami mulai dari uang yang besar maupun yang kecil, nah yg kecil ini bikin sebel, kalau nagih juga malu krn kecil, tp kalau sering dg jumlah kecil kan jad besar juga. ada tmenku suak minjem 100 rb dg alasan lupa baaw uanglah, dlll, dikasih tp gak dibalik2, eh lain kali minjem lagi 100 b dg alasan alinnay bilang besok dikembalikan ditunggu2 gak dibalikin, mau nagih kok ya rasanay gak enak dg jmlh sdkt. tp sering dan ini bukan ke saya saja

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mudah-mudahan si teman sadar ya mbak.
      Kalau memungkinkan, diingatkan aja dulu, tapi kalau ternyata dia merasa tidak ingat meminjam, ya sudah kita ikhlaskan aja, yang penting tugas mengingatkan nya sudah. Dan untuk kedepan, bisa di blacklist sebagai orang yang bisa kita pinjamkan uang :D

      Hapus
  2. Ikhlas itu memang kunci keikhlasan mbak, meskipun berkali2 terzalimi, tapi Allah itu maha tahu, makanya doa2 orang yg terzalimi itu tanpa hijab, mudah dikabulkan Allah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyaps mbak. Tapi insya Allah, sebisanya jangan sampai kita mendoakan keburukan.
      Kecewa, marah, dan tidak ikhlas itu memang biasa, tapai sebisanya jangan sampai terucap hal buruk. selama masih bisa kita tahan, ada baiknya kita tahan. walaupun belum ikhlas kita doakan untuk kebaikan.

      salam kenal mabk yelli

      Hapus