Senin, 09 November 2015

Melatih Fokus dengan Panahan

Dulu, waktu di Banda Aceh... Hamdi pernah ikut latihan Panahan, tapi tidak sampai setahun. Waktu itu, dia masih kelas 1 SD. Pak pelatih bingung waktu aku mendaftarkan Hamdi. Secara, Hamdi memang masih kecil banget, sedangkan disana cuma tersedia busur panah untuk yang berbadan ukuran diatas Hamdi.

Masalahnya Hamdi keukeuh tetap pengen ikut les Panahan. Karena sejak Playgroup, setiap kami melewati tempat latihan itu, Hamdi nagih-nagih terus, "Kapan Ma, Hamdi ikut panahan?"
Dan aku selalu menjawab, "Ntar ya kalo udah masuk SD."



Waktunya tiba, gelar Hamdi sudah menjadi siswa SD. Sejak hari pertama, dia langsung menagih lagi janjiku. Maka, mau tak mau...kutemuilah Pak pelatih yang bernama Wak Choi itu.
Tadinya Wak Choi sedikit ragu, berhubung badan Hamdi kecil. Tapi karena Hamdi ngotot tetap pengin ikut panahan, akhirnya diterimalah Hamdi sebagai muridnya.

Namun, tidak sampai satu tahun, akhirnya Hamdi berhenti latihan panahan. Sebabnya macam-macam, yang paling utama adalah karena aku suka lupa nganterin Hamdi ke lokasi les panah saat tiba jadwal latihannya. Alasan kedua adalah, memang badan Hamdi waktu itu terlalu kecil jika dibandingkan busur panahnya. Akhirnya, Hamdi mengubah haluan dengan masuk ke Sekolah Bola Real Madrid.

Tahun lalu kami pindah ke Depok, karena suami mutasi ke Jakarta Pusat. Dan saat ini Hamdi sudah kelas 6. Dikarenakan di sekolahnya yang baru tidak diperbolehkan mengambil ekskul berhubung kelas 6 harus fokus menghadapi ujian.

Namun, Hamdi tetap ingin punya kegiatan di luar sekolah, dan dia tertarik dengan les gitar dan panahan lagi. Untuk les gitar, Hamdi memilih les dengan guru musiknya di sekolah. Kalau Ahza memilih les Biola di Yamaha music school.  Sedangkan untuk panahan, untungnya teman Hamdi ada yang sudah ikut panahan, dan untungnya lagi, lokasi les panahannya dekat dengan rumah kami.



Mengapa panahan?

Yang pertama, karena memang Hamdi yang meminta, terus menerus malah.

Yang kedua, kabarnya memanah bisa melatih anak untuk lebih berkonsentrasi. Walau pun bagiku tidak ada masalah dengan konsentrasi Hamdi, tapi aku akui, Hamdi adalah anak yang sangat banyak bicara, bergerak, bertanya, dan berimaginasi. Di satu sisi, aku menganggap itu adalah kelebihan Hamdi. Sayangnya, dari sisi guru-gurunya, pertanyaan-pertanyaan Hamdi, argumen-argumennya, dan celotehan-celotehannya dianggap berlebihan. Untuk hal yang dikeluhkan gurunya ini, aku masih dalam tahap konsultasi dengan psikologi anak. Dan masih belum selesai karena masih dalam tahat pertemuan pertama. (insya Allah hasilnya akan aku sharing di kemudian hari).

Yang ketiga, Aku juga ingin mengimbanginya yang harus belajar menghadapi UN dengan kegiatan fisik yang membuat dia senang dan sehat, Bukan dengan menambah les bimbingan belajar diluar sekolah, karena bagiku belajarnya dia di sekolah dan di rumah sudah cukup. Yang penting konsisten aja. Lagian, tidak ada masalah dengan nilai-nilai pelajarannya sehari-hari dan juga nilai rapor. Yang ini, sudah cukup dalam versiku. karena kalau nilai sudah diatas 8, ya sudah cukup itu. Apalagi memang guru wali kelasnya memang mengatakan Hamdi ini sebenarnya cerdas, banyak keahlian, berani...tapi celotehan dan pertanyaannya itu yang terkadang suka berlebihan. Hmm..


Lalu apa yang sudah aku lihat setelah dua bulan mengikuti latihan panahan ini? Satu hal yang pasti, "Hamdi bahagia". Setidaknya ini adalah wadahnya me-refresh dirinya setelah dijejali dengan banyak quiz, pelajaran, dan belajar.
Yang lain? apakah Hamdi lebih tenang? Nggak juga, Lah memang udah gen nya gitu, lahirnya aja sudah berkerut keningnya, dan seperti uget-uget. bergerak dan berfikiiiir terus. :D

Yang pastinya lagi, "Nggak ah, aku nggak ingin anakku jadi pendiam jika harus dipaksakan. Nggak ah, aku nggak ingin anakku memaksakan diri menjadi orang lain."

Itu pemikiranku untuk saat ini.





  Adiknya, Ahza, juga jadi tertarik ikut panahan






Belanja Gamis dan Mukena yang cantik, bagus, dan murah? tempatnya di www.ahzaaufa.com




Tidak ada komentar:

Posting Komentar