Rabu, 30 April 2014

SI MANIS JEMBATAN LAMNYONG

Judulnya sedikit berbau spooky, ya. Kabarnya, jembatan Lamnyong memang mempunyai cerita spooky dibalik keindahan dan manis panorama yang terpancar dikala fajar dan senja. Tapi aku tidak berbicara tentang si manis yang spooky itu, tapi tentang bagaimana manisnya jembatan lamyong yang selalu menghadirkan banyak cerita untuk kami, penduduk Darussalam. Tidak percaya? Cobalah untuk menjadi penduduk kota kecil Darussalam, dan kalian akan mendapati apa yang aku rasakan.

Tinggal di sebuah kota kecil yang cukup berjarak dengan pusat kota Banda Aceh, membuatku terbiasa mencari spot-spot menarik di daerah tempat tinggalku. Tanpa perlu menghabiskan bensin untuk perjalanan, ternyata Darussalam menyimpan banyak sekali tempat wisata menarik untuk keluarga. Salah satunya kawasan jembatan Lamnyong. 

Tidak Pakai Mahal Untuk Refreshing

Berbeda dengan kebiasaan kota-kota besar dan metropolitan yang menjadikan pusat perbelanjaan seperti Mall dan Plaza sebagai wadah refreshing penduduknya, refreshing di Banda Aceh dan seputarnya justru tidak pakai mahal. Dekatnya jarak antara Banda Aceh dan Aceh Besar memudahkan penduduk dan wisatawan untuk dapat menikmati wisata bahari yang banyak terdapat di kawasan Aceh Besar.

Berangkat dari tahun 2005, sampai sekarang 2014, sembilan tahun sudah aku berada di Banda Aceh. Berawal dari pemandangan reruntuhan disekelilingku, sampai akhirnya menjamur warkop-warkop keren hampir disetiap sudut tempat. Jati diriku memang bukan sebagai putroe asli Banda Aceh, tapi kota ini sudah cukup melekat didalam kehidupanku sehari-hari. Dan wisata baharilah yang menjadi objek refreshing kami sekeluarga. Mulai dari pantai Lhoknga, pantai Lampuuk, sungai Sarah, pantai Ulee Lheue, pantai Ujung Batee, pantai Syah Kuala, Pantai Pasir Putih, Air terjun Seuhom, Alue Naga, Puchok Krueng, dan masih banyak lagi.