Rabu, 21 November 2012

NIKMAT YANG DIBERIKAN SETELAH COBAAN ITU RASANYA SANGAT KAYA

Nikmat yang diberikan setelah cobaan itu rasanya sangat kaya. 
Jadi begini, seminggu lamanya Ahza terbaring sakit, disela ia sakit akupun tumbang terkena cobaan yang sama. Disaat bersamaan dengan dianjurkannya Ahza di infus, disaat itu pula pahlawan keluargaku menggiat menunaikan tanggung jawab kerja yg tak bisa ditinggal hingga malam tiba. Aku tak menyesalkannya, karena aku masih mampu, dan aku bangga dengan beliau. Tapi, melihat kondisiku pihak dokter di RS pun menyarankan aku di infus. Bukan ku tak sudi, tapi infus menyempitkan ruang gerakku. Bagaimana kalau ahza mau ke kamar mandi nanti? Atau makan? Atau lain-lain. Jadi, kukatakan saja pada dokter dan perawat: "Kami ini perantauan, tak ingin juga menyusahkan org tua yang di Medan dengan meminta mereka datang kesini. Jadikan saja aku sekamar dengan anakku, tak usah di infus... Tapi berikan obat pereda demam dan pereda sakit kepalaku. Nanti malam suamiku pulang, waktu itu saja aku di infus". 



Berat hati si dokter dan para perawat itu mengabulkan, akhirnya setuju juga tapi dengan syarat aku menandatangani sebuah surat penolakan infus sementara.Perawat-perawat tadipun menyediakan sebuah tempat tidur lagi dikamar tempat anakku dirawat, memberikanku beberapa obat lewat suntikan selang yg memang sudah terpasang untuk infus nanti. Demamku reda, Ahzapun tak rewel bahkan ketika ia di suntik infus dan diambil darahnya, tapi sayang sakit kepalaku tak berkompromi. Kutanyakan dokter dan perawat, kenapa pusingku tak jua menghilang. Dokter bilang, itu karena aku belum di infus, tensiku rendah, jadi berpengaruh ke sakit kepala. 

Kubanyak-banyakkan minum untuk mengganti keharusan infus, tetap sakit kepala tak juga kabur. Di sisi lain, aku harus sering-sering menggandeng dan menggendong Ahza ke kamar mandi, karena banyak minum dan cairan infus membuatnya beser. Setelah Ayahnya menjemput Hamdi pulang sekolah, baru aku sedikit terlenakan. Hamdi bisa membantuku, setidaknya untuk skala mengambilkan air putih untuk Ahza.Sebelum berangkat lagi, masih suamiku bertanya... Apakah aku mampu ditinggal? Kukatakan, selama demamku masih sembunyi... Tak masalah buatku. Toh kalau ada apa-apa, tinggal panggil suster disebelah.Bertigalah aku dikamar, iri aku dengan kegiatan Hamdi membaca serangkaian novel detektif lima sekawan dan sherlock holmes. Bukan kutak punya senjata, ada sebuah "madre" rangkaian khayal "dee" yang sudah kupegang saat itu. Tapi, jangankan membacanya... Ketika kubuka halamannya, seluruh tulisan buku itu membuat kepalaku berputar dan berat.... Uffft.

Malam tiba, demamku mulai mengucap salam selamat datang. Kumulai menghubungi suami, karena tubuh sudah menggigil. Untungnya suami sudah dekat rumah sakit. Tibanya suamiku, perawat yang memang posnya tepat disamping kamarku langsung datang membawa peralatan. Dan, akhirnya aku di infus juga.Malam itu, gantian suamiku yang merawat kami berdua. Memijat kakiku dan kepalaku, terbangun ketika aku terbangun, mengambilkan air putih, lalu memijat kepalaku lagi... Walau sebenarnya sampai pagipun aku tak bisa tidur.
Bagaimana dengan esok paginya? Demamku yang selama semalam melakukan pembantaian terhadap tubuhku, mengucapkan salam berpisah sementara di pagi itu. Ah, demam itu tau kalau suamiku juga harus pergi lagi menyelesaikan pekerjaan kemaren yang belum selesai. Bedanya, hari ini sakit kepalaku sudah mereda dengan dua botol infus parasetamol (akhirnya), dan aku harus mengurus Ahza dengan tangan yang ikut di infus. Jadilah aku harus membawa dua botol infus kalau Ahza ke kamar mandi, mengambilkannya air putuh, menyulanginya makan, atau memijat kepalanya yang juga pusing. Begitulah sampai hari ketiga di rumah sakit.

Akhirnya, setelah seminggu berkutat dengan demam yang datang dan pergi, trombosit ahza naik dan diperbolehkan pulang. Kendalanya justru aku, disaat Ahza sudah mulai sehat, tensiku justru ngedrop di level 80/70. Nyatalah aku sangat amat lemas, dan di anjurkan memasang infus lagi (setelah semalam sebelumnya melepas infus karena pembuluh darah pecah disebabkan yang punya badan terlalu lasak). Maka sehari itu aku diharuskan lagi memasok cairan infus dua botol, lalu pulang kerumah tercinta.

NIKMAT YANG KAYA RASA
Pulang kerumah ternyata tak mengartikan kalau badanku sudah sehat. Ntah apa sebabnya, aku makin lemas, kepala berputar, mual, dan muntah. Suamiku yang sudah longkar pekerjaannya dan memang dalam keadaan libur menyuruhku tak usah bangun dari tempat tidur. Mulai dari sore itu hingga malam, ia memijatku. Mencoba mengasupi dengan beberapa makanan yang kusuka, tapi tetap termuntahkan lagi. Malam tiba, ia mulai khawatir, lalu menanyakan ingin dimasakkan apa. Tapi lidahku seperti orang hamil muda, perutku seperti di acak-acak, leherku layaknya tersangkut tulang, dadaku bak tertekan besi, dan kepalaku sempoyongan. Lalu makanan apa yang bisa kuselerakan dengan keadaan seperti itu?


Suamiku berinisiatif sendiri, ia pergi ke Blang rakal malam itu. Sejam kemudian ia kembali, dan setengah jam kemudian ia menghadirkanku sebuah masakan buatannya yang ingin rasanya aku meneteskan air mata di atas masakan itu dan mengadukknya, lalu memakannya dengan haru. Kenapa?
Ketika tadinya ia bilang akan memasakkanku spagheti, kukira ia hanya menggunakan bumbu jadi yg banyak dijual di blang rakal. Tapi ternyata spagheti itu menggunakan udang besar yang baru dibelinya, lalu diirisnya, dimasaknya bersama bumbu spagheti yang juga di raciknya sendiri, lalu dihadirkannya ke tempat tidurku. Karena senang, aku tak rela memuntahkannya, walau ketika makanan itu masuk, perutku seperti menendangnya. Kutahankan menghabiskan sphageti dengan rasa yang luar biasa kaya.


Sayangnya malam itu, aku tetap merana parah dengan sakitku. Tak bisa tidur, dan ingin meraung menahan sakit diseluruh lini tubuh. Kalau saja aku tak tau bahwa menyabarkan sakit dapat meruntuhkan dosa-dosa kecil, rasanya malam itu ingin saja aku menangis sejadinya dan meraung tak henti.Esok paginya, suamiku bilang, sakitku yg sekarang bukan lagi dbd. Dbd taklah selama ini, ia bilang asam lambungku menyalah. Ya Tuhan, betapa selama ini aku menggap remeh dengan magh dan asam lambung yang hanya sedikit datang, membiarkannya dengan memakan makanan pantang, dan tak memperdulikan ringkihannya selama ini.... Lalu inilah balasannya karena tak menghargai tubuh pemberian Allah. Perutku memberontak hebat, berkoalisi dengan organ yang lain, lalu menyerangku karena telah melukai mereka.Tak pernah kubayangkan kalau asam lambung akan semenderita ini, bahkan disaat aku menulis inipun mualku masih terkadang datang. Aahhh... 

Tapi dibalik itu nikmat perhatian dan kasih sayang pahlawan keluargaku ini membuatku merasa bagai bidadari terindah dimatanya. Ia tak membiarkanku mengurusi yang lain. Masalah persiapan sekolah anak, menemani anak bermain, belajar, mengaji, mengantar dan menjemput sekolah... Ia yang mengurusnya semua. Ia pula memasak makanan khusus untukku, walau akhirnya harus berpegang hanya ke roti karena makanan lain tak ada yang berhasil masuk.Tak hanya itu, bahkan di hari selanjutnya ketika ia mendapat tugas harus keluar kota, ia melihat kondisiku masih lemah lalu menundanya sampai beberapa hari kemudian.Berhari-hari setelah rangkaian penyakit dbd yg menyerang aku dan anakku, lalu aku berlanjut dengan asam lambung, suamiku mengurusku dengan sabar sampai aku bisa turun dari tempat tidur tanpa mual dan muntah empat hari kemudian. 

Inilah hadiah terindah yang kaya rasa itu. Allah maha mengetahui cobaan yg semampu hambaNya dan Maha pemberi nikmat berlebih setelahnya. Yaitu, nikmat kasih sayang ^_^


Tidak ada komentar:

Posting Komentar