Senin, 23 Mei 2011

Kemping di Pulau Rubiah (satu)

Ini adalah kali ketiga kami menginjakkan kaki di sabang. Pertama kali diajak oleh teman yang sudah berkeluarga beserta rombongan. Menginap di sebuah cottage bernama Tuna cafe, disebelahnya adalah cottage terkenal bernama sumur tiga. Jauh lebih mahal, karena memang lebih bagus.

Kunjungan pertama,kami habiskan dengan melihat-lihat hampir seluruh kota sabang, disempatkan juga berkunjung ke pulau rubiah, tapi tidak menginap.

Kunjungan kedua, adalah ketika orang tua datang dari medan, langsung diajak ke kota sabang. Menginap ditempat berbeda, perjalananpun sama dengan yang pertama.

Perjalanan ke tiga yang sedikit berbeda, kali ini kami hanya akan menginap di pulau Rubiah. Temanya adalah kemping. Tapi direncanakan, aku dan anak-anak menginap di cottage. Perjalanan ke pulau Rubiah dibagi 3 kali rombongan. Rombongan pertama berangkat pada hari minggu, tanggal 15 mei 2011, mereka itu adalah rombongan suamiku dan teman-temannya. Rombongan kedua berangkat sore, yaitu dua temannya yang lain. Rombongan ketiga adalah aku, dua kurcaciku, dan seorang teman (devi), yang berangkat pada senin sore setelah Hamdi pulang sekolah. Waktu itu tak bisa ijin, karena Hamdi sedang ujian.

Berangkatlah kami berempat dari rumah dengan becak mesin, si abang becak sangat santai jalannya. Tak sadar dengan hati kami yang was was jika ketinggalan kapal. Tapi ada yang sangat senang dengan laju becak sifut itu, Hamdi dan Ahza suka cita dengan laju becak yang rasanya lebih lambat dari orang berlari

Sampai juga ke pelabuhan, tanpa telat. Becak berhenti tepat didepan penjual koran. Hamdi yg punya hobi baca luar biasa, langsung minta dibelikan koran. Tapi, berhubung ahza sedang tidur di gendonganku, dan susah untuk membuka tas, aku katakan agar beli korannya ditunda dulu.

Kami membeli 3 buah tiket seharga @ Rp 55.000, lalu menuju kantin untuk makan siang yang memang sudah telat sangat. Hanya ada mie disana, tak ada nasi dan jenis lain. Mie yang kami pesan ternyata sangat pedas untuk selera Hamdi. Si penjual memberikan gula pada Hamdi, agar mie nya tak lagi pedas, tapi yang ada itu mie malah berasa aneh. Dasarnya Hamdi, segala upaya telah dicoba agar mie nya enak, tapi tetap tak dapat dimakan.

Kami akhirnya menaiki kapal. Mencari tempat duduk di dekat jendela, agar anak-anak bisa melihat laut. Benar saja, mereka luar biasa senang diatas kapal. Berbeda dengan seorang anak di belakang yang menangis terus selama perjalanan, kedua kurcaciku malah tertawa dan bercerita terus. Yaah... ributnya kurang lebih samalah dengan yang nangis.

Ini adalah Hamdi, Ahza, dan Tante Devi






Berbagai aksi Hamdi dan Ahza melihat laut







Menit-menit ketika kapal akan sampai, Hamdi selalu bertanya pada tante Devi "berapa menit lagi, Tan?" atau "Berapa detik lagi, Tan?"

Sampai juga kami di lovely Sabang island. Dijemput oleh sebuah mobil pickup, dengan bak terbuka dibelakang. Hamdi dan Ahza memilih duduk di bak belakang ditemani oleh seorang om yang menjemput, sedang aku dan Devi duduk di depan.

Terlihat dari kaca, betapa senangnya anak-anakku itu. Di perjalanan menuju Iboh, kami melewati daerah pepohonan/hutan. Banyak sekali monyet yang berkeliaran di pinggir jalan. Kulihat Hamdi dan Ahza amat sangat antusias dengan tingkah para monyet.

Lalu sampailah kami di Iboh ketika hampir magrib. Menunggu boat penyebrang yang katanya datang setelah magrib. Di sela-sela penantian kami, kebiasaan Ahza yang kapanpun dan dimanapun kita berada selalu meminta jatahnya, yaitu buang air. Kali ini Ahza kebelet buang air besar. Agak jauh memang toiletnya, apalagi harus antri. Ahza tak sabar, dan tak tahan akhirnya harus berhajat didalam celana. Bingungnya aku, karena ternyata di dalam kamar mandi tak ada air. Air harus ditimba dari sebuah sumur, sedangkan sumurnya dipakai oleh beberpa lelaki untuk mandi di depan umum. Terpaksalah aku, dengan segala upaya menahan malu meminta tolong pada nereka untuk menimbakan air ke dalam ember. Tak banyak air yang diberikan, aku tetap harus mengantri mereka mandi, agar bisa menimba sendiri. Lucunya, adalah ahza seorang anak manis selalu bernyanyi dan menari ditengah kegalauan ibunya mencari air, tanpa ada rasa terbebani. Begitulah memang kalau anak kecil, walau daerah itu tidak nyaman, mereka selalu punya cara untuk bergembira.

Akhirnya aku mendapatkan giliran untuk menimba air disumur, lalu dapat dengan nyata dan total membersihkan ahza dan celananya dengan sabun sebersih-bersihnya.

Kapal boat penyebrang yang kami tunggu sangat lama datangnya. Haripun belum lagi magrib, namun sudah tampak lembayung senja di sudut laut terpandang. Hamdi dan Ahzapun tak kuasa menahan hasrat untuk bermandikan pinggiran laut dan permain pasir ditengah suasana senja yang romantis. Lihatlah mereka yang mencoba bermain air dibawah sampan.






Magribpun sudah terlewati, kapal boatpun akhirnya siap untuk berangkat menuju pulau Rubiah.
(bersambung)
Published with Blogger-droid v1.6.9

Tidak ada komentar:

Posting Komentar