Selasa, 24 Mei 2011

Kemping di Pulau Rubiah (Tiga)



Beda memang rasanya jika berenang di pagi hari. Air laut lebih segar, kitapun tak takut menghitam, walau dasarnya memang sudah hitam. Ber-snorkeling tanpa pelampung tidaklah sulit. Ketika melihat kedalaman laut, aku semakin ingin melihat lebih dan lebih dalam lagi. Sedikit memacu adrenalin, apalagi menyadari kalau terlihat betapa jauh dan dalamnya dibawah sana. Ikan-ikan berwarna warni berseliweran dibawah. Jika aku mendekati daerah berbatu karang, ikan-ikan cantik tampak lebih banyak. Berenang didekatku, seakan-akan aku adalah ikan yang sama seperti mereka. Jika melihat ikan yang besar, ingin rasanya berteriak memanggil suamiku diujung sana yang hobinya mancing, ia pasti geram melihatnya. Tapi, aku berenang menghindar ketika melihat seekor ikan yang sangat panjang mirip ikan gergaji, ntah benar atau tidak itu adalah ikan yang sama, yang pasti aku agak kaget. Berenang menghindar dan menjauh, jauh sejauh-jauhnya hehehhehe.



Tak terasa letih sedikitpun ketika berkali-kali dan berjam-jam snorkeling, seperti mariyuana, rasa ingin selalu mengulang untuk merasakannya kembali. *benarkah mariyuana seperti itu?
Keletihan tak terasa sama sekali, kaki dan tangan ini seperti terbuat dari karet. Hingga sampailah ketika suamiku bilang, wajahku sudah mulai belang, dan matahari memang sudah berada diatas kepala, aku baru keluar dari laut. Wajarnya seorang wanita, takut semakin belang dan gosong, aku menyudahi kesenanganku melihat kedalaman laut.

Membawa anak-anakku membasuh diri di sumur yang sempat disinggahi biawak sebesar setengah badanku itu. Mandi diantara rimbunan pohon yang berjejer dibukit itu menyenangkan. Anak-anak yang tubuhnya terbalur air asin dan dihinggapi pasir kepalanya, bernyanyi-nyanyi selagi dibasuh. Menggosokkan sabun, menghilangkan kelengketan air laut, hingga wangi sabun dan shampo tertinggal ditubuh mereka. Mereka terlihat sangat segar setelah bermandikan air sumur.

Selesai mereka bersiap, ayahnya memesankan indomie di sebuah pondok untuk mereka makan. Giliranku, lalu suamiku yang membasuh diri dan bersiap-siap merapikan perlengkapan karena akan pulang hari itu juga. Selesai kubersiap, kulihat Hamdi telah bersantai di ayunan, sedangkan Ahza tertidur di ayunan bersandarkan tante devi. Tidurnya nyenyak sekali. Dan

Kami harus segera besiap-siap, sebab kapal akan berangkat pukul 4 sore, sedang tiket belum berada di tangan. Seluruh teman-teman yang ikut kemping mempersiapkan perlengkapan kemping, juga membongkar tenda yang kami tempati.








Persiapan telah selesai, kapal boatpun telah datang menjemput. Seluruh barang dinaikkan diatas kapal. Sekali lagi kupandangi pulau Rubiah yang akan kami tinggalkan, walau hanya semalam tapi puas begitu tepatri dihati ini, begitu juga keluargaku.

Beda dengan kedatangan kami di malam bulan purnama, kepulanganku disertai teriknya matahari yang sedikitpun tak ingin ku tergoda bersamanya. Begitu panas dan menyengat. Tapi diantara panas yang menuai keringat itu, sempatlah kami berfoto riang sambil memicingkan mata :)





Hamdi dan om Andi



Kapal boat sampai di Iboh yang memang tak jauh itu, masing-masing menurunkan barang sesanggupnya, kalau sanggupnya hanya mengangkat 1/2 kilo maka setengah kilolah yg diangkat, kalau ada yang sanggup mengangkat semua barang termasuk barang-barang kami, maka semoga Allah membalas kebaikannya kelak hehehhe...

Dua orang bujang yaitu Andi dan Kiki ditugaskan atau menugaskan diri membeli tiket kapal dengan mengendarai motor. Sebab mobil pickup yang harusnya menjemput kami menuju pulau Rubiah belum juga sampai. Maka, dari pada khawatir mendera kami, Andi dan Kiki maju sebagai pahlawan mengendarai motor yang dibawa oleh salah satu peserta kemping.

Kira-kira setengah jam berlalu, mobil pickup itu tiba ditempat kami menunggu. Kali ini giliran Hamdi yang tertidur, namun ketika hendak berangkat ia bangun dan minta duduk di bak terbuka. Diperjalanan yang memakan waktu 45 menit, aku tertidur-tidur ayam.

Sesampainya dipelabuhan, kami makan sejenak di warung makan dekat pelabuhan. Tapi setelah makan, ketika hendak membayar, betapa terkejutnya aku dengan harga yg dikatakan. Padahal lauk yang diambil rata-rata adalah telur. Yang saat itu makan sepertinya cuma 6 orang, tapi total harganya 140 ribu. Kalaupun harga nasi pakai telur semahal mahalnya 10 ribu, harusnya harganya berkisar 60 ribu. Luar biasa memang bapak warung itu. Jadi, untuk kedepannya aku harus berhati-hati ketika harus makan secara rombongan disana.

Kapal berangkat meninggalkan lovely Sabang island tercinta, menuju Banda Aceh. Selama dikapal, Hamdi dan Ahza asik dengan permainan mereka sendiri. Memesan milo dari kantin kapal, berlari-lari, saling bercerita, tertawa tanpa lelah. Sempat juga mereka diajak ayahnya ke deck kapal bagian belakang, untuk melihat laut yabg ditinggalkan, juga gulungan ombak yang dikejutkan oleh deru kapal.

Oya, dikapal itu kami bertemu dengan rombongan keluarga yang juga bersamaan dengan kami snorkeling di Rubiah. Bedanya, mereka menginap di Iboh. Lalu bedanya lagi, tak ada satupun dari nereka yang bisa snorkeling walaupun menggunakan pelampung. Padahal pelampung sudah mereka sewa, dan judulnya mereka itu ya memang mau snorkeling, tapi si oom yang mengajak rombongan itupun tak ada nyali untuk mencoba snorkeling. Sehingga, terbantulah mereka oleh beberapa orang bujang dari kami yang mau mengajari dan membantu memegangi mereka untuk snorkeling ke tengah. Tapi ada seorang wanita, yang kira-kira umurnya diatas aku sedikit. Begitu semangat ingin mencoba, tapi selalu ketakutan, apalagi setelah sadar berada ditengah, langsung minta kembali lagi ke pinggir.

Kapal cepatpun sampai di pelabuhan Uleuleu, Banda Aceh. Letih, dan kaki yang mulai mendenyut sudah mulai terasa. Tenyata, rasa pegal dan capek baru terasa setelah lama kami beristirahat ketika sambil menunggu mobil pickup kedua yang akan memboyong kami kerumah masing-masing. Subhanallah, sakit seluruh tubuhku layaknya seperti berenang selama seminggu tanpa henti. Walau ini terlalu hiperbola, kira-kira seperti itulah lelah, letih, pegal, capek, dan, cenat cenut diseluruh kaki yang kurasakan.

Ahza sepertinya masih gamang, dan tidak sadar berada dimana. Berhubung mobil pickup yang kami naiki di Sabang dengan mobil Pickup yang kami naiki di Banda Aceh sangat mirip, maka iapun bertanya:

"Ma, oom yang nyetir tadi mana? Kok ini ayah yang nyetir". Tanyanya.

Setelah menyinggahi kediaman Andi cs, aku dan keluarga diantar sampai kerumah oleh bujang Andi dan Bujang Topan. Tak lagi berpikir panjang, langsung kurebahkan badanku didepan televisi. Alhamdulillah, nikmatnya meregangkan tubuh. Tak kusangka dan tak kuduga, ternyata lelah itu akan terasa jauh setelah aku keluar dari laut dan berhenti melakukan aktifitas snorkeling. Suamiku yang baik hati itu, membuatkanku air madu hangat untuk kuminum. Semalaman aku beristirahat ditempat tidur, tertidur, dan mungkin sambil mendengkur kelelahan.

Esok paginya, pegal tubuh yang kurasa sudah berkurang. Hanya tinggal sisa-sisa sedikit yang menempal di beberapa sendi. Tapi ternyata, setelah kulewati hari itu dengan sabar dan bergembira ria ala diriku sendiri, tubuhku justru jadi lebih segar. Mungkin ini karena proses olah raga renang yang kulakukan, maka khasiatnya akan terasa setelah melewati 3 fase. Yaitu, fase renang tanpa henti dan tanpa lelah, lalu fase istirahat dengan merasakan ngilu disekujur tubuh, terakhir adalah fase segar bugar. *Maap teori ini tak dikutip oleh pakar, harap maklum

Semalam di pulau Rubiah, sungguh benar-benar terpuaskan.
Published with Blogger-droid v1.6.9

Kemping di Pulau Rubiah (dua)

Kapal boat yang ditunggu-tunggu sampai juga, haripun gelap sudah. Dua kurcaci yang asyik berwara-wiri dipinggiran laut dikala senja tadipun sudah menggigil kedinginan. Hanya ada sebuah baju ganti, tanpa celana. Sebab, segala bekal pakaian ganti telah di bawa serta ayahnya yang sudah duluan berangkat.

Bermalam terang dibawah bulan purnama, kami mengarungi laut bersama kapal boat menuju pulau Rubiah. Indah dan senyap, hanya ada suara mesin boat dan air yg bergelombang kencang setelah diterjang boat yang kami naiki. Tak lama, kapal boat bergerak pelan, kata pak supir ada yang sedang menyelam dibawah air.
"Kok bapak tau ada orang dibawah?" Tanyaku
"Ada cahaya dibawah sana, klo diperhatikan pasti keliatan cahayanya" kata pak supir.
Benar memang, ada cahaya yang terpancar dari kedalaman air di sekitaran kami. Kata pak supir, mereka sedang mengincar ikan-ikan malam. Ada ikan yang hanya keluar pada malam hari. Biasanya ikan tersebut tidur jika pagi telah berkunjung. Maka para diver juga penasaran ingin melihat kecantikan para ikan malam. Ikan malam, sama gak dengan wanita malam? Jangan-jangan para diver yang melihat adalah lelaki buaya Hehehe *kiddoo



Semenjak mesin boat dimatikan, suasana malam di lautan itu semakin begitu terasa laut. Udaranya, pantulan cahaya bulannya, gemerisik airnya, dan kegelapannya. Tak jauh dari ujung mata, terlihatlah pulau yang kami tuju. Pulau itu gelap dengan penerangan seadanya. Kabarnya pulau itu memang belum dipasok listrik, hanya berbekal genset pada malam hari, para pemilik dan pengelola cottage menyalurkannya untuk menerangi cottage mereka. Kami melihat cahaya lain, yaitu cahaya api-api kecil yang berpencar dibeberapa titik. Sepertinya itu adalah cahaya yang berasal dari perkemahan kami.

Kapal boat mulai menepi, beberapa laki-laki yang kukenal sebagai suamiku dan teman-temannya menyambut kami, membantu menurunkan anak-anak dan barang bawaan kami. Dua kurcaciku super heboh ketika melihat sang ayah. Dengan semangat menggebu, berlari menuju tenda yang sudah berdiri. Ketika berjalan di setapak jalan, suamiku bilang kalau cottagenya penuh semua.

"Hah? Jadi kami gimana dong? Tendanya cuma satukan?" Tanyaku kaget.
"Iya, tapi gak papa. Tendanya gede dan banyak kamar-kamar. Pida bisa disitu sama anak-anak" Kata suamiku.
Hmmm... Aku sendiri sebenarnya suka sangat dengan kemping di tenda, yang aku khawatirkan Hamdi jatuh sakit, karena pada hari rabunya ia akan ujian di TPQ sekolahnya. Tapi menurutku, bocah-bocahku ini sepertinya petualang hebat. Takkan lemah walau tidur di tenda.

Sesampai ditenda, aku mengajak dua kurcaci untuk mandi. Tempat mandi jangan dibayangkan seperti kamar mandi di kota. Sejelek-jeleknya kamar mandi di kota, tetap ada bak/ember yang terisi air didalamnya. Jarak antara tenda dan sumur berkisar 16 meter. Gelap gulita berteman senter ditangan menjalani tapak jalan yang terbuat dari susunan bata yang disemen. Bahkan suara jangkrik, dan beberapa binatang yang dikenalpun terdengar lebih romantis disana. Hamdi dan daya khayalnya yang tinggi memegang senter sambil berkata:

"Ma, mungkin ada sesuatu disana. Hamdi liat ada yang bergerak-gerak. Oh, mungkin sebuah makhluk besar. Jangan-jangan dia lagi liatin kita, Ma".

Aku cuma bisa hmmmm hmmm hmmmn saja. Sudah kubayangkan, suasana begini akan menerbangkannya pada dunia lain hehehehe...

Sumur itu sangat besar, suamiku yang menawarkan diri menimbakan untuk kami. Ya iyalah, diakan laki-laki baik, jadi harus bersikap baik pada istrinya yang manis sangat. Ember diisi penuh oleh air. Airnya dingin, karena terpengaruh oleh kehijauan hutan dan dinginnya malam. Anak-anak riang serasa sedang kemping *lah memang sedang apa?
Mandi diantara pohon yang berjejer di bukit kecil, suara berbagai hewan di kelam malam, dan ditemani seekor biawak sebesar setengah badanku (baru disadari esok paginya, ternyata ada seekor biawak disamping sumur). Kurasa dan kufikir, biawak itupun sedang termangu melihat keadaan ganjil diluar kebiasaan dimalam buta.

Selesai mandi, Hamdi dan Ahza bermain sejenak sebelum akhirnya tertidur lelap di bawah keremangan langit malam, bersandarkan rumput dengan pandangan kearah langit berbintang. Beberapa pelakon musikal memainkan lagunya bersama sebuah gitar apik dengan suara yang ntah bisa dikategorikan bagus atau hanya sekedar pas-pasan. Ntahlah, hanya kami dan Allah yang tau.

Tapi sebelum kelelapan tadi, kami para pendatang baru di dunia perkemahan, disuguhi ayam bakar yang dibakar ramai-ramai oleh para suhu kemping. Ayamnya maknyus, hibahan dari calon istri seorang teman yang tak dapat ikut serta kemping bersama kami. Ayam sudah diungkep sejak di banda, dan tinggal dibakar di pulau Rubiah. Aku suka sekali sayap, atau daging ayam yang dekat-dekat tulang. Kupilih-pilih dimana letak sayap itu. Kutemukanlah sang sayap yang diincar, tapi dengan warna yang aneh. Segelap-gelapnya malam itu ternyata masih terlihat juga warna gelap si sayap alias gosong. Ntah siapa biang keladi kokinya, tapi sayap tetap kuambil. Siapa tau hanya gosong diluar tapi maknyus didalam. Alhamdulillah, syukur pada Ilahi kupanjatkan, si sayap tak jadi gagal di lidah. Rasa dagingnya masih maknyus. Bahkan tercipta cita rasa baru, antara rasa pahit dan gurihnya bumbu ungkep.

Anak-anak yang sudah kenyang, senang, riang, akhirnya menjadi tenang. Tertidur dibawah rembulan malam, ditemani rumputan hijau, suara jangkrik dan deburan ombak. Kami mengangkat mereka masuk kedalam tenda.

Hampir mereka semua telah tertidur. Akupun sudah mengantuk. Tapi sayang rasanya melewatkan romantisme pantai tanpa dilalui dengan duduk berdua di pinggir pantai, sambil menatap bulan yang sedang ceria. Aku dan suami duduk di depan pantai, bersandar dipundak abangda, layaknya filem-filem india. Tapi sayang, kami tak pandai bernyanyi. Jika saja bisa, sudah pasti kami akan bernyanyi sambil berlari-larian kecil diantara pepohonan di pinggir pantai. *harap pembaca tak protes.

Romantisme pantai diakhiri dengan kantuk. Kami kembali kedalam tenda. Aku dan anak-anakku berada satu kamar. Suamiku bergabung dengan teman-temannya.

****
Shubuh telah menyapa, terbukti dari alarm yang terdengar dari tabletku. Kuberanjak keluar, kudapati Hamdi telah berada disamping ayahnya, tertidur didekat pintu keluar. Aku ingat tadi malam ia protes kepanasan, akhirnya buka baju dan tidur diluar. Suamiku bangun, menemaniku ke sumur. Tak lama, rimbunan warna indah yang dikenal dengan fajar menyingsing menampakkan dirinya, disertai dengan munculnya cahaya mentari yang sedikit malu-malu di ujung laut. Saat itu Hamdi dan Ahza telah bangun dari mimpinya yang ntah itu indah atau tidak. Mereka berjalan kearah pantai sambil membawa sekotak besar cococrunch sebagai pengganjal perut dikala pagi.

Hamdi mulai tak sabar lagi bermain dengan laut





Tak ketinggalan Ahza mulai beraksi



Akupun tak sabar ingin segera bermadu kasih dengan dinginnya air laut pagi itu. Maka aku segera ke tenda, berganti baju, mengambil kacamata dan alat bantu nafas untuk snorkeling. Tadinya suami agak khawatir, karena aku tak pakai pelampung, ditakutkan kalau keram ditengah-tengah. Tapi kusabar-sabarkan hatinya, kuberikan sedikit wejangan dan ketabahan hati atas niat kuatku ini. *kayak mau ngelepasin istri berjuang ke medan perang kekekeke
Ya sebenarnya, olah raga yang paling aku suka adalah renang, kalau saat itu aku pakai pelampung, berarti aku sedang tidak berolah raga. Lagipula, ada kacamata snorkeling, tak perlu khawatir mata pedih ketika renang.

Hamdi mengambil pelampungnya sendiri, yang memang sudah kubawa dari rumah. Pelampung itu bukan pelapung plastik, tapi pelampung berstandard internasional. Memang sudah lama kubeli, karena sering mengajak mereka berenang, atau kelaut. Jadi tak perlu khawatir jika si anak terlalu ke tengah, pelampung takkan bocor karena pelampung tidak diisi angin.

Ahza sendiri sementara harus sabar dengan pelampung yang disewa, yang ukurannya untuk orang dewasa. Ahza pandai menggunakannya, ia membentangkan pelampung itu lalu telungkup diatas, dan tetap mengapung di laut. Ahza tak takut kedalaman, tapi tetap harus kami perhatikan, ditakutkan ia meluncur kebawah.

Rasa lapar dipagi hari mendera, mengingat kami belum lagi sarapan. Kamipun kembali ketenda. Para bujangan sedang sibuk memasak air dan bubur. Dengan sabar kami menunggu koki yang sedang memasak bubur. Walau akhirnya, aku tetap makan indomie, sedang Ahza memilih bubur. Sebenarnya, bubur dan nasi pagi itu agak berbeda. Bubur kacang ijo yang telah lama dinanti kematangannya, ternyata harus sedikit gosong, sedangkan nasi yang dimasak sejak malam tadi memang sudah terdengar beritanya kalau nasi itu yang akan menjadi bubur alias lembek hehehehe...

Perut telah terisi, Ahza tak sabar ingin kembali ke laut. Kulihat ia memilih-milih peralatan snorkeling yang tergeletak di rerumputan. Aku, suami, dan Hamdi beranjak duluan nenuju ayunan didekat pantai. Menunggu kemunculan ahza yang tak kusangka-sangka akan seperti ini:



ia berjalan dari tenda membawa pelatan ini, berapa kalipun kulihat gambar ini, aku masih tersenyum lucu melihat tingkahnya yang percaya diri ingin snorkeling.



Berenanglah kami kelaut, tenyata Ahza pandai bernafas dengan alat itu. Ahza dan Hamdi bergantian pelampung untuk melihat ikan di kedalaman laut, sebab pelampung yang dipakai Ahza terlalu besar. Awalnya Hamdi masih takut menundukkan kepalanya ke dalam air, karena sungguh sangat dalam. Tapi ayahnya membujuk dengan mengatakan banyak sekali ikan cantik di bawah sana. Akhirnya Hamdi ketagihan melihat terus.

(bersambung)
Published with Blogger-droid v1.6.9

Senin, 23 Mei 2011

Kemping di Pulau Rubiah (satu)

Ini adalah kali ketiga kami menginjakkan kaki di sabang. Pertama kali diajak oleh teman yang sudah berkeluarga beserta rombongan. Menginap di sebuah cottage bernama Tuna cafe, disebelahnya adalah cottage terkenal bernama sumur tiga. Jauh lebih mahal, karena memang lebih bagus.

Kunjungan pertama,kami habiskan dengan melihat-lihat hampir seluruh kota sabang, disempatkan juga berkunjung ke pulau rubiah, tapi tidak menginap.

Kunjungan kedua, adalah ketika orang tua datang dari medan, langsung diajak ke kota sabang. Menginap ditempat berbeda, perjalananpun sama dengan yang pertama.

Perjalanan ke tiga yang sedikit berbeda, kali ini kami hanya akan menginap di pulau Rubiah. Temanya adalah kemping. Tapi direncanakan, aku dan anak-anak menginap di cottage. Perjalanan ke pulau Rubiah dibagi 3 kali rombongan. Rombongan pertama berangkat pada hari minggu, tanggal 15 mei 2011, mereka itu adalah rombongan suamiku dan teman-temannya. Rombongan kedua berangkat sore, yaitu dua temannya yang lain. Rombongan ketiga adalah aku, dua kurcaciku, dan seorang teman (devi), yang berangkat pada senin sore setelah Hamdi pulang sekolah. Waktu itu tak bisa ijin, karena Hamdi sedang ujian.

Berangkatlah kami berempat dari rumah dengan becak mesin, si abang becak sangat santai jalannya. Tak sadar dengan hati kami yang was was jika ketinggalan kapal. Tapi ada yang sangat senang dengan laju becak sifut itu, Hamdi dan Ahza suka cita dengan laju becak yang rasanya lebih lambat dari orang berlari

Sampai juga ke pelabuhan, tanpa telat. Becak berhenti tepat didepan penjual koran. Hamdi yg punya hobi baca luar biasa, langsung minta dibelikan koran. Tapi, berhubung ahza sedang tidur di gendonganku, dan susah untuk membuka tas, aku katakan agar beli korannya ditunda dulu.

Kami membeli 3 buah tiket seharga @ Rp 55.000, lalu menuju kantin untuk makan siang yang memang sudah telat sangat. Hanya ada mie disana, tak ada nasi dan jenis lain. Mie yang kami pesan ternyata sangat pedas untuk selera Hamdi. Si penjual memberikan gula pada Hamdi, agar mie nya tak lagi pedas, tapi yang ada itu mie malah berasa aneh. Dasarnya Hamdi, segala upaya telah dicoba agar mie nya enak, tapi tetap tak dapat dimakan.

Kami akhirnya menaiki kapal. Mencari tempat duduk di dekat jendela, agar anak-anak bisa melihat laut. Benar saja, mereka luar biasa senang diatas kapal. Berbeda dengan seorang anak di belakang yang menangis terus selama perjalanan, kedua kurcaciku malah tertawa dan bercerita terus. Yaah... ributnya kurang lebih samalah dengan yang nangis.

Ini adalah Hamdi, Ahza, dan Tante Devi






Berbagai aksi Hamdi dan Ahza melihat laut







Menit-menit ketika kapal akan sampai, Hamdi selalu bertanya pada tante Devi "berapa menit lagi, Tan?" atau "Berapa detik lagi, Tan?"

Sampai juga kami di lovely Sabang island. Dijemput oleh sebuah mobil pickup, dengan bak terbuka dibelakang. Hamdi dan Ahza memilih duduk di bak belakang ditemani oleh seorang om yang menjemput, sedang aku dan Devi duduk di depan.

Terlihat dari kaca, betapa senangnya anak-anakku itu. Di perjalanan menuju Iboh, kami melewati daerah pepohonan/hutan. Banyak sekali monyet yang berkeliaran di pinggir jalan. Kulihat Hamdi dan Ahza amat sangat antusias dengan tingkah para monyet.

Lalu sampailah kami di Iboh ketika hampir magrib. Menunggu boat penyebrang yang katanya datang setelah magrib. Di sela-sela penantian kami, kebiasaan Ahza yang kapanpun dan dimanapun kita berada selalu meminta jatahnya, yaitu buang air. Kali ini Ahza kebelet buang air besar. Agak jauh memang toiletnya, apalagi harus antri. Ahza tak sabar, dan tak tahan akhirnya harus berhajat didalam celana. Bingungnya aku, karena ternyata di dalam kamar mandi tak ada air. Air harus ditimba dari sebuah sumur, sedangkan sumurnya dipakai oleh beberpa lelaki untuk mandi di depan umum. Terpaksalah aku, dengan segala upaya menahan malu meminta tolong pada nereka untuk menimbakan air ke dalam ember. Tak banyak air yang diberikan, aku tetap harus mengantri mereka mandi, agar bisa menimba sendiri. Lucunya, adalah ahza seorang anak manis selalu bernyanyi dan menari ditengah kegalauan ibunya mencari air, tanpa ada rasa terbebani. Begitulah memang kalau anak kecil, walau daerah itu tidak nyaman, mereka selalu punya cara untuk bergembira.

Akhirnya aku mendapatkan giliran untuk menimba air disumur, lalu dapat dengan nyata dan total membersihkan ahza dan celananya dengan sabun sebersih-bersihnya.

Kapal boat penyebrang yang kami tunggu sangat lama datangnya. Haripun belum lagi magrib, namun sudah tampak lembayung senja di sudut laut terpandang. Hamdi dan Ahzapun tak kuasa menahan hasrat untuk bermandikan pinggiran laut dan permain pasir ditengah suasana senja yang romantis. Lihatlah mereka yang mencoba bermain air dibawah sampan.






Magribpun sudah terlewati, kapal boatpun akhirnya siap untuk berangkat menuju pulau Rubiah.
(bersambung)
Published with Blogger-droid v1.6.9

Jumat, 20 Mei 2011

Pemandangan Menakjubkan di Ujung Pantai Lampuuk


Kira-kira seminggu yang lalu kami sekeluarga berencana kemping ke pulau rubiah bersama teman-teman kantor sekaligus adik-adik angkatan suamiku. Tapi sekarang ini, aku bukan ingin menceritakan perjalanan selama di pulau rubiah, tapi perjalanan menakjubkan sepulang kami menanyakan jadwal keberangkatan kapal untuk esok harinya di pelabuhan Uleuleu.

Jadwal tiket sudah ditanyakan, dan masih banyak waktu untuk menghabiskan sore. Seketika aku teringat sebuah gambar yang di tweet melalui @iloveaceh. Adalah gambar sebuah bungalow yang menempel di bukit didaerah Lampuuk, salah satu daerah pantai terbaik dengan pasir putihnya di Banda Aceh. Jujur, foto tersebut tidak dalam kualitas tebaik, sepertinya diambil dari kamera hp biasa. Tapi aku penasaran view yang mungkin berada disekitar bungalow.