Senin, 31 Januari 2011

Runi (Judul novel masih belum pas)

Kelahiran

Ia memeluk bayinya yang merah, menghangatkannya dengan cinta. Melekatkan kulit tipis itu pada kulitnya yang hangat, meredam tangis si mungil yang baru saja memekik menuju lelap yang begitu damai. Runi bersemu merah atas pertemuan pertamanya dengan sang putra. Memandang Halim yang baru saja berkeringat peluh melihat istrinya menghabiskan seluruh tenaganya dalam proses kelahiran putra mereka, seolah-olah ialah yang kala itu merasakan sakitnya. Tapi kekhawatiran itu sirna ketika Halim menggandeng putra mugil itu, lalu meng-Adzan-kannya. Mereka tak berkata apa-apa hanya tersenyum saling menoreh pandangan, yang dalam hati terdengar teriakan maha dasyat atas syukur mereka kepada Ilahi.

Putra itu bernamakan “Yusuf Aqil”, si Yusuf yang bijaksana. Ia tampan, walau tak setampan nabi Yusuf, dan semoga ia juga bijaksana sesuai namanya. Itulah yang diharapkan Runi dan Halim pada putranya. “Yusuf Aqil” adalah rangkaian nama pemberian tetangganya, sepasang suami istri separuh baya, dan telah terlalu menua untuk mendambakan seorang bayi hadir di kehidupan mereka. Suami istri ini sangat menyukai Runi, yang walaupun tak begitu cantik, namun senyumnya melebihi kecantikan bintang sinetron yang sering mereka berdua tonton di perjalanan sore hari, sambil menyantap gorengan atau kacang pemecah kesunyian yang mengerubungi hunian itu. Ketika Runi hamil, suami istri paruh baya ini tak letih menyambangi rumah Runi, menghujani perut buncitnya dengan dawaian ayat-ayat suci dari sebuah surah, yaitu “Yusuf”. Ntah mengapa suami-istri ini merasa yakin janin itu akan berjenis kelamin laki-laki, dan tampan jika ada yang selalu melantunkan surah “Yusuf” padanya.

“Kau tahu Runi, dulu, ketika ibu masih muda, seorang sahabat menyarankan ibu membaca surah Yusuf jika ibu hamil, tapi kebahagiaan ibu diberikan dalam bentuk berbeda. Dan rasanya pantas bagi ibu, menganjurkan hal yang sama pada Runi” Wanita paruh baya itu berkata, dengan senyum yang dewasa, penanda ia sudah menikmati bentuk lain dari kebahagian yang diberikan Allah padanya.
“Terima kasih, Bu. Runi senang Ibu mau menganggap Runi kerabat yang layak untuk dibagi cinta”. Jawab Runi terharu kala itu.

Runi dan Halim bukanlah sepasang suami istri yang kaya, tak pula miskin. Halim bekerja pada pemerintah dengan golongan 3A. Ia juga bukan lulusan terbaik di angkatannya, tapi ia dikenal cerdas, komunikatif, dan gampang bergaul. Runi sendiri hanya menamatkan D2 jurusan komputernya, lalu langsung menikah ketika ia baru saja menyelesaikan programnya. Tak ada yang menentang pernikahan mereka berdua, pernikahan sederhana yang mereka gelar berjalan baik, hubungan dengan mertua juga romantis. Walau orang tua mereka berdua sama-sama masih ada, tapi ekonomi orang tua masih butuh bantuan. Runi tak alpa mengirimkan uang setiap bulannya, sebagai penyenang hati orang tua dan .?mertua. Walau itu 'uang' yang kata orang “cinta tak diukur dengan rupiahmu”, tapi setidaknya bantuan itu yang masih bisa mereka berikan. Apalagi hunian halim dan runi berada jauh di luar kota, kota yang berjarak pandang tak terjangkau dari tempat dimana kedua orang tua mereka menghabiskan romantisme sepasang kakek dan nenek.

Selepas kehadiran Aqil yang menambah aktifitas mereka, mereka semakin menikmati hari-hari sibuk, kurang tidur, mata lelah, dan bingung karena Aqil menangis. Ke-ibu-an Runi luar biasa hebat, tak pernah bergumam lelah walau sebersit kata, tak pula berkerut kening jika dibangun paksa oleh Aqil yang resah karena popoknya basah, karena Runi merasakan kehebatan yang sama pada suaminya. Halim dengan inisiatif luar biasa membantu Runi menyiapkan sarapan pagi. Halim tau, menyiapkan sarapan pagi tak sebanding dengan pekerjaan Runi setelah ia meninggalkannya menuju kantor. Berbagai kejadian dan aktifitas rumah dikerjakan Runi sendirian. Sedangkan bagi Runi, inisiatif Halim merupakan vitamin dosis tinggi untuknya.

Pagi itu Halim sudah bersiap-siap menghidupkan motornya, tiba-tiba Runi teringat belum menghibahkan senyum manisnya untuk Halim.

“Mas, bentar deh” Runi sedikit berlari memanggil suaminya
“Kenapa bun?” Jawab Halim
“Nggak, bunda cuma lupa kasih senyum hehehehe” ungkapnya sambil tersenyum, lega suaminya belum beranjak dari garasi.
“Aiihhh.. biarpun lebayy, tapi Bunda hebat, Ayah jadi semangat 2010 loh berangkat kerjanya” Kata Halim
“Loh, bukannya kaum 2010 lebih letoy ketimbang pejuang angkatan '45”. Canda Runi dengan senyum sedikit mengejek.
“ Ahh itu kan buat yang lain, tapi klo Ayah, semangat Ayah nggak terbendung, kan baru dapat senyun Bunda”. Jawab Halim membalas ejekan Runi dengan kedipan mata.
“Ayah berangkat ya Bun, titip cium untuk Aqil yang lagi mimpi, Assalamu'alaikum”
“Wa'alaikum salam … eh Ayah sebentar, ada lagi nih” Runi mendekati Halim dan membisikkannya sesuatu.
“Jangan terpengaruh dengan pemasukan yang abu-abu, jangan juga menganggap sepele gratifikasi, walau sekecil apapun. Biarlah begini dulu, Masih banyak cara lain yang lebih berkah untuk kaya”. Runi kembali menjauhkan badannya dari motor Halim. Halimpun tersenyum.
“makasih ya, pasti bidadari surga lagi cemburu banget sama Bunda”. Halim berkata dengan pujian yang membuat Runi terdampar dalam bilik cinta yang bersemu merah.

*****

Siang itu, tak seperti siang biasa yang identik dengan matahari yang pongah. Cahayanya banyak memudar berubah kelabu, tapi Runi tak lantas malas dengan dingin yang memberi kabar akan datangnya rentetan hujan. Pujian Halim menaikkan volume kinerjanya dalam mengerjakan pekerjaan rumah tangga, membelai Aqil yang sedang bermanja setelah hausnya sirna. Bahkan paska Aqil tertidur, tenaganya masih terisi penuh untuk mengerjakan satu dan lain hal.

Sebenarnya, seluruh pekerjaannya sudah khatam dari sekian jam yang lalu. Namun Aqil sedang tidur, hal ini membuat Runi bingung ingin melakukan pekerjaan apalagi. Bekas aroma masakan Runipun masih menari diantara sudut ruangan, sehingga siapapun yang tiba-tiba masuk ke ruangan itu, tak sabar ingin menyicipi hidangan Runi.

Runi mengangkat hp nya, memecet nomor Halim.
“Assalamu'alaikum Bunda”. Seru suara diujung sana menyambut panggilan tercinta.
“Wa'alaikumsalam Ayah, lagi apa?. Tanya Runi yang ia sendiri masih bingung ingin berbicara apa.
“Cuma nyusun laporan aja, Bun. Bunda masak apa buat makan malam?”. Halim selalu tak sabar menerima kejutan dari kelihaian tangan Runi meracik bumbu untuk masakan. Ia tak pernah mengharapkan untuk makan diluar, baginya masakan istrinya melebihi masakan resto manapun.
“ Off the record dululah, klo dibocorin, ntar gak deg-degan pas mau makan. Pokoknya klo buat ayah, yaa siap-siap bakal jadi ndut aja dehh”. Canda Runi. 

Bagi Runi, wajah senang Halim ketika menyantap masakannya sudah cukup membuatnya puas. Perasaan yang sama seperti ketika Runi menikmati Shubuh setelah Sholat. Auranya berbeda dengan malam, walau mereka sama-sama gelap. Shubuh merupakan mutiara tak berbanding, bahkan segala kebaikan dimulai dari Shubuh. Sungguh sayang bagi orang-orang yang tak pernah mengenal cara kerja shubuh dan atensinya untuk kita.
“Jiaaahh.. masa' mo makan aja musti deg-degan ... kayak waktu ngelamar Bunda aja. Ngomong-ngomong, kayaknya Ayah hari ini bisa pulang cepat deh, pekerjaan Ayah udah hampir selesai”. Kata Halim, yang sebenarnya tak sabar menyicip kejutan istrinya.
“Gak perlu lah, Yah. Ayah itu PNS, ada waktunya pulang dan ada waktunya kerja. Jam kerja ayah udah diatur, kan memang untuk itu Ayah digaji. Jangan ngurang-ngurangin waktu kerja, karna ayah terikat dengan tanggung jawab dunia. Bunda ltu lebih senang Ayah pulang sesuai jam pulang kerja, loh”. Jelas Runi pada Halim. Runi takut, karena dengan membiasakan kemiringan kecil akan berakibat pada ketimpangan lebih besar, hingga kita tak lagi menyadari bahwa kesalahan besar dimulai dari kesalahan kecil. Berbeda jika Halim tidak bekerja pada seseorang atau institusi. Jika Halim mempunyai usaha sendiri, wajar bagi mereka mengatur sendiri jam kerja mereka. Namun Halim punya kontrak dunia yang berimbas pada ketaatan akhirat. Membiasakan diri disiplin pada tanggung jawab, maka Runi yakin, InsyaAllah mereka terjaga dari rayuan duniawi yang beraura negatif dan berdampak pada kekhilafan dan menjerumuskan mereka pada lubang berkerikil tajam disetiap sisi dindingnya, sehingga mereka tak mampu lagi naik menuju cahaya kebaikan itu berawal. Na'udzubillah.
Halim terdiam, lagi-lagi fikirannya seperti tercubit dengan kata-kata istrinya.

“Ntah apa jadinya suamimu ini jika tidak ada kau, istriku”. Bisik Halim dalam hati. Jauh diujung sana, ia menangis kecil. Bukan karena sedih, tapi betapa baiknya Sang Khalik mengirimkan bidadari itu untuk kehidupannya. Bahagianya ia jika kelak, disuatu masa, ketika dunia ini diambil kembali oleh Empunya, ia disanding kembali bersama bidadarinya di dunia.
“Klo gitu ayah gak jadi pulang cepet deh. Karna kerjaan ayah hari ini emang udah tamat, ayah nulis aja ya”
“Emang ayah mo nulis apaan? Nulis puisi buat bunda boleh gak?”
“Boleh, tapi ntar langsung tunjukin ke Bunda, ya. Tapii, apa memang gak ada kerjaan lagi yah?”
“Nggak Bun, Kerjaan Ayah hari ini gak terlalu banyak. Tapi puisinya gak langsung Ayah tunjukin ke Bunda ya.. pokoknya ada masanya deh.. dan bukan sekarang”. Goda Halim.

Runi sebenarnya mengagumi tulisan-tulisan Halim, hanya saja Halim tak pernah mau mengirimkannya ke media apapun. Padahal, jika saja Halim percaya diri dengan karyanya, Runi yakin karyanya akan diterima banyak orang. Bahasanya yang kuat akan makna, diksi-diksi indah seperti rangkaian ruby yang tersusun indah.

*****
Petir Hati di Pagi Hari

Runi memahami milikNYA adalah selamanya milikNYA, dan bukan hak Runi mempertanyakannya. Namun hati yang masih lara semakin berlipat ganda ketika kenangan manis tak lagi terbendung. Inikah cinta yang teruji diantara kehendak Ilahi dan keegoisan diri? Begitulah sekilas terbersit pertanyaan disebuah ruang hati yang mengatasnamakan cinta. Namun Runi segera tersadar bahwa ia tak berhak menunda, bahkan menahan takdir Allah. Walau dengan rentetan bulir air mata yang tak kunjung kering, ia mencoba memahami niat baik Ilahi yang menyudahi kebersamaannya dengan Halim.
Hari itu Runi tak berfirasat apapun akan hal apapun. Segala sesuatunya berjalan biasa. Bahkan candaan Halim yang sedikit norak bagi sebagian kaum, tak menandakan adanya keganjilan. Mereka seperti biasa bersalaman sebelum Halim berangkat ke kantor. Seperti biasa pula Halim memuji Runi sebagai bidadarinya di dunia dan di syurga. Namun, pagi itu Runi sedikit ingin terlihat lebih cantik dari biasanya, seakan Runi tak rela jika di perjalananya, halim akan melihat bidadari lain yang lebih cantik darinya. Ia berdandan lebih manis, lebih wangi, juga membuat halim hampir membatalkan keberangkatannya ke kantor hanya untuk melihat istrinya berkali-kali. Tak sadar bahwa itulah persembahan keindahan Runi luar dalam untuk Halin kali terakhir.

Satu jam setelah keberangkatan Halim, Runi mendapat telfon dari sebuah Rumah sakit. Hatinya tak beraturan mendengar suara diujung sana, samar-samar ia mendengar kata 'kecelakaan', lalu di sebuah koma, nama Halim disebutkan dengan jelas. Runi berlari secepat degup jantungnya, menghampiri kamarnya, lalu menggendong Aqil yang tertidur lelap. Ntahlah, apa mungkin Aqilpun saat itu sedang bermimpi bercanda dengan Ayahnya, karena Aqil sama sekali tak berontak atau menangis ketika diangkat paksa oleh Runi yang tergesa sembari mengumpulkan tenaga dan emosi yang harus stabil, agar tetap dapat berjalan dengan baik menuju rumah tetangganya. Syukurlah, dalam keadaan seperti ini, para tetangga banyak membantu. Sepasang Kakek nenek pemberi nama Aqil menawarkan diri untuk menggendong Aqil selama mereka di Rumah sakit, sedang tetangga yang lain ikut serta menemani Runi yang memang sebatang kara di kota itu, menuju Rumah sakit. Runi tak berkata apa-apa, ia hanya dapat mengucapakan kata “Allah.. Allah.. Allah” berulang-ulang di dalam hatinya. Mata yang seperti memar memerah tak lagi dapat menahan jatuhnya air mata, ia menangis sambil memohon pertolongan Ilahi untuk memberinya sebongkah kesabaran yang tak terusik fikiran sinisnya. Ya, apapun nanti yang dihadapainya di Rumah sakit, ia harus kuat.

Para tetangga mencoba memegangi Runi, ketika tubuh kaku Halim di perlihatkan padanya. Runi seperti tak berpijak, ia mengamini itu adalah suami tercintanya, suami yang tak pernah menyakitinya, Suami yang beberapa saat lalu mengecup keningnya, suami yang selalu memuji kecantikannya, walau Runi tau, ia tidaklah secantik pujian Halim. Bahkan sisa-sisa pujian Halim masih berbekas di hati Runi, getar dan cinta yang diterimanya masih tersanding didalam tubuhnya. Hingga hati Runi berteriak dengan tangis yang begitu iba.

“Ya Allah.. Demi Engkau, pudarkan cintaku padanya barang sejengkal, pudarkan yaAllah, agar aku tak sombong pada kehendakMU.. Berikan aku kesabaran yang luar biasa, karena aku, sungguh sangat mencintai HambaMU itu” Runi terduduk namun tak meraung, bahkan isakannya hanya sedikit terdengar, namun semua orang menyadari betapa lemasnya Runi saat itu.

*****