Senin, 26 September 2011

LOWONGAN MENGELOLA INTERNET CAFE

Assalamu'alaikum wr. wb


NEO WAROENG MULTIMEDIA (WM 2) membuka lowongan untuk mengelola internet cafe yang sekarang ini dibawah managemen Waroeng Multimedia (WM). Internet cafe yang telah dibuka selama dua tahun ini belum mengalami pendapatan sesuai target selama dijalankan. Maka, Waroeng Multimedia akan memberikan kesempatan bagi para pejiwa bisnis yang mempunyai semangat dan ide luar biasa untuk mengelola bisnis tersebut.

GAMBARAN NEO WM
Sebagai gambaran, Neo WM yang merupakan cabang dari Waroeng Multimedia dibuka dengan konsep yang berbeda dari WM (waroeng multimedia). Neo Wm berlatar belakang konsep internet cafe yang cozy serta nyaman. Selain memanjakan pelanggan dengan PC, Neo Wm juga memberikan ruang nyaman bagi pegguna wi-fi di berbagai spot. Sebuah meja bar beserta peralatan cafe lainnya sebagai pendukung konsep cafe juga sudah disediakan. Selain itu, untuk pendukung bisnis jika diperlukan, kami juga mempunyai 1 set peralatan musik lengkap (drum, gitar, bass, keyboard) untuk mendukung kegiatan bermusik baik itu musik umum ataupun musik islami seperti nasyid (sesuai konsep dan ide). Pendukung lainnya, juga sudah tersedia ribuan komik dan ratusan novel yang akan siap diluncurkan jika ide pengelola menghendaki penyediaan buku-buku tersebut.

Selasa, 24 Mei 2011

Kemping di Pulau Rubiah (Tiga)



Beda memang rasanya jika berenang di pagi hari. Air laut lebih segar, kitapun tak takut menghitam, walau dasarnya memang sudah hitam. Ber-snorkeling tanpa pelampung tidaklah sulit. Ketika melihat kedalaman laut, aku semakin ingin melihat lebih dan lebih dalam lagi. Sedikit memacu adrenalin, apalagi menyadari kalau terlihat betapa jauh dan dalamnya dibawah sana. Ikan-ikan berwarna warni berseliweran dibawah. Jika aku mendekati daerah berbatu karang, ikan-ikan cantik tampak lebih banyak. Berenang didekatku, seakan-akan aku adalah ikan yang sama seperti mereka. Jika melihat ikan yang besar, ingin rasanya berteriak memanggil suamiku diujung sana yang hobinya mancing, ia pasti geram melihatnya. Tapi, aku berenang menghindar ketika melihat seekor ikan yang sangat panjang mirip ikan gergaji, ntah benar atau tidak itu adalah ikan yang sama, yang pasti aku agak kaget. Berenang menghindar dan menjauh, jauh sejauh-jauhnya hehehhehe.



Tak terasa letih sedikitpun ketika berkali-kali dan berjam-jam snorkeling, seperti mariyuana, rasa ingin selalu mengulang untuk merasakannya kembali. *benarkah mariyuana seperti itu?
Keletihan tak terasa sama sekali, kaki dan tangan ini seperti terbuat dari karet. Hingga sampailah ketika suamiku bilang, wajahku sudah mulai belang, dan matahari memang sudah berada diatas kepala, aku baru keluar dari laut. Wajarnya seorang wanita, takut semakin belang dan gosong, aku menyudahi kesenanganku melihat kedalaman laut.

Membawa anak-anakku membasuh diri di sumur yang sempat disinggahi biawak sebesar setengah badanku itu. Mandi diantara rimbunan pohon yang berjejer dibukit itu menyenangkan. Anak-anak yang tubuhnya terbalur air asin dan dihinggapi pasir kepalanya, bernyanyi-nyanyi selagi dibasuh. Menggosokkan sabun, menghilangkan kelengketan air laut, hingga wangi sabun dan shampo tertinggal ditubuh mereka. Mereka terlihat sangat segar setelah bermandikan air sumur.

Selesai mereka bersiap, ayahnya memesankan indomie di sebuah pondok untuk mereka makan. Giliranku, lalu suamiku yang membasuh diri dan bersiap-siap merapikan perlengkapan karena akan pulang hari itu juga. Selesai kubersiap, kulihat Hamdi telah bersantai di ayunan, sedangkan Ahza tertidur di ayunan bersandarkan tante devi. Tidurnya nyenyak sekali. Dan

Kami harus segera besiap-siap, sebab kapal akan berangkat pukul 4 sore, sedang tiket belum berada di tangan. Seluruh teman-teman yang ikut kemping mempersiapkan perlengkapan kemping, juga membongkar tenda yang kami tempati.








Persiapan telah selesai, kapal boatpun telah datang menjemput. Seluruh barang dinaikkan diatas kapal. Sekali lagi kupandangi pulau Rubiah yang akan kami tinggalkan, walau hanya semalam tapi puas begitu tepatri dihati ini, begitu juga keluargaku.

Beda dengan kedatangan kami di malam bulan purnama, kepulanganku disertai teriknya matahari yang sedikitpun tak ingin ku tergoda bersamanya. Begitu panas dan menyengat. Tapi diantara panas yang menuai keringat itu, sempatlah kami berfoto riang sambil memicingkan mata :)





Hamdi dan om Andi



Kapal boat sampai di Iboh yang memang tak jauh itu, masing-masing menurunkan barang sesanggupnya, kalau sanggupnya hanya mengangkat 1/2 kilo maka setengah kilolah yg diangkat, kalau ada yang sanggup mengangkat semua barang termasuk barang-barang kami, maka semoga Allah membalas kebaikannya kelak hehehhe...

Dua orang bujang yaitu Andi dan Kiki ditugaskan atau menugaskan diri membeli tiket kapal dengan mengendarai motor. Sebab mobil pickup yang harusnya menjemput kami menuju pulau Rubiah belum juga sampai. Maka, dari pada khawatir mendera kami, Andi dan Kiki maju sebagai pahlawan mengendarai motor yang dibawa oleh salah satu peserta kemping.

Kira-kira setengah jam berlalu, mobil pickup itu tiba ditempat kami menunggu. Kali ini giliran Hamdi yang tertidur, namun ketika hendak berangkat ia bangun dan minta duduk di bak terbuka. Diperjalanan yang memakan waktu 45 menit, aku tertidur-tidur ayam.

Sesampainya dipelabuhan, kami makan sejenak di warung makan dekat pelabuhan. Tapi setelah makan, ketika hendak membayar, betapa terkejutnya aku dengan harga yg dikatakan. Padahal lauk yang diambil rata-rata adalah telur. Yang saat itu makan sepertinya cuma 6 orang, tapi total harganya 140 ribu. Kalaupun harga nasi pakai telur semahal mahalnya 10 ribu, harusnya harganya berkisar 60 ribu. Luar biasa memang bapak warung itu. Jadi, untuk kedepannya aku harus berhati-hati ketika harus makan secara rombongan disana.

Kapal berangkat meninggalkan lovely Sabang island tercinta, menuju Banda Aceh. Selama dikapal, Hamdi dan Ahza asik dengan permainan mereka sendiri. Memesan milo dari kantin kapal, berlari-lari, saling bercerita, tertawa tanpa lelah. Sempat juga mereka diajak ayahnya ke deck kapal bagian belakang, untuk melihat laut yabg ditinggalkan, juga gulungan ombak yang dikejutkan oleh deru kapal.

Oya, dikapal itu kami bertemu dengan rombongan keluarga yang juga bersamaan dengan kami snorkeling di Rubiah. Bedanya, mereka menginap di Iboh. Lalu bedanya lagi, tak ada satupun dari nereka yang bisa snorkeling walaupun menggunakan pelampung. Padahal pelampung sudah mereka sewa, dan judulnya mereka itu ya memang mau snorkeling, tapi si oom yang mengajak rombongan itupun tak ada nyali untuk mencoba snorkeling. Sehingga, terbantulah mereka oleh beberapa orang bujang dari kami yang mau mengajari dan membantu memegangi mereka untuk snorkeling ke tengah. Tapi ada seorang wanita, yang kira-kira umurnya diatas aku sedikit. Begitu semangat ingin mencoba, tapi selalu ketakutan, apalagi setelah sadar berada ditengah, langsung minta kembali lagi ke pinggir.

Kapal cepatpun sampai di pelabuhan Uleuleu, Banda Aceh. Letih, dan kaki yang mulai mendenyut sudah mulai terasa. Tenyata, rasa pegal dan capek baru terasa setelah lama kami beristirahat ketika sambil menunggu mobil pickup kedua yang akan memboyong kami kerumah masing-masing. Subhanallah, sakit seluruh tubuhku layaknya seperti berenang selama seminggu tanpa henti. Walau ini terlalu hiperbola, kira-kira seperti itulah lelah, letih, pegal, capek, dan, cenat cenut diseluruh kaki yang kurasakan.

Ahza sepertinya masih gamang, dan tidak sadar berada dimana. Berhubung mobil pickup yang kami naiki di Sabang dengan mobil Pickup yang kami naiki di Banda Aceh sangat mirip, maka iapun bertanya:

"Ma, oom yang nyetir tadi mana? Kok ini ayah yang nyetir". Tanyanya.

Setelah menyinggahi kediaman Andi cs, aku dan keluarga diantar sampai kerumah oleh bujang Andi dan Bujang Topan. Tak lagi berpikir panjang, langsung kurebahkan badanku didepan televisi. Alhamdulillah, nikmatnya meregangkan tubuh. Tak kusangka dan tak kuduga, ternyata lelah itu akan terasa jauh setelah aku keluar dari laut dan berhenti melakukan aktifitas snorkeling. Suamiku yang baik hati itu, membuatkanku air madu hangat untuk kuminum. Semalaman aku beristirahat ditempat tidur, tertidur, dan mungkin sambil mendengkur kelelahan.

Esok paginya, pegal tubuh yang kurasa sudah berkurang. Hanya tinggal sisa-sisa sedikit yang menempal di beberapa sendi. Tapi ternyata, setelah kulewati hari itu dengan sabar dan bergembira ria ala diriku sendiri, tubuhku justru jadi lebih segar. Mungkin ini karena proses olah raga renang yang kulakukan, maka khasiatnya akan terasa setelah melewati 3 fase. Yaitu, fase renang tanpa henti dan tanpa lelah, lalu fase istirahat dengan merasakan ngilu disekujur tubuh, terakhir adalah fase segar bugar. *Maap teori ini tak dikutip oleh pakar, harap maklum

Semalam di pulau Rubiah, sungguh benar-benar terpuaskan.
Published with Blogger-droid v1.6.9

Kemping di Pulau Rubiah (dua)

Kapal boat yang ditunggu-tunggu sampai juga, haripun gelap sudah. Dua kurcaci yang asyik berwara-wiri dipinggiran laut dikala senja tadipun sudah menggigil kedinginan. Hanya ada sebuah baju ganti, tanpa celana. Sebab, segala bekal pakaian ganti telah di bawa serta ayahnya yang sudah duluan berangkat.

Bermalam terang dibawah bulan purnama, kami mengarungi laut bersama kapal boat menuju pulau Rubiah. Indah dan senyap, hanya ada suara mesin boat dan air yg bergelombang kencang setelah diterjang boat yang kami naiki. Tak lama, kapal boat bergerak pelan, kata pak supir ada yang sedang menyelam dibawah air.
"Kok bapak tau ada orang dibawah?" Tanyaku
"Ada cahaya dibawah sana, klo diperhatikan pasti keliatan cahayanya" kata pak supir.
Benar memang, ada cahaya yang terpancar dari kedalaman air di sekitaran kami. Kata pak supir, mereka sedang mengincar ikan-ikan malam. Ada ikan yang hanya keluar pada malam hari. Biasanya ikan tersebut tidur jika pagi telah berkunjung. Maka para diver juga penasaran ingin melihat kecantikan para ikan malam. Ikan malam, sama gak dengan wanita malam? Jangan-jangan para diver yang melihat adalah lelaki buaya Hehehe *kiddoo



Semenjak mesin boat dimatikan, suasana malam di lautan itu semakin begitu terasa laut. Udaranya, pantulan cahaya bulannya, gemerisik airnya, dan kegelapannya. Tak jauh dari ujung mata, terlihatlah pulau yang kami tuju. Pulau itu gelap dengan penerangan seadanya. Kabarnya pulau itu memang belum dipasok listrik, hanya berbekal genset pada malam hari, para pemilik dan pengelola cottage menyalurkannya untuk menerangi cottage mereka. Kami melihat cahaya lain, yaitu cahaya api-api kecil yang berpencar dibeberapa titik. Sepertinya itu adalah cahaya yang berasal dari perkemahan kami.

Kapal boat mulai menepi, beberapa laki-laki yang kukenal sebagai suamiku dan teman-temannya menyambut kami, membantu menurunkan anak-anak dan barang bawaan kami. Dua kurcaciku super heboh ketika melihat sang ayah. Dengan semangat menggebu, berlari menuju tenda yang sudah berdiri. Ketika berjalan di setapak jalan, suamiku bilang kalau cottagenya penuh semua.

"Hah? Jadi kami gimana dong? Tendanya cuma satukan?" Tanyaku kaget.
"Iya, tapi gak papa. Tendanya gede dan banyak kamar-kamar. Pida bisa disitu sama anak-anak" Kata suamiku.
Hmmm... Aku sendiri sebenarnya suka sangat dengan kemping di tenda, yang aku khawatirkan Hamdi jatuh sakit, karena pada hari rabunya ia akan ujian di TPQ sekolahnya. Tapi menurutku, bocah-bocahku ini sepertinya petualang hebat. Takkan lemah walau tidur di tenda.

Sesampai ditenda, aku mengajak dua kurcaci untuk mandi. Tempat mandi jangan dibayangkan seperti kamar mandi di kota. Sejelek-jeleknya kamar mandi di kota, tetap ada bak/ember yang terisi air didalamnya. Jarak antara tenda dan sumur berkisar 16 meter. Gelap gulita berteman senter ditangan menjalani tapak jalan yang terbuat dari susunan bata yang disemen. Bahkan suara jangkrik, dan beberapa binatang yang dikenalpun terdengar lebih romantis disana. Hamdi dan daya khayalnya yang tinggi memegang senter sambil berkata:

"Ma, mungkin ada sesuatu disana. Hamdi liat ada yang bergerak-gerak. Oh, mungkin sebuah makhluk besar. Jangan-jangan dia lagi liatin kita, Ma".

Aku cuma bisa hmmmm hmmm hmmmn saja. Sudah kubayangkan, suasana begini akan menerbangkannya pada dunia lain hehehehe...

Sumur itu sangat besar, suamiku yang menawarkan diri menimbakan untuk kami. Ya iyalah, diakan laki-laki baik, jadi harus bersikap baik pada istrinya yang manis sangat. Ember diisi penuh oleh air. Airnya dingin, karena terpengaruh oleh kehijauan hutan dan dinginnya malam. Anak-anak riang serasa sedang kemping *lah memang sedang apa?
Mandi diantara pohon yang berjejer di bukit kecil, suara berbagai hewan di kelam malam, dan ditemani seekor biawak sebesar setengah badanku (baru disadari esok paginya, ternyata ada seekor biawak disamping sumur). Kurasa dan kufikir, biawak itupun sedang termangu melihat keadaan ganjil diluar kebiasaan dimalam buta.

Selesai mandi, Hamdi dan Ahza bermain sejenak sebelum akhirnya tertidur lelap di bawah keremangan langit malam, bersandarkan rumput dengan pandangan kearah langit berbintang. Beberapa pelakon musikal memainkan lagunya bersama sebuah gitar apik dengan suara yang ntah bisa dikategorikan bagus atau hanya sekedar pas-pasan. Ntahlah, hanya kami dan Allah yang tau.

Tapi sebelum kelelapan tadi, kami para pendatang baru di dunia perkemahan, disuguhi ayam bakar yang dibakar ramai-ramai oleh para suhu kemping. Ayamnya maknyus, hibahan dari calon istri seorang teman yang tak dapat ikut serta kemping bersama kami. Ayam sudah diungkep sejak di banda, dan tinggal dibakar di pulau Rubiah. Aku suka sekali sayap, atau daging ayam yang dekat-dekat tulang. Kupilih-pilih dimana letak sayap itu. Kutemukanlah sang sayap yang diincar, tapi dengan warna yang aneh. Segelap-gelapnya malam itu ternyata masih terlihat juga warna gelap si sayap alias gosong. Ntah siapa biang keladi kokinya, tapi sayap tetap kuambil. Siapa tau hanya gosong diluar tapi maknyus didalam. Alhamdulillah, syukur pada Ilahi kupanjatkan, si sayap tak jadi gagal di lidah. Rasa dagingnya masih maknyus. Bahkan tercipta cita rasa baru, antara rasa pahit dan gurihnya bumbu ungkep.

Anak-anak yang sudah kenyang, senang, riang, akhirnya menjadi tenang. Tertidur dibawah rembulan malam, ditemani rumputan hijau, suara jangkrik dan deburan ombak. Kami mengangkat mereka masuk kedalam tenda.

Hampir mereka semua telah tertidur. Akupun sudah mengantuk. Tapi sayang rasanya melewatkan romantisme pantai tanpa dilalui dengan duduk berdua di pinggir pantai, sambil menatap bulan yang sedang ceria. Aku dan suami duduk di depan pantai, bersandar dipundak abangda, layaknya filem-filem india. Tapi sayang, kami tak pandai bernyanyi. Jika saja bisa, sudah pasti kami akan bernyanyi sambil berlari-larian kecil diantara pepohonan di pinggir pantai. *harap pembaca tak protes.

Romantisme pantai diakhiri dengan kantuk. Kami kembali kedalam tenda. Aku dan anak-anakku berada satu kamar. Suamiku bergabung dengan teman-temannya.

****
Shubuh telah menyapa, terbukti dari alarm yang terdengar dari tabletku. Kuberanjak keluar, kudapati Hamdi telah berada disamping ayahnya, tertidur didekat pintu keluar. Aku ingat tadi malam ia protes kepanasan, akhirnya buka baju dan tidur diluar. Suamiku bangun, menemaniku ke sumur. Tak lama, rimbunan warna indah yang dikenal dengan fajar menyingsing menampakkan dirinya, disertai dengan munculnya cahaya mentari yang sedikit malu-malu di ujung laut. Saat itu Hamdi dan Ahza telah bangun dari mimpinya yang ntah itu indah atau tidak. Mereka berjalan kearah pantai sambil membawa sekotak besar cococrunch sebagai pengganjal perut dikala pagi.

Hamdi mulai tak sabar lagi bermain dengan laut





Tak ketinggalan Ahza mulai beraksi



Akupun tak sabar ingin segera bermadu kasih dengan dinginnya air laut pagi itu. Maka aku segera ke tenda, berganti baju, mengambil kacamata dan alat bantu nafas untuk snorkeling. Tadinya suami agak khawatir, karena aku tak pakai pelampung, ditakutkan kalau keram ditengah-tengah. Tapi kusabar-sabarkan hatinya, kuberikan sedikit wejangan dan ketabahan hati atas niat kuatku ini. *kayak mau ngelepasin istri berjuang ke medan perang kekekeke
Ya sebenarnya, olah raga yang paling aku suka adalah renang, kalau saat itu aku pakai pelampung, berarti aku sedang tidak berolah raga. Lagipula, ada kacamata snorkeling, tak perlu khawatir mata pedih ketika renang.

Hamdi mengambil pelampungnya sendiri, yang memang sudah kubawa dari rumah. Pelampung itu bukan pelapung plastik, tapi pelampung berstandard internasional. Memang sudah lama kubeli, karena sering mengajak mereka berenang, atau kelaut. Jadi tak perlu khawatir jika si anak terlalu ke tengah, pelampung takkan bocor karena pelampung tidak diisi angin.

Ahza sendiri sementara harus sabar dengan pelampung yang disewa, yang ukurannya untuk orang dewasa. Ahza pandai menggunakannya, ia membentangkan pelampung itu lalu telungkup diatas, dan tetap mengapung di laut. Ahza tak takut kedalaman, tapi tetap harus kami perhatikan, ditakutkan ia meluncur kebawah.

Rasa lapar dipagi hari mendera, mengingat kami belum lagi sarapan. Kamipun kembali ketenda. Para bujangan sedang sibuk memasak air dan bubur. Dengan sabar kami menunggu koki yang sedang memasak bubur. Walau akhirnya, aku tetap makan indomie, sedang Ahza memilih bubur. Sebenarnya, bubur dan nasi pagi itu agak berbeda. Bubur kacang ijo yang telah lama dinanti kematangannya, ternyata harus sedikit gosong, sedangkan nasi yang dimasak sejak malam tadi memang sudah terdengar beritanya kalau nasi itu yang akan menjadi bubur alias lembek hehehehe...

Perut telah terisi, Ahza tak sabar ingin kembali ke laut. Kulihat ia memilih-milih peralatan snorkeling yang tergeletak di rerumputan. Aku, suami, dan Hamdi beranjak duluan nenuju ayunan didekat pantai. Menunggu kemunculan ahza yang tak kusangka-sangka akan seperti ini:



ia berjalan dari tenda membawa pelatan ini, berapa kalipun kulihat gambar ini, aku masih tersenyum lucu melihat tingkahnya yang percaya diri ingin snorkeling.



Berenanglah kami kelaut, tenyata Ahza pandai bernafas dengan alat itu. Ahza dan Hamdi bergantian pelampung untuk melihat ikan di kedalaman laut, sebab pelampung yang dipakai Ahza terlalu besar. Awalnya Hamdi masih takut menundukkan kepalanya ke dalam air, karena sungguh sangat dalam. Tapi ayahnya membujuk dengan mengatakan banyak sekali ikan cantik di bawah sana. Akhirnya Hamdi ketagihan melihat terus.

(bersambung)
Published with Blogger-droid v1.6.9

Senin, 23 Mei 2011

Kemping di Pulau Rubiah (satu)

Ini adalah kali ketiga kami menginjakkan kaki di sabang. Pertama kali diajak oleh teman yang sudah berkeluarga beserta rombongan. Menginap di sebuah cottage bernama Tuna cafe, disebelahnya adalah cottage terkenal bernama sumur tiga. Jauh lebih mahal, karena memang lebih bagus.

Kunjungan pertama,kami habiskan dengan melihat-lihat hampir seluruh kota sabang, disempatkan juga berkunjung ke pulau rubiah, tapi tidak menginap.

Kunjungan kedua, adalah ketika orang tua datang dari medan, langsung diajak ke kota sabang. Menginap ditempat berbeda, perjalananpun sama dengan yang pertama.

Perjalanan ke tiga yang sedikit berbeda, kali ini kami hanya akan menginap di pulau Rubiah. Temanya adalah kemping. Tapi direncanakan, aku dan anak-anak menginap di cottage. Perjalanan ke pulau Rubiah dibagi 3 kali rombongan. Rombongan pertama berangkat pada hari minggu, tanggal 15 mei 2011, mereka itu adalah rombongan suamiku dan teman-temannya. Rombongan kedua berangkat sore, yaitu dua temannya yang lain. Rombongan ketiga adalah aku, dua kurcaciku, dan seorang teman (devi), yang berangkat pada senin sore setelah Hamdi pulang sekolah. Waktu itu tak bisa ijin, karena Hamdi sedang ujian.

Berangkatlah kami berempat dari rumah dengan becak mesin, si abang becak sangat santai jalannya. Tak sadar dengan hati kami yang was was jika ketinggalan kapal. Tapi ada yang sangat senang dengan laju becak sifut itu, Hamdi dan Ahza suka cita dengan laju becak yang rasanya lebih lambat dari orang berlari

Sampai juga ke pelabuhan, tanpa telat. Becak berhenti tepat didepan penjual koran. Hamdi yg punya hobi baca luar biasa, langsung minta dibelikan koran. Tapi, berhubung ahza sedang tidur di gendonganku, dan susah untuk membuka tas, aku katakan agar beli korannya ditunda dulu.

Kami membeli 3 buah tiket seharga @ Rp 55.000, lalu menuju kantin untuk makan siang yang memang sudah telat sangat. Hanya ada mie disana, tak ada nasi dan jenis lain. Mie yang kami pesan ternyata sangat pedas untuk selera Hamdi. Si penjual memberikan gula pada Hamdi, agar mie nya tak lagi pedas, tapi yang ada itu mie malah berasa aneh. Dasarnya Hamdi, segala upaya telah dicoba agar mie nya enak, tapi tetap tak dapat dimakan.

Kami akhirnya menaiki kapal. Mencari tempat duduk di dekat jendela, agar anak-anak bisa melihat laut. Benar saja, mereka luar biasa senang diatas kapal. Berbeda dengan seorang anak di belakang yang menangis terus selama perjalanan, kedua kurcaciku malah tertawa dan bercerita terus. Yaah... ributnya kurang lebih samalah dengan yang nangis.

Ini adalah Hamdi, Ahza, dan Tante Devi






Berbagai aksi Hamdi dan Ahza melihat laut







Menit-menit ketika kapal akan sampai, Hamdi selalu bertanya pada tante Devi "berapa menit lagi, Tan?" atau "Berapa detik lagi, Tan?"

Sampai juga kami di lovely Sabang island. Dijemput oleh sebuah mobil pickup, dengan bak terbuka dibelakang. Hamdi dan Ahza memilih duduk di bak belakang ditemani oleh seorang om yang menjemput, sedang aku dan Devi duduk di depan.

Terlihat dari kaca, betapa senangnya anak-anakku itu. Di perjalanan menuju Iboh, kami melewati daerah pepohonan/hutan. Banyak sekali monyet yang berkeliaran di pinggir jalan. Kulihat Hamdi dan Ahza amat sangat antusias dengan tingkah para monyet.

Lalu sampailah kami di Iboh ketika hampir magrib. Menunggu boat penyebrang yang katanya datang setelah magrib. Di sela-sela penantian kami, kebiasaan Ahza yang kapanpun dan dimanapun kita berada selalu meminta jatahnya, yaitu buang air. Kali ini Ahza kebelet buang air besar. Agak jauh memang toiletnya, apalagi harus antri. Ahza tak sabar, dan tak tahan akhirnya harus berhajat didalam celana. Bingungnya aku, karena ternyata di dalam kamar mandi tak ada air. Air harus ditimba dari sebuah sumur, sedangkan sumurnya dipakai oleh beberpa lelaki untuk mandi di depan umum. Terpaksalah aku, dengan segala upaya menahan malu meminta tolong pada nereka untuk menimbakan air ke dalam ember. Tak banyak air yang diberikan, aku tetap harus mengantri mereka mandi, agar bisa menimba sendiri. Lucunya, adalah ahza seorang anak manis selalu bernyanyi dan menari ditengah kegalauan ibunya mencari air, tanpa ada rasa terbebani. Begitulah memang kalau anak kecil, walau daerah itu tidak nyaman, mereka selalu punya cara untuk bergembira.

Akhirnya aku mendapatkan giliran untuk menimba air disumur, lalu dapat dengan nyata dan total membersihkan ahza dan celananya dengan sabun sebersih-bersihnya.

Kapal boat penyebrang yang kami tunggu sangat lama datangnya. Haripun belum lagi magrib, namun sudah tampak lembayung senja di sudut laut terpandang. Hamdi dan Ahzapun tak kuasa menahan hasrat untuk bermandikan pinggiran laut dan permain pasir ditengah suasana senja yang romantis. Lihatlah mereka yang mencoba bermain air dibawah sampan.






Magribpun sudah terlewati, kapal boatpun akhirnya siap untuk berangkat menuju pulau Rubiah.
(bersambung)
Published with Blogger-droid v1.6.9

Jumat, 20 Mei 2011

Pemandangan Menakjubkan di Ujung Pantai Lampuuk


Kira-kira seminggu yang lalu kami sekeluarga berencana kemping ke pulau rubiah bersama teman-teman kantor sekaligus adik-adik angkatan suamiku. Tapi sekarang ini, aku bukan ingin menceritakan perjalanan selama di pulau rubiah, tapi perjalanan menakjubkan sepulang kami menanyakan jadwal keberangkatan kapal untuk esok harinya di pelabuhan Uleuleu.

Jadwal tiket sudah ditanyakan, dan masih banyak waktu untuk menghabiskan sore. Seketika aku teringat sebuah gambar yang di tweet melalui @iloveaceh. Adalah gambar sebuah bungalow yang menempel di bukit didaerah Lampuuk, salah satu daerah pantai terbaik dengan pasir putihnya di Banda Aceh. Jujur, foto tersebut tidak dalam kualitas tebaik, sepertinya diambil dari kamera hp biasa. Tapi aku penasaran view yang mungkin berada disekitar bungalow.

Kamis, 17 Februari 2011

IT WAS A FULL DAY WITH OM BRANDO

Kedatangan si Om

Ceritanya senin lalu, diawali dengan nimbrung di group chatting dota suamiku, ngasih komen a i u e o dengan adik - adikku itu, termasuk brando dan imam sambil nagih ajakan makan-makan sama si om yang suka ngaku-ngaku sebagai om paling keren pada ponakan-ponakannya. Nggak ding, bisa dikata ini perbuatan songong, nagih atas dasar pemaksaan xixixi.
Thanks to twitter, berkat nge twit bingungnya nyari huruf yang terbuat dari stainless steel atau kuningan, akhirya dapat jawaban dari bos brando dan juragan imam.





Selasa, 08 Februari 2011

LELAH YANG MENYENANGKAN

Aku suka hari ini. Dimulai saat subuh, aku dan kurcaci-kurcaciku bangun tepat waktu. Hamdi mandi di pagi buta, saat adzan baru terdengar. Memakai pakaiannya sendiri, dan ada satu hal yang aku suka di setiap pagi dingin sehabis mandi adalah aroma minyak kayu putih dan bedak bayi ditubuh anak-anaku. Setelah berpakaian lengkap Hamdi kusuruh sholat subuh. Kalo ada ayahnya, pasti dia langsung minta berimam. Setiap subuh klo bangun selalu kaget, sambil teriak
"Ayah mana? Udah sholat duluan? Ayaaaahhhh tungguu..."

ini Hamdi yang lagi sholat shubuh pagi tadi


Senin, 07 Februari 2011

Tulisanku di yellow cafe

Si abang sedang ada di medan untuk pelatihan. Jadilah seminggu ini aku menjadi single parent. Berpacu dengan waktu di awal hari. Bangun ketika subuh, yaaa walau hari ini jam subuh lewat dikitlaaah. Gimana nggak telat, jam empat aku dibangunkan sama sepupuku yang jadi operator, katanya koneksi internet bermasalah. Sebagai catatan ada 5 warnet yang memakai koneksi dari WM. Sehingga, kamipun harus stand by. Apalagi kali ini keluarga mawan yang merupakan partner usahaku dan juga tinggal di sebelah sedang cuti pulang kampung. Biasanya ada dua bos teknisi ahli yang diandalkan, dan sekarang hanya ada aku sendiri di sana.
Kelimpungan tentunya, secara notebookku memakai Os linux. Tak tau dimana harus ku cari menu 'run' . Ya gini deh.... Kalo emak-emak sok hi-tech.
Akhirnya aku menyambangi 'g talk' suami yang aku lihat masih available. Eh, tapi koneksi internetnya mati, kok bisa 'g talk' an sihh.
Nah, untungnya aku punya 'galaxy tab' dengat paket internet unlimited. Asik juga, klo ada masalah kerjaan kayak gini, jadi bisa menghemat pulsa. Gak perlu nelpon ke luar kota. Paket internetnyapun murah.
Ditegur sekali, dua kali, tiga kali... Si abang belum bangun. Akhirnya pake cara lawas... Miss call dulu deh.
Bener aja, setelah di miss call, muncul jawaban diujung sana. Dengan di pandu suami, aku ngecek koneksi. Dan baru ku tau bahwa menu "run" di linux itu dinamai "terminal".
Tapi, biarpun dipandu, akhirnya si abang sendiri yang turun tangan untuk ngeliat proxy dan squid dll. Akhirnya, masalahpun terselesaikan. Kenapa nggak dari tadi aja gitu ya dia yang masuk untuk ngeliat masalah koneksinya. Setelah koneksi terselesaikan, aku melanjutkan tidurku sambil berharap semoga aja bangun nya nggak telat.
Ternyata, walau bangun sedikit telat, tapi hamdi tidak telat sekolahnya. Bahkan masih sisa banyak menit. Masih bisa sarapan dengan santai, dan gak perlu ngebut di jalanan. Awal yang baik untuk memulai hari.

Sepulang dari mengantar hamdi, aku dan ahza mampir ke mama cafe untuk sarapan.




Ahza gemar sekali makan lontong dan bubur. Apalagi kalo sambil difoto, makannya makin lahap. Hmmm.. Bocah ini sangat narsis memang.
Setelah acara makan selesai, selalu di setiap tempat ahza tak lupa memberi absen untuk pergi ke kamar mandi, sejelek apapun kamar mandi itu. Ntah kenapa, kurcaci satu ini suka sekali dengan kamar mandi. Kalo ada kamar mandi yang dia suka, dia akan bilang begini:
"Ma, kapan-kapan kita beli kamar mandi kayak gini ya ma."
ya ya... Ah memang suka sekali dengan kamar mandi yang bersih dan ada keramiknya. Soalnya dirumah kami yang tak lain adalah ruko, lantai duanya (tempat kami tinggal) nggak dikeramik sama yang punya toko.
Hmmmm.... Sabar ya nak. Mama sama ayah ngumpulin uang dulu. Trus nanti pasti beliin kamar mandi yang bagus buat ahza.

Sebelum pulang, kami foto-foto dulu di mobil, karna emaknyapun tak kalah narsiz.






sampai dirumah, ahza langsung kusuruh mandi. Dan biasanya ahza mandinya lamaaaa banget. Bisa sampe satu jam gitu.

Inilah salah satu cara ahza mandi yang bikin lama itu



Sambil nungguin ahza mandi, aku beres-beres kamarku. Sangking lamNya ahza mandi, matapun menyerah dan tertidur beberapa saat.

Puas bermain air, ahza kubalut dengan pakaian sekolah yang manis dan jilbab mungilnya.

Inilah ahza disekolah



perjalananku sebenarnya belum berakhir. Karena aku berada di yellow cafe sambil mengetik cerita ini. Dan sekarang sudah tiba waktuku menjemput dua kurcaciku.
Selamat siang semuanya.... Happy monday ;-)



Published with Blogger-droid v1.6.7

Minggu, 06 Februari 2011

Anak Di antara Dunia Online 24 Jam (Hamdi) - How to prepare?


Sudah lama tak berbagi cerita panjang tentang tingkah polah dua kurcaciku.Baru-baru ini aku mendapatkan sebuah tulisan yang disadur dari pengalamannya setelah mengikuti sebuah seminar dengan pembicara:Bu Elly Risman. (baca disini).
Menurutku setiap orang tua wajib baca ini. Kenapa? karena saya melihatnya selalu. Melihat ketika game online membuat anak lupa bersikap jujur dan lain sebagainya.(tapi bukan anakku)

Yang pertama, karena aku sendiri bergerak dibidang usaha itu, warnet dan game online. Aku mengendalikan dua buah warnet dan satu buah game online secara langsung.

Kedua, Aku juga mempunyai anak laki-laki yang pada dasarnya mempunyai minat yang sama terhadap game, dan lagi dirumahku internet online 24 jam bisa di akses dari mana dia suka (wifi atau pc).

Ketiga, Aku juga melihat lalu lintas karakter pelanggan yang sudah kecanduan game (mungkin tidak hanya pelanggan tapi juga operatornya).

Tapi, saya punya peraturan!

Aku pernah membaca sebuah artikel di www.wolipop.com, tentang empat saran yang tidak boleh diikuti otang tua. Salah satunya "Jadikan anak sebagai teman". --> ternyata ini adalah saran yang keliru. Menurut Ellen, "Ketika Anda menjadi teman untuk anak Anda, ini akan melemahkan otoritas dan membuat kedudukan Anda menjadi tingkat sosial yang sama dengan sang anak. Orang tua seharusnya menjadi figur yang bertanggung jawab dan dapat diandalkan. Orangtua juga harus berperan sebagai 'role model' bagi anak-anaknya," (baca disini)

Maka aku membuat sebuah otoritas yang memang sudah dikompromikan dengan Hamdi, salah satunya tentang 'waktu' bermain game. dan Game apa saja yang boleh dan tidak boleh.


Hamdi hanya mempunyai kesempatan pada saat weekend (sabtu sepulang sekolah dan minggu) untuk bermain game. Disini dia boleh memilih bermain dengan gadget apa (PS, Notebook, PC, sekarang galaxy tab ku). You may choose one, dengan catatan Tidak ada game online dihari lain. Kecuali game di galaxy tab yang sebenarnya hanya game hp, semua gadget terlarang untuk di sentuh. mengapa aku tidak bisa konsisten terhadap game yg ada di galaxy tab?

Karena, setelah pulang sekolah, kedua anakku selalu ikut kemanapun aku pergi. Ada dua hal yang tidak membuat Hamdi bosan ; membaca dan game.  Sedangkan aku selalu membawa G tab. Tapi dia sadar betul bahwa, walaupun hanya game di G tab, dia tidak bisa memaksa kalau tidak aku ijinkan. Jadi aku lihat kondisi, kalau memang keadaan sudah terlalu membosankan untuk dia, aku perbolehkan dia mengotak-atik G tab ku. Tapi tetap, otoritas ada padaku atau ayahnya (untuk game hp memang tidak ada peraturan baku, semua tergantung dari ijinku).

Beda halnya ketika weekend tiba. Hamdi berhak memilih. Seandainya di hari itu kami ingin keluar, undangan, atau hanya sekedar berbelanja, hamdi punya hak untuk memilih ikut atau tidak. Namun seringnya dia lebih memilih ikut kami ketimbang tinggal. Jadilah waktu untuk dia main game berkurang lagi. Tapi itu tidak selalu, terkadang ia juga memilih tinggal. Yang pasti, dia sudah harus membuat keputusan yang tepat untuk dirinya sendiri.

Nah, dengan peraturan seperti ini, Hamdi tidak pernah berhenti (menghentikan langkahnya) untuk masuk ke salah satu room PC untuk bermain game ketika pulang sekolah, yang mana kalo mau masuk kerumah (toko) harus melewati deretan PC PC yang bisa saja mempengaruhi dirinya untuk berhenti disana. Tapi tidak, dia tidak pernah memintanya. Dalam hal ini aku berikan apresiasi yang luar biasa. Bayangkan dia bisa meredam keinginan bermain game selama seminggu, sedangkan dirumahnya ada  20? 35? oww 47 PC yang siap disentuh tangannya walau hanya sekedar bermain game facebook. Berada di lingkungan yang always online, gadget lengkap, dan orang-orang yang hi-tech merupakan sebuah tantangan untuk hamdi. Ini bagaikan menahan lapar dan haus ketika puasa. Oh ya aku lupa, hamdi sudah mampu berpuasa hampir penuh di umur 5 tahun, dan penuh di umur 6 tahun. Dia layak mendapatkan banyak ciuman untuk konsistensinya menahan diri.

Beda halnya kalau sudah sabtu pagi, Bangun pagi, dia akan antusias berkata:

"Ma, pulang sekolah hamdi mo langsung main game. Jadi pas pulang sekolah, Hamdi maunya mama udah ada di gerbang".


Dalam hal pemilihan Game, setelah membaca artikel itu, kami membuat sebuah perjanjian baru. Perjanjian untuk game-game mana aja yang boleh hamdi mainkan, dan game mana aja yang tidak boleh. Dasarnya apa? Aku tanya dia tentang game itu.

"Diantara semua game onlie yang pernah hamdi mainkan, ada gak game yang ada perempuan gak pake baju atau bajunya gak nutup aurat?"

"Ada, tapi bukan dalam game. gambarnya muncul disamping-sampingnya mungkin (maksudnya Ads), tapi bukan telanjang, cuman pakaiannya sikit".

"Oke yang itu gak boleh dimainkan lagi".

"Berarti Point Blank gak boleh ya ma?

"Kenapa gak boleh?" Karena setauku aman-aman aja.

"Kan terorisnya ada yang perempuan, pakaian perempuannya kayak singlet kecil, trus celananya pendek"

Oke, disini aku bingung. Sebab, klo aku liat, secara umum PB itu aman asal jangan sampe kecanduan. jadi aku jawab:

"Hamdi jangan pilih terorisnya yang perempuan. Kalo ketemu, langsung pergi". Karena kan pasti banyak tuh pemainnya, Jadi belum tentu selalu ketemu teroris yang perempuan."

Diantara semua game online, hanya game PB dan warcraft yang aku tau. oya... game facebook, dan game-game kecil dari situs game online.

Mengapa setelah membaca artikel itu aku tidak langsung melarang Hamdi main Game 'sama sekali'?

Menurutku, anak-anak punya hak untuk bersenang-senang. Dengan kita memberikan haknya sesuai dengan disiplin waktu dan aturan yang kita tetapkan itu, si anak akan lebih menghargai kewajibannya. Contoh: Aku TIDAK memasukkan anak anakku ke les pelajaran apapun. Dengan pemikiran bahwa, Mereka sudah mempunyai waktu belajar yang cukup selama disekolah (Hamdi sekolah mulai jam 8 pagi s/d 12 siang) --> sudah digabung pelajaran umum, agama, dan Iqro' didalamnya. Yang mana pelajaran agama itu terdiri dari: Bahasa arab, aqidah akhlak, fiqih, Qur'an hadist. Semua sudah terangkum di sekolahnya. Tugasku adalah mendampinginya ketika ada PR atau hanya sekedar sedikit mengulang pelajaran.  Sepulang sekolah adalah waktunya hamdi tidur siang atau main bersama teman. Saat itu kalau hamdi tidak mau tidur siang, biasanya dia milih ngerjain PR dulu (kalau ada), jadi sorenya bisa puas main. sedangkan malamnya puas baca buku (selain pelajaran). ---> oya, dirumahku juga ada ribuan komik, novel, dan buku cerita. (uUntuk note selanjutnya aku akan mencoba sharing bagaimana agar anak dapat memilih komik yang layak dia baca atau tidak). Walau sebenarnya tidak ada komik dewasa dalam koleksiku, tapi dalam kebanyakan komik remaja tetap ada beberapa gambar laki-laki dan perempuan yang berdekatan. --->disini hamdi juga sudah mampu memilih.

Sepulang sekolah aku perbolehkan hamdi membaca komik kalau memang tidak ada PR. 
Kok longggar sekali peraturannya?

Karena aku tidak mau mendengar dia main-main ketika sedang belajar disekolah, atau pekerjaan sekolahnya tidak selesai. Nah, untuk yang ini aku juga menggunakan otoritasku. Disekolah adalah kewajiban dia mengikuti peraturan sekolah dan peraturanku;
"PEKERJAAN SEKOLAH DISELESAIKAN DISEKOLAH". Jika dia lalai? dan pekerjaan sekolahnya tidak selesai karena dia sibuk main dengan teman sekelas? Sebagai gantinya, dia tidak dapat menyentuh game di hari sabtu (ini adalah konsekuensi yang ditawarkannya alias dia sendiri yg menentukan bentuk konsekuensinya di awal perjanjian).
Tapi jika dia berhasil apalagi medapat nilai bagus, nlai-nilai itu akan dikumpulkan sebagai poin (1 kali 100 =1 point, 6 poin akan dapat hadiah kejutan). Tapi bukan berarti dia dihukum kalau tidak mendapatkan nilai 100. Jadi kewajiban dia disini hanya berusaha sebaik mungkin menyelesaikan tugas sekolahnya. Kalaupun dia dapat 100, itu adalah hadiah darinya untukku, maka wajar bagiku memberikan dia hadiah juga.

ADA KEWAJIBAN ADA HAK

Jika kewajiban itu dilanggar, maka ada konsekuensinya.

Walau sangat sangat jarang sekali, terutama belakangan ini, tapi kalau memang ada pelajaran sekolah yang tidak diselesaikannya disekolah, ayahnya akan bertanya ke hamdi:

"Hamdi ayah mau tanya, Apakah mama nyuruh hamdi belajar sepulang sekolah kecuali ada PR?"

"Nggak yah" jawab Hamdi

"Apa mama nyuruh hamdi les pelajaran banyak-banyak pulang sekolah sampe-sampe hamdi gak punya waktu main?"

"Nggak yah"

"Apa mama ngelarang hamdi main-main sama teman kalo sore?"

"Nggak yah"

"Apa mama ngelarang hamdi baca komik kalo mama liat hamdi baca komik?"

Nggak yah

"Jadi, Gunakan waktu belajar hamdi disekolah untuk belajar. Waktu istirat baru main sama teman. Karena selama mama ngasih hamdi hak untuk menghabiskan waktu hamdi dengan baca komik, buku, main, dan nggak nyuruh hamdi les macam-macam, maka selama itu Hamdi harus menghargai keinginan mama supaya hamdi serius belajarnya di sekolah."

CAtatan: Jika ingin memberikan kewajiban terhadap anak, maka cukupkan juga hak nya.
Bermain Game Online, perlu otoritas orang tua didalamnya.

Dengan semua hak dan kewajiban yang kami sepakati, HAmdi bisa melakukannya dengan baik. 
Khilaf itu biasa, apalagi untuk seorang anak. Kita aja bisa khilaf apalagi anak-anak. Tapi berusahalah untuk tetap KONSISTEN.


BAhkan untuk warung Game yang aku kelola sendiri ada beberapa peraturan:
1. Anak sekolah dilarang masuk sebelum pukul 13 siang, apapun alasannya.
2. Pada saat Sholat Jumat, semua harus keluar.
3. Magrib tutup
Jika melanggar , maka opertornya dikenakan sanksi bahkan diberhentikan.

Contoh lain: salah seorang pelanggan game online (siswa SMP) selalu diantar dan dijemput kedua orang tuanya ke wargame. NAh disini, aku salut meihat orang tuanya, memberikan anaknya bermain tapi tetap dengan mengontrolnya.
Berbeda lagi dengan seorang ibu dan bapak di waktu berbeda tiba-tiba datang, lalu menyeret dan menampar anaknya didepan orang ramai, lalu membentak operator yang sedang jaga.
Saya jadi bisa mengerti 'bahwa anak yang begitu" karena "orang tua yang begitu".
Satu hal yang sebenarnya perlu diketahui oleh para orang tua, Kewajiban Game online untuk menutup diri adalah pada jam sekolah, selebihnya pada saat sholat jumat dan magrib. Setelah pulang sekolah, itu adalah kewajiban orang tua yang memberi pengertian ke anak untuk memberi batasan waktu terhadap anaknya untuk bermain game.
Sekali lagi: ketika ingin menuntut kewajiban anak, maka berikan hak yang pantas untuk mereka.
Dan tetap KITA sebagai orang tua sebagai pemegang OTORITAS.

Jika Hamdi yang dikelilingi oleh gadget lengkap, dunia online 24 jam, beserta fasilitas lainnya saja mampu menahan diri dan mengikuti saran serta otoritas orang tuanya, maka aku yakin semua anak dapat melakukan hal yang sama dengan dukungan orang tua. 

Tapi ingat OTORITAS tidak sama dengan OTORITER.

Senin, 31 Januari 2011

Runi (Judul novel masih belum pas)

Kelahiran

Ia memeluk bayinya yang merah, menghangatkannya dengan cinta. Melekatkan kulit tipis itu pada kulitnya yang hangat, meredam tangis si mungil yang baru saja memekik menuju lelap yang begitu damai. Runi bersemu merah atas pertemuan pertamanya dengan sang putra. Memandang Halim yang baru saja berkeringat peluh melihat istrinya menghabiskan seluruh tenaganya dalam proses kelahiran putra mereka, seolah-olah ialah yang kala itu merasakan sakitnya. Tapi kekhawatiran itu sirna ketika Halim menggandeng putra mugil itu, lalu meng-Adzan-kannya. Mereka tak berkata apa-apa hanya tersenyum saling menoreh pandangan, yang dalam hati terdengar teriakan maha dasyat atas syukur mereka kepada Ilahi.

Putra itu bernamakan “Yusuf Aqil”, si Yusuf yang bijaksana. Ia tampan, walau tak setampan nabi Yusuf, dan semoga ia juga bijaksana sesuai namanya. Itulah yang diharapkan Runi dan Halim pada putranya. “Yusuf Aqil” adalah rangkaian nama pemberian tetangganya, sepasang suami istri separuh baya, dan telah terlalu menua untuk mendambakan seorang bayi hadir di kehidupan mereka. Suami istri ini sangat menyukai Runi, yang walaupun tak begitu cantik, namun senyumnya melebihi kecantikan bintang sinetron yang sering mereka berdua tonton di perjalanan sore hari, sambil menyantap gorengan atau kacang pemecah kesunyian yang mengerubungi hunian itu. Ketika Runi hamil, suami istri paruh baya ini tak letih menyambangi rumah Runi, menghujani perut buncitnya dengan dawaian ayat-ayat suci dari sebuah surah, yaitu “Yusuf”. Ntah mengapa suami-istri ini merasa yakin janin itu akan berjenis kelamin laki-laki, dan tampan jika ada yang selalu melantunkan surah “Yusuf” padanya.

“Kau tahu Runi, dulu, ketika ibu masih muda, seorang sahabat menyarankan ibu membaca surah Yusuf jika ibu hamil, tapi kebahagiaan ibu diberikan dalam bentuk berbeda. Dan rasanya pantas bagi ibu, menganjurkan hal yang sama pada Runi” Wanita paruh baya itu berkata, dengan senyum yang dewasa, penanda ia sudah menikmati bentuk lain dari kebahagian yang diberikan Allah padanya.
“Terima kasih, Bu. Runi senang Ibu mau menganggap Runi kerabat yang layak untuk dibagi cinta”. Jawab Runi terharu kala itu.

Runi dan Halim bukanlah sepasang suami istri yang kaya, tak pula miskin. Halim bekerja pada pemerintah dengan golongan 3A. Ia juga bukan lulusan terbaik di angkatannya, tapi ia dikenal cerdas, komunikatif, dan gampang bergaul. Runi sendiri hanya menamatkan D2 jurusan komputernya, lalu langsung menikah ketika ia baru saja menyelesaikan programnya. Tak ada yang menentang pernikahan mereka berdua, pernikahan sederhana yang mereka gelar berjalan baik, hubungan dengan mertua juga romantis. Walau orang tua mereka berdua sama-sama masih ada, tapi ekonomi orang tua masih butuh bantuan. Runi tak alpa mengirimkan uang setiap bulannya, sebagai penyenang hati orang tua dan .?mertua. Walau itu 'uang' yang kata orang “cinta tak diukur dengan rupiahmu”, tapi setidaknya bantuan itu yang masih bisa mereka berikan. Apalagi hunian halim dan runi berada jauh di luar kota, kota yang berjarak pandang tak terjangkau dari tempat dimana kedua orang tua mereka menghabiskan romantisme sepasang kakek dan nenek.

Selepas kehadiran Aqil yang menambah aktifitas mereka, mereka semakin menikmati hari-hari sibuk, kurang tidur, mata lelah, dan bingung karena Aqil menangis. Ke-ibu-an Runi luar biasa hebat, tak pernah bergumam lelah walau sebersit kata, tak pula berkerut kening jika dibangun paksa oleh Aqil yang resah karena popoknya basah, karena Runi merasakan kehebatan yang sama pada suaminya. Halim dengan inisiatif luar biasa membantu Runi menyiapkan sarapan pagi. Halim tau, menyiapkan sarapan pagi tak sebanding dengan pekerjaan Runi setelah ia meninggalkannya menuju kantor. Berbagai kejadian dan aktifitas rumah dikerjakan Runi sendirian. Sedangkan bagi Runi, inisiatif Halim merupakan vitamin dosis tinggi untuknya.

Pagi itu Halim sudah bersiap-siap menghidupkan motornya, tiba-tiba Runi teringat belum menghibahkan senyum manisnya untuk Halim.

“Mas, bentar deh” Runi sedikit berlari memanggil suaminya
“Kenapa bun?” Jawab Halim
“Nggak, bunda cuma lupa kasih senyum hehehehe” ungkapnya sambil tersenyum, lega suaminya belum beranjak dari garasi.
“Aiihhh.. biarpun lebayy, tapi Bunda hebat, Ayah jadi semangat 2010 loh berangkat kerjanya” Kata Halim
“Loh, bukannya kaum 2010 lebih letoy ketimbang pejuang angkatan '45”. Canda Runi dengan senyum sedikit mengejek.
“ Ahh itu kan buat yang lain, tapi klo Ayah, semangat Ayah nggak terbendung, kan baru dapat senyun Bunda”. Jawab Halim membalas ejekan Runi dengan kedipan mata.
“Ayah berangkat ya Bun, titip cium untuk Aqil yang lagi mimpi, Assalamu'alaikum”
“Wa'alaikum salam … eh Ayah sebentar, ada lagi nih” Runi mendekati Halim dan membisikkannya sesuatu.
“Jangan terpengaruh dengan pemasukan yang abu-abu, jangan juga menganggap sepele gratifikasi, walau sekecil apapun. Biarlah begini dulu, Masih banyak cara lain yang lebih berkah untuk kaya”. Runi kembali menjauhkan badannya dari motor Halim. Halimpun tersenyum.
“makasih ya, pasti bidadari surga lagi cemburu banget sama Bunda”. Halim berkata dengan pujian yang membuat Runi terdampar dalam bilik cinta yang bersemu merah.

*****

Siang itu, tak seperti siang biasa yang identik dengan matahari yang pongah. Cahayanya banyak memudar berubah kelabu, tapi Runi tak lantas malas dengan dingin yang memberi kabar akan datangnya rentetan hujan. Pujian Halim menaikkan volume kinerjanya dalam mengerjakan pekerjaan rumah tangga, membelai Aqil yang sedang bermanja setelah hausnya sirna. Bahkan paska Aqil tertidur, tenaganya masih terisi penuh untuk mengerjakan satu dan lain hal.

Sebenarnya, seluruh pekerjaannya sudah khatam dari sekian jam yang lalu. Namun Aqil sedang tidur, hal ini membuat Runi bingung ingin melakukan pekerjaan apalagi. Bekas aroma masakan Runipun masih menari diantara sudut ruangan, sehingga siapapun yang tiba-tiba masuk ke ruangan itu, tak sabar ingin menyicipi hidangan Runi.

Runi mengangkat hp nya, memecet nomor Halim.
“Assalamu'alaikum Bunda”. Seru suara diujung sana menyambut panggilan tercinta.
“Wa'alaikumsalam Ayah, lagi apa?. Tanya Runi yang ia sendiri masih bingung ingin berbicara apa.
“Cuma nyusun laporan aja, Bun. Bunda masak apa buat makan malam?”. Halim selalu tak sabar menerima kejutan dari kelihaian tangan Runi meracik bumbu untuk masakan. Ia tak pernah mengharapkan untuk makan diluar, baginya masakan istrinya melebihi masakan resto manapun.
“ Off the record dululah, klo dibocorin, ntar gak deg-degan pas mau makan. Pokoknya klo buat ayah, yaa siap-siap bakal jadi ndut aja dehh”. Canda Runi. 

Bagi Runi, wajah senang Halim ketika menyantap masakannya sudah cukup membuatnya puas. Perasaan yang sama seperti ketika Runi menikmati Shubuh setelah Sholat. Auranya berbeda dengan malam, walau mereka sama-sama gelap. Shubuh merupakan mutiara tak berbanding, bahkan segala kebaikan dimulai dari Shubuh. Sungguh sayang bagi orang-orang yang tak pernah mengenal cara kerja shubuh dan atensinya untuk kita.
“Jiaaahh.. masa' mo makan aja musti deg-degan ... kayak waktu ngelamar Bunda aja. Ngomong-ngomong, kayaknya Ayah hari ini bisa pulang cepat deh, pekerjaan Ayah udah hampir selesai”. Kata Halim, yang sebenarnya tak sabar menyicip kejutan istrinya.
“Gak perlu lah, Yah. Ayah itu PNS, ada waktunya pulang dan ada waktunya kerja. Jam kerja ayah udah diatur, kan memang untuk itu Ayah digaji. Jangan ngurang-ngurangin waktu kerja, karna ayah terikat dengan tanggung jawab dunia. Bunda ltu lebih senang Ayah pulang sesuai jam pulang kerja, loh”. Jelas Runi pada Halim. Runi takut, karena dengan membiasakan kemiringan kecil akan berakibat pada ketimpangan lebih besar, hingga kita tak lagi menyadari bahwa kesalahan besar dimulai dari kesalahan kecil. Berbeda jika Halim tidak bekerja pada seseorang atau institusi. Jika Halim mempunyai usaha sendiri, wajar bagi mereka mengatur sendiri jam kerja mereka. Namun Halim punya kontrak dunia yang berimbas pada ketaatan akhirat. Membiasakan diri disiplin pada tanggung jawab, maka Runi yakin, InsyaAllah mereka terjaga dari rayuan duniawi yang beraura negatif dan berdampak pada kekhilafan dan menjerumuskan mereka pada lubang berkerikil tajam disetiap sisi dindingnya, sehingga mereka tak mampu lagi naik menuju cahaya kebaikan itu berawal. Na'udzubillah.
Halim terdiam, lagi-lagi fikirannya seperti tercubit dengan kata-kata istrinya.

“Ntah apa jadinya suamimu ini jika tidak ada kau, istriku”. Bisik Halim dalam hati. Jauh diujung sana, ia menangis kecil. Bukan karena sedih, tapi betapa baiknya Sang Khalik mengirimkan bidadari itu untuk kehidupannya. Bahagianya ia jika kelak, disuatu masa, ketika dunia ini diambil kembali oleh Empunya, ia disanding kembali bersama bidadarinya di dunia.
“Klo gitu ayah gak jadi pulang cepet deh. Karna kerjaan ayah hari ini emang udah tamat, ayah nulis aja ya”
“Emang ayah mo nulis apaan? Nulis puisi buat bunda boleh gak?”
“Boleh, tapi ntar langsung tunjukin ke Bunda, ya. Tapii, apa memang gak ada kerjaan lagi yah?”
“Nggak Bun, Kerjaan Ayah hari ini gak terlalu banyak. Tapi puisinya gak langsung Ayah tunjukin ke Bunda ya.. pokoknya ada masanya deh.. dan bukan sekarang”. Goda Halim.

Runi sebenarnya mengagumi tulisan-tulisan Halim, hanya saja Halim tak pernah mau mengirimkannya ke media apapun. Padahal, jika saja Halim percaya diri dengan karyanya, Runi yakin karyanya akan diterima banyak orang. Bahasanya yang kuat akan makna, diksi-diksi indah seperti rangkaian ruby yang tersusun indah.

*****
Petir Hati di Pagi Hari

Runi memahami milikNYA adalah selamanya milikNYA, dan bukan hak Runi mempertanyakannya. Namun hati yang masih lara semakin berlipat ganda ketika kenangan manis tak lagi terbendung. Inikah cinta yang teruji diantara kehendak Ilahi dan keegoisan diri? Begitulah sekilas terbersit pertanyaan disebuah ruang hati yang mengatasnamakan cinta. Namun Runi segera tersadar bahwa ia tak berhak menunda, bahkan menahan takdir Allah. Walau dengan rentetan bulir air mata yang tak kunjung kering, ia mencoba memahami niat baik Ilahi yang menyudahi kebersamaannya dengan Halim.
Hari itu Runi tak berfirasat apapun akan hal apapun. Segala sesuatunya berjalan biasa. Bahkan candaan Halim yang sedikit norak bagi sebagian kaum, tak menandakan adanya keganjilan. Mereka seperti biasa bersalaman sebelum Halim berangkat ke kantor. Seperti biasa pula Halim memuji Runi sebagai bidadarinya di dunia dan di syurga. Namun, pagi itu Runi sedikit ingin terlihat lebih cantik dari biasanya, seakan Runi tak rela jika di perjalananya, halim akan melihat bidadari lain yang lebih cantik darinya. Ia berdandan lebih manis, lebih wangi, juga membuat halim hampir membatalkan keberangkatannya ke kantor hanya untuk melihat istrinya berkali-kali. Tak sadar bahwa itulah persembahan keindahan Runi luar dalam untuk Halin kali terakhir.

Satu jam setelah keberangkatan Halim, Runi mendapat telfon dari sebuah Rumah sakit. Hatinya tak beraturan mendengar suara diujung sana, samar-samar ia mendengar kata 'kecelakaan', lalu di sebuah koma, nama Halim disebutkan dengan jelas. Runi berlari secepat degup jantungnya, menghampiri kamarnya, lalu menggendong Aqil yang tertidur lelap. Ntahlah, apa mungkin Aqilpun saat itu sedang bermimpi bercanda dengan Ayahnya, karena Aqil sama sekali tak berontak atau menangis ketika diangkat paksa oleh Runi yang tergesa sembari mengumpulkan tenaga dan emosi yang harus stabil, agar tetap dapat berjalan dengan baik menuju rumah tetangganya. Syukurlah, dalam keadaan seperti ini, para tetangga banyak membantu. Sepasang Kakek nenek pemberi nama Aqil menawarkan diri untuk menggendong Aqil selama mereka di Rumah sakit, sedang tetangga yang lain ikut serta menemani Runi yang memang sebatang kara di kota itu, menuju Rumah sakit. Runi tak berkata apa-apa, ia hanya dapat mengucapakan kata “Allah.. Allah.. Allah” berulang-ulang di dalam hatinya. Mata yang seperti memar memerah tak lagi dapat menahan jatuhnya air mata, ia menangis sambil memohon pertolongan Ilahi untuk memberinya sebongkah kesabaran yang tak terusik fikiran sinisnya. Ya, apapun nanti yang dihadapainya di Rumah sakit, ia harus kuat.

Para tetangga mencoba memegangi Runi, ketika tubuh kaku Halim di perlihatkan padanya. Runi seperti tak berpijak, ia mengamini itu adalah suami tercintanya, suami yang tak pernah menyakitinya, Suami yang beberapa saat lalu mengecup keningnya, suami yang selalu memuji kecantikannya, walau Runi tau, ia tidaklah secantik pujian Halim. Bahkan sisa-sisa pujian Halim masih berbekas di hati Runi, getar dan cinta yang diterimanya masih tersanding didalam tubuhnya. Hingga hati Runi berteriak dengan tangis yang begitu iba.

“Ya Allah.. Demi Engkau, pudarkan cintaku padanya barang sejengkal, pudarkan yaAllah, agar aku tak sombong pada kehendakMU.. Berikan aku kesabaran yang luar biasa, karena aku, sungguh sangat mencintai HambaMU itu” Runi terduduk namun tak meraung, bahkan isakannya hanya sedikit terdengar, namun semua orang menyadari betapa lemasnya Runi saat itu.

*****