Jumat, 19 November 2010

Mengapa Puisi?


Mengapa aku suka dengan puisi?


1. Puisi penuh diksi indah
Aku semakin kaya kata, kaya wacana. Kata-katanya lebih meneduhkan daripada kalimat biasa. Terkadang suatu masalah dapat lebih indah difikirkan dengan merangkainya dalam puisi

2. Kaya wawasan
Setiap kali ingin menempah sebuah puisi, aku mengumpulkan banyak sekali sumber kata. Latar belakang, makna, dan filosofinya. Sehingga, otomatis aku semakin sering membaca. Bayangkan untuk sebuah puisi, aku harus membaca minimal 10 artikel tentang apapun (bunga, kimia, batu, udara, tata surya, dll). Banyak ilmu bukan?

3. Hemat kata dan perasaan dikala marah
Dengan menumpahkan amarah ke dalam puisi, kita tidak perlu mengumbar amarah langsung yang justru berdampak buruk (bisa jadi terapi marah buat saya). Setiap kata mampu memuaskan kita, saya sendiri merasakannya. Bahwa dengan puisi, marah saya tak perlu berkelanjutan. Bahkan tak semua orang harus tau masalah itu secara detil. Baik bukan? hanya dengan beberapa bait dapat dijadikan terapi marah hingga menghemat perasaan

4. Satu kalimat menggambarkan ribuan kata
GAk percaya?? coba deh baca puisi-puisi saya di "Puisi dianta HAri".

5. Kata-kata penyambung Rasa
Semua orang tentu lebih suka kalau dinasehati dengan baik. MAlah mungkin ada yang bahkan tidak suka dinasehati oleh orang sealim apapun. Hatinya yang keras justru akan lebig keras melihat orang yang mendikte dirinya dengan kata 'ini' 'itu' salah dan benar. Namun, tanpa dipungkiri, terkadang puisi dapat menyampaikannya dengan lebih baik, lebih bermakna, dan lebih menyentuh.

Contoh:


Bismillah
Kulapar, ENGKAU mengenyangkanku
sebelumnya terhidang selaksa Dzikir
dibalik gurat letih,
menghimpun ikatan kovalen antara aku dan ENGKAU
Atas namaMU
aku merunduk mengelupas kelemahanku
malu karena cinta terpenggal hanya sebait ayat
dan masih terseok diantara serat yang mengikat fikiranku
Padahal Engkau limpahkan gutasi disetiap jiwa yang ampun
Atau ini:
Tuhanku... Ada yang salah denganku.. aku tau itu.. Setiap langkahku ada Engkau di fikirku Tapi mengapa Tuhanku.... Ketika malam aku begitu hidup Percaya diri akan cintaku padaMU Tapii... Aku seperti Ratkirani yang kuncup dikala matahari menyapaku Begitu lemah.. dan malu dihadapanMu.... Bukan ini yang kumau wahai Penunjuk Jalan Berikan aku lebih banyak Gandharaj membaur dalam tubuhku Agar aku mampu mengharumkan setiap sudut hatiku Dan tak takut akan matahari yang menantangku

6. Rindu Lebih Berarti dengan menorehkannya kedalam bentuk Puisi
Suatu kali aku membaca ulang blog puisiku, beberapa puisi rindu berada disana, aku ingat semua bentuk kerinduan itu. Seperti menerawang kembali ketika rasa itu datang. Jadi membuat kerinduanku lebih berarti baik.

7. Pujangga dan Negri
Beberapa pujangga menorehkan penolakan, kritikan, dan kesedihan pada pemerintahnya ke dalam puisi. Mereka juga disebut pejuang dan perubah di angkatannya karena memberikan banyak motivasi untuk pemudanya.

ada lagi? Nanti saya fikirkan lagi ya :)





Tidak ada komentar:

Posting Komentar