Senin, 16 Agustus 2010

PERTAMA KALI BELAJAR MENYETIR

Diumur berapa aku belajar menyetir?

Kapan pertama kali kamu belajar naik mobil? Ada yang waktu SMP, SMU, waktu kuliah, ada juga yang setelah kerja karena tuntutan kerja dan lingkungan. Aku sendiri mulai mengenal dunia setir menyetir dan akhirnya menjadi supir emakku diumur 17 tahun. Kenapa nggak 16 tahun aja pas kelas 1 SMU, kan judulnya udah SMU?.. Lah ya gak bisalah... jelas-jelas peraturannya umur 17 tahun.. (itu loh yang selalu jadi alasan si ayah kalau aku ingin belajar nyetir waktu kelas 1 SMU).
Setelah ulang tahunku yang ke 17, awalnya aku minta belajar naik motor. Pengen naik motor ke sekolah, itu alasanku ke ayah. Gak tau apa karena aku anak paling besar sendiri (mksdku 2 adikku masih SD dan bayi), si ayah langsung menolak mentah-mentah, sambil berkata "Itu namanya bikin ayah cepet mati, setiap hari jantungan". Nah loh .. ini nih derita anak pertama. Jadi bahan percobaan. Ayah masih blom berpengalaman punya anak remaja. Padahal kesini-sininya.. 2 adekku malah udah bisa naek motor waktu SMU, malah si bontot udah di bolehin belajar waktu SMP (walau tetap tak boleh keluar dari sekitaran komplek DPR dekat rumahku).
"Ya udah, besok pida belajar naek mobil aja. minta ajarin mak enda. Kalo naek mobil lebih aman kalo kecelakaan, paling yang lecet mobilnya". Kalau tak salah ingat, kira-kira begitulah kata-kata ayahku saat itu. Aku kegirangan dong, soalnya dulu kalau masih SMU udah bisa naek mobil kan keren.

Bagaimana latihan menyetirku dihari pertama dan kedua?

Latihan menyetir di hari pertama bersama Mak enda (sebutan untuk adik laki-laki ibuku), seharian keliling komplek. Dasarnya memang aku yang cerdas ya cepat bisalah *PD tingkat tinggi*. Kalau cuma keliling komplek aja, nggak ada tantangannya sepertinya. Besoknya aku ijin ke ayah minta bawa mobilnya ke kota sambil belajar. Nggak tau kenapa si ayah ngasih ijin aja. Memang TOP Begete lah ayahku yang tiada duanya itu. Mobil keluar dengan selamat, menyusuri kota medan dengan sesuka hatiku. Sepertinya, perjalananku saat itu juga masih belum menantang. Lalu aku menantang diriku untuk masuk ke parkiran medan mall dan Thamrin Plaza. Nah ini dia baru tantangan. Hari kedua udah naik parkiran medan mall dan thamrin. Eh jangan salah loh, untuk ukuran newbie alias beginner, klo bisa menaiki kelok-kelok parkiran yang menuju lantai atas mall dan plaza, udah sangat hebat tuh. Biasanya kan untuk pemula harus menepis rasa takut dulu. Apalagi kalau pijakan gas tidak seimbang, bisa-bisa meluncur kebawah.

Menghadapi rasa takut yaitu dengan berjalan ke arah rasa takut itu

Mengawali niat dengan Bismillah, semangatku menggelora, maju terus pantang mundur. MEDAN MALL.... AKU DATANG!!!! teriakku dalam hati. Medan mall yang bertetangga akrab dengan pasar central dan sambu ini sudah jelas crowded alias 'semak'. Segala jenis kendaran nyeloyor sesuka hati. "Ini Medan Bung, jangan kau senggol-senggol aku.. nanti kusenggol balek kau", yah begitulah petuah orang medan ini. Tiket tanda masuk sudah kubayar, perjuanganku harus kuteruskan. Jangankan untuk ke parkiran atas, berjuang di parkiran bawah yang crowded bin semak tadi sudah cukup melelahkan. Akhirnya, sampai juga aku ke bibir putaran paling bawah, aku terdiam sejenak.. ya sejenak saja, tak boleh banyak (nanti di teriakin sama supir yang antri dibelakang), lalu aku mulai menancapkan gas dengan gigi 1 mengelilingi jalur puntaran yang terus menanjak tanpa henti sampai di lantai 4-5 (lupa saya medan mall itu sampai lantai berapa ya). Ternyata perjuanganku sukses dengan selamat. Lalu aku kembali turun, dan berputar naik lagi sampai aku puas. Setelahnya, aku menuju Thamrim plaza yang kalau tak salah parkirannya ada di lantai 7. Bentuk tanjakan tentu tak sama dengan Medan mall yang muter-muter bak spiral dan bikin sakit kepala, Tapi menanjak lurus setiap melewati satu lantai. Buatku lebih mudah asalkan injakan gas tetap stabil, dan tidak terpengaruh dengan mobil dibawah.
Aku pulang kerumah dengan baik tanpa lecet sedikitpun. Begitu seterusnya, sampai akhirnya aku dipercaya untuk memegang SIM A.

Apakah aku pernah menyenggolkan mobilku hingga lecet atau babak belur?

Ya jelas pernah, anak kecil aja kalau belajar naik sepeda pasti pernah jatuh. Nah masalahnya justru aku membuat lecet mobil ayahku disaat aku sudah mendapatkan SIM A, wah benar-benar perempuan luar biasa. Beginilah kalau tak mau menjadi yang biasa-biasa saja, sampai metode jatuh alias 'ngelecet' nya dilakukan disaat sudah mendapat sertifikat uji kelayakan lulus menjadi driver si emak.

Lalu apakah sampai sekarang aku tidak bisa naik motor?

Hohohohoho... tentu tidak sepeti itu. Ketika kuliah di jogja, susah sekali rasanya kalau tak punya kendaraan. Angkutan sudah mengistirahatkan diri tepat pukul 18:00. Apalagi aku ini aktifis super sibuk... *halah gayanya*. Benar-benar berat kalau mau keluar malam untuk melakukan kegiatan atau sekedar mencari makan. Harus nebeng terus sama orang. Akhirnya, aku mengajukan proposal untuk dibelikan mobil alakadarnya. "Ya paling nggak bisa jalan lah, yah", kataku dalan proposal yang kuajukan lewat telp. Ayahku menyetujui, hanya saja tunggu setelah panen udang katanya (maklum ayahku kan PNS, jadi tak mungkin membelikan mobil dari gaji PNS nya), Masa yang dinanti telah tiba, mobil telah dibeli, dan siap dikirimkan ke jogja. Hati riang gembira, tentunya. Namun di tengah kegembiraan, aku dengar dari emakku, kalau tambak udang gagal panen, dan sepertinya si emak butuh modal. Dengan ikhlas namun keluar air mata, kutawarkan mobil itu untuk dijual kembali. Si emak terkejut, sedih bercampur senang, ia sedih karena tau buah hatinya yang baik hati ini menunggu kedatangan mobil itu, namun tak bisa berbuat apa-apa. Yah sekali lagi, inilah derita anak pertama, selalu merasakan naik turun keuangan orang tua, yang jadi adik-adikku yang enak.. karena jarak kami jauh.. pasang surut keuangan orang tua tak berdampak ke mereka, adikku malah langsung di kasih mobil pribadi waktu belajar naik mobil ketika kuliah (walau belajarnya telat :D). Lagipula aku tau, sebenarnya ayah terlalu memaksakan diri membeli mobil itu karena kadung berjanji padaku. Padahal, saat itu panen sedang tak bagus. Biar bagaimanapun, Terima Kasih ayah, setidaknya kau tetap memberikanku yang terbaik. Foto mobil itu tetap tersimpan di albumku. Dan usahamu menyenangkanku tetap tersimpan di ingatanku.
Ketika mobil gagal menjadi milikku, dengan inisiatif sendiri aku belajar naik motor temanku. Untung semua temanku baik hati, mau meminjamkan motornya untuk ku jadikan percobaan. Syukur-syukur gak pake nabrak, ini malah sempat nyenggol mobil orang dari belakang. Untunglah, si empunya memafkan (padahal mobilnya udah lecet). Belajar naik motor tak lama, cuma perlu menghilangkan doktrin "kalau nabrak, yang lecet langsung kulit" aja. Masalahnya itu yang rada berat, tapi usahaku berhasil. Aku bisa naik motor tanpa takut, setidaknya kalau memang ada apa-apa, berarti sudah menjadi takdir Tuhan. Lalu aku menelfon ayahku, mengatakan aku sudah bisa naik motor. Ayah terkejut, tapi tak bisa bilang apa-apa. Namanya juga udah bisa, mau dilarang apa coba. Waktu liburan di medan, aku disuruh nyoba motor dirumah, aku antar mama keliling dan pulang dengan selamat. Selanjutnya ... sudah taulah kira-kira apa yang disetujui ayahku. Sebuah motor meluncur ke Jogja bersama diriku. Akupun tak lagi kesusahan dimalam hari. :)

8 komentar:

  1. mantaaaaaappppp ni, dtggu peluncuran bukunya hehe

    BalasHapus
  2. Jadi cerita SMU nie ya, saya pikir cerita kemaren sore :p

    BalasHapus
  3. ntar ada posting cerita wkt bayi .. nah loh :p

    BalasHapus
  4. Saya belajar nyetir ketika SMP kelas 2 atau 3 ...
    Tapi hanya di lapangan saja ...

    Baru benar-benar boleh membawa sendiri kendaraan ... ya pas saya kuliah ...

    Salam saya Ibu

    BalasHapus
  5. salam juga pak....

    Waktu Smp pasti seneng banget bisa bawa mobil ya pak...

    BalasHapus