Selasa, 24 Agustus 2010

Tujuh Tahun Pernikahan


Harusnya sih sekarang ini aku bikin puisi yang temanya 'mengenang 7 tahun pernikahan' aku dan suamiku di blog ku (Puisi Fida). Berhubung mandek... biarlah aku berkoar-koar sejenak di blog yang ini. Aneh juga, bagi pasangan muda seperti kami... tanggal pernikahan saja bisa terlewatkan dan tidak ada perayaan spesial sedikitpun. Mungkin kami terlalu sibuk dengan fikiran kami masing-masing atau malah sudah tidak lagi memikirkan moment seperti itu. Ini salah, justru moment seperti itu yang dapat menghadirkan kembali gairah pengantin baru (atau jangan2 karena selalu bergairah malah ndak perlu moment itu :D) ..

17 tahun sudah perkenalan kami.
Diawali karena tumbuh di pesantren yang sama, sejak umur 13 tahun, aku sudah mengenal namanya. Belum tau orangnya, hanya sering disebut di kelas banat (kelas perempuan). Seorang ustadz, sering betul membanggakan nama yang katanya jago matematika itu. Tak lama, seorang teman dekatku, menaruh hati pada anak lelaki antah berantah ini. Bertukar surat cinta, sampai ke jadian cinta monyet. Beberapa pertemuan, hanya sekedar mengobrol dengan curi mencuri waktu tanpa ketauan ustadz/umi. Tentu aku tak ikut andil didalamnya. Di masanya, aku masih jaim.. dan tergolong takut berbuat salah. Cerita demi cerita saja yang diperdengarkan oleh temanku di telingaku ini.
Seiring waktu, aku tentu melihat orangnya. Taklah ganteng 'fikirku', dia pun tak tinggi. Tapi satu hal yang aku kagumi, dia cerdas. Buktinya di kelas 3, kami sama-sama diusung untuk mengikuti ujian masuk sebuah sekolah terbitan pak B.J habibie. Ada 8 orang yang aku ketahui saat itu. 4 dari banat (perempuan).. dan 4 dari walad (laki-laki). (kalimat diatas sengaja mengasumsikan diriku tergolong orang cerdas di sekolah :D :D). Aku rasa, saat itu mereka tak lagi berhubungan (yah namanya cinta monyet, ntah kapan jadiannya.. ntah kapan putusnya). Karena sering belajar bersama di rumah ustadz rizal, atau di sekolah... justru aku sepertinya naksir sama temennya (inisial dirahasiakan) yang juga ikut ujian 'magnet' ini (ahh cinta monyet lagi). Sayangnya, aku tak pernah berani, padahal dia pernah loh datang kerumah dengan judul menjemputku belajar bersama.
Belajar bersama, ujian bersama berakhir, berakhir pula pertemuanku dengan suamiku itu yang memang tak banyak kuantitasnya (tak menyangka dia yang jadi suamiku kini). Selama pertemuan itu, tak banyak yang kami bicarakan, dan aku lebih tertarik berbicara dengan temannya yang satu itu (inisial tetap rahasia).

Berpisah

Masing-masing kami meluncur dan melanjutkan di SMA yang berbeda. Ada yang masih mondok, ada yang ke SMU plus, SMA negeri, dia sendiri ke SMK Telkom. Itu karena tak ada satupun dari kami yang lulus ujian 'magnet' itu. Bukan karena kami bodoh, tapi karena soal ujian tertukar, alhasil kami mengerjakan soal ujian anak SMU. Jadilah siswa Ponpes Se-SUMUT tidak ada yang lulus saat itu.
Seperti benang merah, ada aja yang menghubungkan aku dengannya. Seperti mama yang pernah menumpang mobilnya, atau mama yang ntah gimana kadang-kadang suka nanyain kabarnya (mana ketehe.. ngobrol aja nggak :)), bahkan teman les PPIA ku yang juga satu sekolah dengannya, ntah gimana suka menceritakan manusia satu ini. Benang merah ini baru tersadar setelah kami menikah. Sayangnya selama SMA, tak pernah sekalipun aku bertemu dengannya.
Dari sisi dia, menurutnya benang merah itupun terasa. Dia pernah tertarik melihatku ketika di ponpes dulu. [Katanya] dia teringat seorang gadis yang pernah berteriak padanya dari bawah pohon (halah lebai nian) sambil bertanya mengenai persiapan ujian 'magnet'. Dan si lelaki ini selalu terngiang ucapanku waktu si 'mama' menumpang mobil ibunya "Tur, jaga mamaku ya' (hehehe ini lebai tingkat tinggi). Tak berhenti disitu, ketika SMA dia melihat adik kelasnya yang mirip denganku, ia penasaran ada hubungan apa aku dengan adik kelasnya. Kalau ketemu anak ponpes yang dia tanya selalu aku. . Nah yang anehnya, dia punya feeling (katanya) kalau aku yang bakal jadi istrinya. Alasannya ntahlah [saya juga tak tau hehehe].

Masa menuju pendewasaan (kuliah)

Perjalanan kuliahku ternyata jauh, jauh dari orang tua dan jauh dari si benang merah ini. Aku mempunya kehidupan baru di Yogyakarta. Sahabat-sahabat yang tidak akan pernah aku lupakan kenangan didalamnya sampai nyawa tercabut dari ragaku (widiiihhh). Begitu indahnya persahabatan dengan banyak teman ini membuat aku tidak berfikir untuk pacaran, bahkan dengan orang yang aku sukai sekalipun. oww... orang yang aku sukai .. ya ada sebuah nama, beberapa sentilan kenangan mulai muncul di kepalaku. Bagaimana dan mengapa aku menyukai 'teman sekelasku' ini. Ini tak mungkin ku katakan disini.. pastinya nanti bakal jauh dari tema ceritaku. Malah jangan-jangan ada seorang pemeran utama disini yang bakal protes (xixixixi).
Dipertengan proses kuliahku, aku bertemu seorang teman di dunia maya, yang ternyata juga teman sekelasnya. (bersambung)
***
27 agustus 2010, 12:58 PM
cerita saya lanjutkan (capek juga nulis tulisan selama 7 tahun hihihihi)

***
Teman seangkatannya ini bernama hakim, kalau tak salah sekarang ia berdomisili di Surabaya. Sering bercerita, hingga sampailah pada sebuah cerita kalau ia mengenal 'si benang merah ini'. Wah, kecilnya dunia ini... mengapa setiap cerita selalu kembali ke dia?? tak taulah saya...
Selang beberapa hari, aku mendapatkan sebuag telpon dari no yang tidak masuk dalam phonebook ku. Kuangkat, dan ternyata lelaki yang bernama lengkap 'Catur Kurnia Mustika Ramdhani' yang menlponku. Sedikit kikuk aku. Sekian lama tak berjumapa, dan tak pula pernah berbicara banyak. Kutanyakan dari mana ia dapat medeteksi no hp ku?. Singkat kata, hakim yang mengabarkannya, ohhh sungguh Hakim akan mendapatkan sebuah mesjid untuk benang merah ini :)).
Tak terasa intensitas menelpon menjadi semakin sering. Aku, yang kadang-kadang lebih sibuk darinya (sok sibuk) betul-betul senang kalau mendapatkan telp darinya. Diantara letih kuliah dan kegiatan ekstrakulikulerku di HMI, Telpon darinya merupakan pengobat penat.
Banyak hal yang kami ceritakan [sebenarnya aku yang bercerita], dan ia lebih cenderung mendengarkan. Lalu apakah cinta bersemai.... ahhh ntahlah kapan datangnya perasaan dekat itu, apakah ketika kami masih di pondok, atau perasaan terpisah ketika SMA, atau malah ketika ia menelponku.
Sudah lama tak melihatnya, begitupin dia. Ntah bagaimana dia sekarang [pikirku kala itu]. Dulu dia memang sudah gemuk, tapi katanya sekarang lebih gemuk lagi. Sudah dapat kubayangkan .. dengan panjang tubuh yang tak panjang :)) dan gemuk yang ia bicarakan :). TApi satu yang pasti tak mungkin berubah, bahwa ia masih cerdas seperti dulu.
Libur lebaran memaksaku untuk mudik [klo cuma libur semester yg satu bulan biasanya aku gunakan untuk beraktifitas bersama teman2 HMI ku]. Beberapa hari dirumah. Si Lelaki mengajakku Kopdar.
Bersama teman-teman nya ia menyambangi rumahku. Sedikit kikuk aku melihatnya [maklumlah udah lama gak ketemu]. Untunglah semua temannya rame [rame ceritanya], jadi bisa bikin suasana cair.
Esoknya ia mengajakku bertemu kebali tepat ketika aku sedang bertandang dirumah 'cinta monyet'nya yang sahabatku sampai sekarang. Ketika aku dan sahabat sedang asik bercerita tumpah ruah, telponnya mengagetkanku. Kikuk bukan kepalang.
"Dari siapa, da'? tanya si sahabat
"Dari catur, dia tau aku disini, pengen ngajak ketemu sekalian kan dah lama kalian gak ketemu" kataku ngeles
"?? kok bisa tau no mu" tanyanya
"iya, dari temen sekolahnya dulu" kataku lagi.
Maka berangkatlah kami dikala itu menuju 'sinar plaza'.

***

Sesampainya disana, teryata ia tak sendiri. Bersama sepupunya [yandi] dan beberapa temannya telah menunggu kami di musholla. Selesai Sholat zhuhur, kami menuju sebuah tempat makan di lantai atas. Kala itu, bukan aku yang berjalan beriringan dengannya, tapi 'sang sahabat' yang juga pasti telah lama tak melihatnya. Sedikit cemburu memang, tapi sepupunya yandi mengajakku ngobrol di belakang mereka.
Bercerita layaknya teman yang lama tak ketemu, menyegarkan memang. Lalu kami pulang dengan fikiran kami masing-masing dan kenangan masa lalu.
Malamnya, ketika aku sedang menemani ayah menghirup udara di kota medan, tiba-tiba datang sebuah sms darinya. kira-kira bunynya seperti ini :
"Setelah ngobrol tadi siang, aku nggak bisa tidur. Banyak yang ingin aku bilang" sms nya
"bilang aja" sms ku
"Aku terpana dengan wanita ini dan melihatmu kini membuatku tak bisa tidur" sms nya
Selanjutnya ia mengirimkan sebuah SMS yang mengungkapkan persaaannya.
Ku tak bisa membalasnya saat itu, ada ayah, dan aku merasa tak enak karena ayah sedang sedih mengingat adikku sedang sakit.
Kusuruh ia menelponku 3 hari kemudian. Dan tepat 3 hari setelahnya ia menelponku, dan aku dengan pasti menjawab persaaannya. Har jadian kami, kami rayakan di sebuah tempat yang cukup romantis [rahasia :)].

Ialah pacar pertama dan terakhirku.

Maaf, bukan karena tak laku [seingatku ada beberapa pria yg mengajakku pacaran *songong bukan kepalang :))*], tapi aku cukup sibuk dengan idealismeku. Mr. catur datang sebenarny juga disaat yang tidak terlalu tepat. Aku mengidealismekan berpacaran setelah menikah. Setelah kembali ke Jogjakarta,p erasaan bersalahku meraja lela. Jelang 2 bulan, aku mengungkapkan perasaanku. 'Kita putus aja dulu, atau kita menikah sekarang?'. Tanpa kusangka dan equal to tanpa kuduga, Mr. catur menerima tantangan: 'oke kita menikah'. Surprised sekali diriku, aku sendiri ingin lebih meyakinkan diriku. Keputusan menikah sebelum menyelesaikan kuliahku, akankah disetujui keluarga kami. Malamnya kami bersama-sama meminta izin ke orang tua melalui telp. Aku menelpon ayahku, mengungkapkan niat kami. Seperti biasa, dengan seluruh kebijaksanaannya, ayah mengatakan "Kalo pida merasa yakin buat ayah gak masalah, cuma satu syaratnya, kuliah harus tetap jalan dan uang kuliah ayah yang bayarkan". Waahhh senang dong aku. Kabar yang tak sama datang dari keluarganya, keluarganya belum menyetujui, mengingat statusku yang belum tamat kuliah dan jauh sangat dari peraduannya. Buat ku tak apa, semua itu butuh proses. Mr. catur tak pernah bosan meyakinkan keluarganya untuk menikah denganku [menurutnya ia sudah pantas, karena ia sudah bekerja]. Alhamdulillah, pandangan orang tua lebih mencair. Mereka mengizinkan kami menikah namun harus setelah pernikahan kakak ke 3 nya. dan jelang masa itu, ibundanya menganjurkan kami bertunangan dulu nanti ketika aku mudik libur kuliah. Akhirnya jadilah kami bertunangan, dan beberapa bulan kemudian kami menikah. Rasa syukur yang besar aku panjatkan ke Allah. Karena semua rasa bersalah atas idealismeku selama ini tertutupi. Kami dapat menjalani proses kemesraan dengan halal walau dengan jarak yang jauh dan menghabiskan pulsa telp [red: Aceh-jogjakarta]
(bersambung ----. capek euyyy nulisnya)

****
29 Agustus 2010 (Nyambung lagi lah)

Sedikit Flash back judulnya

Kabar pernikahan diantara teman-temanku.

Selama berpacaran dan bertunangan dengan lelaki ini, hanya ada 3 orang sahabatku di komisariat yang tau hal ini (Fajri, adam, dan Wakid). Aku menyimpannya, sedikit takut kalau ada hal yang berhalang, yang membuat pernikahan kami tak sampai.
Selama penyimpanan itu, ada seorang teman yang yakin aku tak akan menikah dalam waktu dekat. Ntah bagaimana awal obrolan terjadi, tiba-tiba dia berkata "Saya gak yakin kamu menikah tahun ini, kamu pasti maunya kerja dulu, lagian kamu masih kecil sekali"
helloooo...... i'm 22 saat itu. Taklah kecil kurasa. Tapi wajar kok banyak menganggapku imut-imut .. jangankan dulu, sekarangpun masih banyak yang tak percaya aku sudah punya anak dua.. kayak anak SMP kata mereka [hohohoho.. ini namanya merendahkan diri menaikkan mutu.. alias pede tingkat 7 :))]
Saya jawab tantangan si teman dengan bertanya "Kalau ternyata saya menikah tahun ini, gimana mas?"
"Saya akan ajak kamu makan di temapat makan manapun yang kamu mau" Tantangnya..
Girang bukan main... makanan enak bakal terbayang dimana.... ya iyalah.. secara beberapa bulan lagi aku akan menikah, tanggal pernikahan sudah di tetapkan, undanganpun segera dibuat... xixixixixi
Tak cuma itu seorang adik kelas pernah meramal tanganku, sambil berkata " Mbak fida bakal menikah diatas umur 25 tahun katanya" hihihihi... aku senyum-senyum simpul...

Kira-kira 1 bulan medekati pernikahan, aku mulai mengabarkannya ke teman-temanku. Kaget bukan kepalang mereka semua. teman, teman Komisarita HMI, teman - teman di Accounting International Program seangkatanku, juga teman-teman lain.
Undangan aku kirimkan ke komisariat saat aku sudah berada di Medan.

****
Pengantin Baru Jarak Jauh

Tak mudah menjadi pengantin baru dengan jarak beberapa propinsi. Aceh-Yogyakarta.. berat di rindu.. berat di ongkos.. dan berat di pulsa. Beberapa pasangan muda menikah dini namun mereka tetap di naungan yang sama, di kota yang sama. Tidak seperti kami, tantangan kami begitu besar. Apalagi saat itu aku sudah mulai mengajukan judul skripsi. Sengaja aku memilih dosen pembimbing yang agak menakutkan... namun kabarnya ia dapat memotivasiku dan banyak nilai positifnya. Tak banyak yang memilihnya, hanya orang-orang tertentu .. dan punya keberanian lebih aku rasa. Selama 2 bulan awal-awal pengajuan skripsiku, kerjaanku hanya bolak balik Yogyakarta - Lhoksmawe. Tak terketik sedikitpun kata pembuka untuk judul sripsiku ini.

Kabar gembira

Dibulan ke 3 aku mulai muntah-muntah, lemas, mual. Aku periksakan ke RS Panti Rapih.. ternyata Kabar gembira itu benar adanya. Janinnya 'Hamdi' berada di dalam tubuhku... nyawanya berada satu nafas denganku, hidupnya menyatu dalam kehidupanku. Aku bersyukur tak terhingga. Mengabarkan berita gembira ini ke semua orang yang aku temui. tak perlu malu aku rasa, toh aku hamil dengan dengan suami :))
Kekuatanku datang tiba-tiba, niat merampungkan skripsi menjadi besar tak terhingga. Aku sadar aku tak boleh melahirkan di kota ini. Disin aku hanya punya adikku yang masih SMU, sedang tak ada satupun keluarga lainnya. Jika aku tak bisa wisuda bulan 5, alamat aku bakal melahirkan disini.. oh Noooo.... skripsiku harus kelar. Anakku harus mempunyai ibu yang berjiwa besar dan kuat, aku tak mau ia malu ketika melihat undangan pernikahannya nati tidak ada gelar orang tuanya, padahal pendidikanku hanya tinggal selangkah
Kekuatanku tak sepenuhnya masuk ke orangorang disekelilingku. Di awal-awal kehamilanku, seluruh keluarga besar, teman-teman dan sahabat dekat bahkan khawatir dengan keadaanku. Jauh dari suami, skripsi, dan tanpa keluarga besar disampingku. Ah tidak, mereka salah.. aku tak sepenakut itu. Ini semua sudah aku perhitungkan. Keputusan menikah berarti aku juga telah siap memutuskan untuk memiliki anak. Semangatku tinggi, masa depanku semakin tercerahkan, dan aku semakin maju untuk berfikir.
Segera aku juga memborong beberapa buku kehamilan, pengasuhan anak, orang tua, dan lain-lain yang berhubungan dengan anak. Dan segera pula aku kembali mendatangi dosen pembimbingku. Tak kubiarkan dosen pembimbingku mengetahui kehamilanku, karena tak sedikitpun aku ingin di iba olehnya. Jika skripsi ini berhasil sesuai targetku, maka itu adalah jerih payah akau dan anakku.
Alhamdulillah, di sela-sela pengerjaan skripsi.. seluruh temanku mendukungku. Seluruhnya.. dan tak satupun dari mereka yang mengabaikanku. Aku berterima kasih kepada Allah karena diperkenalkan dengan teman seperti mereka (Opi, Fajri, Adam, wakid, denok, genia, ety, mas deni, komfak FE UII, semuanya.. semuanya big thanks for all of you guys, Your help and care won't be compared to anything)
Tak pernah terbayangkan aku bisa sesemangat itu dalam bertanggunga jawab. Walau keadaanku fisikku lemah [berulang kali pingsan di beberapa tempat], tapi janinku tetap kuat. Setiap pingsan aku selalu bertanya ke dokter bagaiman janinku. Dia katakan kehamilanku luar biasa baik. Hanya saja aku perlu banyak makan. Mual dan muntah setiap mencium bau makanan yang membuatku susah menelan sesuatu. Hanya buah dan biskuat yang bisa masuk ke kerongkonganku tanpa ada 'Hueeekkk' dari mulutku.
Skripsiku menggunakan metode research, objekku adalah semua jenis akuntan, mulai dari Akuntan pendidik, akuntan publik, akuntan perusahaan, dan akuntan sektor umum. Selain itu, skripsi wajib berbahasa ingris [berhubung program yang aku ambil adalah International Program].
Berhubung objek adalah akuntan, dan harus mencari 100 sample [awalnya] menjadi 75 [sample akhirnya karena akuntan perusahan memblokade diri karena takut datanya dilihat. Mencari 75 sample sebenarnya adalah perjalanan melelahkan. Setiap hari aku berangkat jam 7 pagi, menyebarkan questionaire padat tanya, menunggu disatpam, menunggu jawaban, mengejar dosen, kehujanan, kepanasan, dll. Sampai-sampai opi dan teman-teman menganjurkan agar anakku diberi nama 'si Tegar atau Tegarwati' hehehehhe...
75 sample bisa aku dapatkan dalam tempo 1 bulan dengan berbagai cobaan. Seluruh sample tidak ada yang di manipulasi, murni berasal dari objek yang aku dapatkan. [bagiku, memanipulasi objek bukan tindakan bertanggung jawab]. Proses pendataanpun lebih mudah ke depannya. Aku hanya tinggal bolak balik ke dosen pembimbing. Walau terkadang ada omelan, atau sindiran kalau salah.. tapi itu bukan batu sandungan. Bahkan aku semakin rindu dengan dosen pembimbing satu itu, sehari 2 kali aku bolak-balik ruangan dia.. hehehehehe.. biar dia eneg sekalian liat wajahku :)) [Prof. Hadri Kusuma, Drs, MBA, DBA Thank you for everything, May Allah bless you and your family].
Bimbinganku selesai, skripsiku akhirnya di setujui tanpa adalagi coretan. Saatnya aku ke bimbingan bahasa [Mrs, Any pujiastuty.. thank you for your smile]. Untunglah tak banyak kendala, tak banyak pula yang perlu diperbaiki, dan akhirnya seluruh penggunaan bahasa Inggrisku disetujui juga. Dan aku bisa mendaftarkan wisuda di bulan 5 tahun 2004, tepat 2 bulan sebelum kelahiran Muhammad Hamdi Kurnia Rahman. Semoga Allah menjadikannya Hamba yang cerdas dan masuk Surga.

(Bersambung lagi yaaa... saya mo pergi soalnya :))

4 komentar:

  1. saya juga :D

    BalasHapus
  2. Inspiratif! *eh?*

    BalasHapus
  3. eh.. kok ehhh.... loh.... ehh.. ada skripsinya :))

    BalasHapus