Jumat, 27 Agustus 2010

Sebuah Tali Asih dari Pakdhe Cholik


Pertengahan pagi dan siang ini, ketika aku sedang melakukan tugas rumah tangga sambil sesekali melihat suara beep dari ym operator dan tweetdeck, tiba tiba hamdi yang baru saja aku minta tolongin beli Rinso di warung depan berteriak "Maaaaa... ada kiriman nih dari surabaya". Cucian yg notabene adalah baju kerja si dia (gak dicuci make mesin cuci) langsung aku tinggalkan. Secepat kilat [eh .. ndak ding.. ya dibawahnya kilat dikitlah] aku menyambangi posisi anakku yang memegang Rinso di tangan kanannya dan sebuah bingkisan ditangan kirinya.
"Ma itu dari siapa ma?? isinya apa???" .. tanya hamdi
"Wahh mama juga pengen buka nih... kita buka yukk"... kataku sambil merobek bingkisan tanpa merusak catatan alamat di depan bingkisan [rencananya alamat pakde akan kusimpan tidak hanya didalam hati tapi juga di map].
"Ma .. ada baju sama buku".... kata hamdi antusias..
"Iya.. keren kan... ada tulisan apa nih coba" .. tanyaku
"AKU CINTA INDONESIA" ... kata hamdi..
Ya benar.. semakin aku cinta Indonesia.. dan smakin aku cinta persaudaran ini. walau wajah tak pernah bertemu, dan terpisah oleh luasnya lautan... tapi semangat pakdhe bisa sampai ke Banda Aceh. Bahkan walaupun ongkos kirim surabaya-Banda Aceh tergolong mahal.
Sekali lagi, buku yang aku terima membuatku terharu .. buku itu berjudul "la tahzan for muslimah". Pakdhe pintar sekali memilih buku.

Kerianganku dan rasa terharu ini juga karena baru kali ini aku mendapatkan sebuah tali asih selama nge blog. maklum aku jarang sekali blog walking, hanya menulis untuk diri sendiri saja. Belakangan aku blog walking ke beberapa blogger dan senang main di blog nya pakdhe lalu puisiku mandet lalu blog walking lagi.
Yang bikin aku tertarik, diusianya yang ke 60, pakdhe punya semangat yang tinggi untuk tetap menulis di beberapa blognya. Tidak menyerah dan tidak termakan zaman. Pasti anak cucunya bangga sekali.
Cerita-cerita yang diungkapkan pakdhe tidak berat.. semua ringan dan indah. Bikin kita pengen mampir dan mampir lagi :)

Sekali lagi terima kasih untuk tali asihnya Pakdhe cholik

Buku ini akan segera saya rampungkan membacanya, lalu saya kupas tuntas di blog ini.

Selasa, 24 Agustus 2010

Tujuh Tahun Pernikahan


Harusnya sih sekarang ini aku bikin puisi yang temanya 'mengenang 7 tahun pernikahan' aku dan suamiku di blog ku (Puisi Fida). Berhubung mandek... biarlah aku berkoar-koar sejenak di blog yang ini. Aneh juga, bagi pasangan muda seperti kami... tanggal pernikahan saja bisa terlewatkan dan tidak ada perayaan spesial sedikitpun. Mungkin kami terlalu sibuk dengan fikiran kami masing-masing atau malah sudah tidak lagi memikirkan moment seperti itu. Ini salah, justru moment seperti itu yang dapat menghadirkan kembali gairah pengantin baru (atau jangan2 karena selalu bergairah malah ndak perlu moment itu :D) ..

17 tahun sudah perkenalan kami.
Diawali karena tumbuh di pesantren yang sama, sejak umur 13 tahun, aku sudah mengenal namanya. Belum tau orangnya, hanya sering disebut di kelas banat (kelas perempuan). Seorang ustadz, sering betul membanggakan nama yang katanya jago matematika itu. Tak lama, seorang teman dekatku, menaruh hati pada anak lelaki antah berantah ini. Bertukar surat cinta, sampai ke jadian cinta monyet. Beberapa pertemuan, hanya sekedar mengobrol dengan curi mencuri waktu tanpa ketauan ustadz/umi. Tentu aku tak ikut andil didalamnya. Di masanya, aku masih jaim.. dan tergolong takut berbuat salah. Cerita demi cerita saja yang diperdengarkan oleh temanku di telingaku ini.
Seiring waktu, aku tentu melihat orangnya. Taklah ganteng 'fikirku', dia pun tak tinggi. Tapi satu hal yang aku kagumi, dia cerdas. Buktinya di kelas 3, kami sama-sama diusung untuk mengikuti ujian masuk sebuah sekolah terbitan pak B.J habibie. Ada 8 orang yang aku ketahui saat itu. 4 dari banat (perempuan).. dan 4 dari walad (laki-laki). (kalimat diatas sengaja mengasumsikan diriku tergolong orang cerdas di sekolah :D :D). Aku rasa, saat itu mereka tak lagi berhubungan (yah namanya cinta monyet, ntah kapan jadiannya.. ntah kapan putusnya). Karena sering belajar bersama di rumah ustadz rizal, atau di sekolah... justru aku sepertinya naksir sama temennya (inisial dirahasiakan) yang juga ikut ujian 'magnet' ini (ahh cinta monyet lagi). Sayangnya, aku tak pernah berani, padahal dia pernah loh datang kerumah dengan judul menjemputku belajar bersama.
Belajar bersama, ujian bersama berakhir, berakhir pula pertemuanku dengan suamiku itu yang memang tak banyak kuantitasnya (tak menyangka dia yang jadi suamiku kini). Selama pertemuan itu, tak banyak yang kami bicarakan, dan aku lebih tertarik berbicara dengan temannya yang satu itu (inisial tetap rahasia).

Berpisah

Masing-masing kami meluncur dan melanjutkan di SMA yang berbeda. Ada yang masih mondok, ada yang ke SMU plus, SMA negeri, dia sendiri ke SMK Telkom. Itu karena tak ada satupun dari kami yang lulus ujian 'magnet' itu. Bukan karena kami bodoh, tapi karena soal ujian tertukar, alhasil kami mengerjakan soal ujian anak SMU. Jadilah siswa Ponpes Se-SUMUT tidak ada yang lulus saat itu.
Seperti benang merah, ada aja yang menghubungkan aku dengannya. Seperti mama yang pernah menumpang mobilnya, atau mama yang ntah gimana kadang-kadang suka nanyain kabarnya (mana ketehe.. ngobrol aja nggak :)), bahkan teman les PPIA ku yang juga satu sekolah dengannya, ntah gimana suka menceritakan manusia satu ini. Benang merah ini baru tersadar setelah kami menikah. Sayangnya selama SMA, tak pernah sekalipun aku bertemu dengannya.
Dari sisi dia, menurutnya benang merah itupun terasa. Dia pernah tertarik melihatku ketika di ponpes dulu. [Katanya] dia teringat seorang gadis yang pernah berteriak padanya dari bawah pohon (halah lebai nian) sambil bertanya mengenai persiapan ujian 'magnet'. Dan si lelaki ini selalu terngiang ucapanku waktu si 'mama' menumpang mobil ibunya "Tur, jaga mamaku ya' (hehehe ini lebai tingkat tinggi). Tak berhenti disitu, ketika SMA dia melihat adik kelasnya yang mirip denganku, ia penasaran ada hubungan apa aku dengan adik kelasnya. Kalau ketemu anak ponpes yang dia tanya selalu aku. . Nah yang anehnya, dia punya feeling (katanya) kalau aku yang bakal jadi istrinya. Alasannya ntahlah [saya juga tak tau hehehe].

Masa menuju pendewasaan (kuliah)

Perjalanan kuliahku ternyata jauh, jauh dari orang tua dan jauh dari si benang merah ini. Aku mempunya kehidupan baru di Yogyakarta. Sahabat-sahabat yang tidak akan pernah aku lupakan kenangan didalamnya sampai nyawa tercabut dari ragaku (widiiihhh). Begitu indahnya persahabatan dengan banyak teman ini membuat aku tidak berfikir untuk pacaran, bahkan dengan orang yang aku sukai sekalipun. oww... orang yang aku sukai .. ya ada sebuah nama, beberapa sentilan kenangan mulai muncul di kepalaku. Bagaimana dan mengapa aku menyukai 'teman sekelasku' ini. Ini tak mungkin ku katakan disini.. pastinya nanti bakal jauh dari tema ceritaku. Malah jangan-jangan ada seorang pemeran utama disini yang bakal protes (xixixixi).
Dipertengan proses kuliahku, aku bertemu seorang teman di dunia maya, yang ternyata juga teman sekelasnya. (bersambung)
***
27 agustus 2010, 12:58 PM
cerita saya lanjutkan (capek juga nulis tulisan selama 7 tahun hihihihi)

***
Teman seangkatannya ini bernama hakim, kalau tak salah sekarang ia berdomisili di Surabaya. Sering bercerita, hingga sampailah pada sebuah cerita kalau ia mengenal 'si benang merah ini'. Wah, kecilnya dunia ini... mengapa setiap cerita selalu kembali ke dia?? tak taulah saya...
Selang beberapa hari, aku mendapatkan sebuag telpon dari no yang tidak masuk dalam phonebook ku. Kuangkat, dan ternyata lelaki yang bernama lengkap 'Catur Kurnia Mustika Ramdhani' yang menlponku. Sedikit kikuk aku. Sekian lama tak berjumapa, dan tak pula pernah berbicara banyak. Kutanyakan dari mana ia dapat medeteksi no hp ku?. Singkat kata, hakim yang mengabarkannya, ohhh sungguh Hakim akan mendapatkan sebuah mesjid untuk benang merah ini :)).
Tak terasa intensitas menelpon menjadi semakin sering. Aku, yang kadang-kadang lebih sibuk darinya (sok sibuk) betul-betul senang kalau mendapatkan telp darinya. Diantara letih kuliah dan kegiatan ekstrakulikulerku di HMI, Telpon darinya merupakan pengobat penat.
Banyak hal yang kami ceritakan [sebenarnya aku yang bercerita], dan ia lebih cenderung mendengarkan. Lalu apakah cinta bersemai.... ahhh ntahlah kapan datangnya perasaan dekat itu, apakah ketika kami masih di pondok, atau perasaan terpisah ketika SMA, atau malah ketika ia menelponku.
Sudah lama tak melihatnya, begitupin dia. Ntah bagaimana dia sekarang [pikirku kala itu]. Dulu dia memang sudah gemuk, tapi katanya sekarang lebih gemuk lagi. Sudah dapat kubayangkan .. dengan panjang tubuh yang tak panjang :)) dan gemuk yang ia bicarakan :). TApi satu yang pasti tak mungkin berubah, bahwa ia masih cerdas seperti dulu.
Libur lebaran memaksaku untuk mudik [klo cuma libur semester yg satu bulan biasanya aku gunakan untuk beraktifitas bersama teman2 HMI ku]. Beberapa hari dirumah. Si Lelaki mengajakku Kopdar.
Bersama teman-teman nya ia menyambangi rumahku. Sedikit kikuk aku melihatnya [maklumlah udah lama gak ketemu]. Untunglah semua temannya rame [rame ceritanya], jadi bisa bikin suasana cair.
Esoknya ia mengajakku bertemu kebali tepat ketika aku sedang bertandang dirumah 'cinta monyet'nya yang sahabatku sampai sekarang. Ketika aku dan sahabat sedang asik bercerita tumpah ruah, telponnya mengagetkanku. Kikuk bukan kepalang.
"Dari siapa, da'? tanya si sahabat
"Dari catur, dia tau aku disini, pengen ngajak ketemu sekalian kan dah lama kalian gak ketemu" kataku ngeles
"?? kok bisa tau no mu" tanyanya
"iya, dari temen sekolahnya dulu" kataku lagi.
Maka berangkatlah kami dikala itu menuju 'sinar plaza'.

***

Sesampainya disana, teryata ia tak sendiri. Bersama sepupunya [yandi] dan beberapa temannya telah menunggu kami di musholla. Selesai Sholat zhuhur, kami menuju sebuah tempat makan di lantai atas. Kala itu, bukan aku yang berjalan beriringan dengannya, tapi 'sang sahabat' yang juga pasti telah lama tak melihatnya. Sedikit cemburu memang, tapi sepupunya yandi mengajakku ngobrol di belakang mereka.
Bercerita layaknya teman yang lama tak ketemu, menyegarkan memang. Lalu kami pulang dengan fikiran kami masing-masing dan kenangan masa lalu.
Malamnya, ketika aku sedang menemani ayah menghirup udara di kota medan, tiba-tiba datang sebuah sms darinya. kira-kira bunynya seperti ini :
"Setelah ngobrol tadi siang, aku nggak bisa tidur. Banyak yang ingin aku bilang" sms nya
"bilang aja" sms ku
"Aku terpana dengan wanita ini dan melihatmu kini membuatku tak bisa tidur" sms nya
Selanjutnya ia mengirimkan sebuah SMS yang mengungkapkan persaaannya.
Ku tak bisa membalasnya saat itu, ada ayah, dan aku merasa tak enak karena ayah sedang sedih mengingat adikku sedang sakit.
Kusuruh ia menelponku 3 hari kemudian. Dan tepat 3 hari setelahnya ia menelponku, dan aku dengan pasti menjawab persaaannya. Har jadian kami, kami rayakan di sebuah tempat yang cukup romantis [rahasia :)].

Ialah pacar pertama dan terakhirku.

Maaf, bukan karena tak laku [seingatku ada beberapa pria yg mengajakku pacaran *songong bukan kepalang :))*], tapi aku cukup sibuk dengan idealismeku. Mr. catur datang sebenarny juga disaat yang tidak terlalu tepat. Aku mengidealismekan berpacaran setelah menikah. Setelah kembali ke Jogjakarta,p erasaan bersalahku meraja lela. Jelang 2 bulan, aku mengungkapkan perasaanku. 'Kita putus aja dulu, atau kita menikah sekarang?'. Tanpa kusangka dan equal to tanpa kuduga, Mr. catur menerima tantangan: 'oke kita menikah'. Surprised sekali diriku, aku sendiri ingin lebih meyakinkan diriku. Keputusan menikah sebelum menyelesaikan kuliahku, akankah disetujui keluarga kami. Malamnya kami bersama-sama meminta izin ke orang tua melalui telp. Aku menelpon ayahku, mengungkapkan niat kami. Seperti biasa, dengan seluruh kebijaksanaannya, ayah mengatakan "Kalo pida merasa yakin buat ayah gak masalah, cuma satu syaratnya, kuliah harus tetap jalan dan uang kuliah ayah yang bayarkan". Waahhh senang dong aku. Kabar yang tak sama datang dari keluarganya, keluarganya belum menyetujui, mengingat statusku yang belum tamat kuliah dan jauh sangat dari peraduannya. Buat ku tak apa, semua itu butuh proses. Mr. catur tak pernah bosan meyakinkan keluarganya untuk menikah denganku [menurutnya ia sudah pantas, karena ia sudah bekerja]. Alhamdulillah, pandangan orang tua lebih mencair. Mereka mengizinkan kami menikah namun harus setelah pernikahan kakak ke 3 nya. dan jelang masa itu, ibundanya menganjurkan kami bertunangan dulu nanti ketika aku mudik libur kuliah. Akhirnya jadilah kami bertunangan, dan beberapa bulan kemudian kami menikah. Rasa syukur yang besar aku panjatkan ke Allah. Karena semua rasa bersalah atas idealismeku selama ini tertutupi. Kami dapat menjalani proses kemesraan dengan halal walau dengan jarak yang jauh dan menghabiskan pulsa telp [red: Aceh-jogjakarta]
(bersambung ----. capek euyyy nulisnya)

****
29 Agustus 2010 (Nyambung lagi lah)

Sedikit Flash back judulnya

Kabar pernikahan diantara teman-temanku.

Selama berpacaran dan bertunangan dengan lelaki ini, hanya ada 3 orang sahabatku di komisariat yang tau hal ini (Fajri, adam, dan Wakid). Aku menyimpannya, sedikit takut kalau ada hal yang berhalang, yang membuat pernikahan kami tak sampai.
Selama penyimpanan itu, ada seorang teman yang yakin aku tak akan menikah dalam waktu dekat. Ntah bagaimana awal obrolan terjadi, tiba-tiba dia berkata "Saya gak yakin kamu menikah tahun ini, kamu pasti maunya kerja dulu, lagian kamu masih kecil sekali"
helloooo...... i'm 22 saat itu. Taklah kecil kurasa. Tapi wajar kok banyak menganggapku imut-imut .. jangankan dulu, sekarangpun masih banyak yang tak percaya aku sudah punya anak dua.. kayak anak SMP kata mereka [hohohoho.. ini namanya merendahkan diri menaikkan mutu.. alias pede tingkat 7 :))]
Saya jawab tantangan si teman dengan bertanya "Kalau ternyata saya menikah tahun ini, gimana mas?"
"Saya akan ajak kamu makan di temapat makan manapun yang kamu mau" Tantangnya..
Girang bukan main... makanan enak bakal terbayang dimana.... ya iyalah.. secara beberapa bulan lagi aku akan menikah, tanggal pernikahan sudah di tetapkan, undanganpun segera dibuat... xixixixixi
Tak cuma itu seorang adik kelas pernah meramal tanganku, sambil berkata " Mbak fida bakal menikah diatas umur 25 tahun katanya" hihihihi... aku senyum-senyum simpul...

Kira-kira 1 bulan medekati pernikahan, aku mulai mengabarkannya ke teman-temanku. Kaget bukan kepalang mereka semua. teman, teman Komisarita HMI, teman - teman di Accounting International Program seangkatanku, juga teman-teman lain.
Undangan aku kirimkan ke komisariat saat aku sudah berada di Medan.

****
Pengantin Baru Jarak Jauh

Tak mudah menjadi pengantin baru dengan jarak beberapa propinsi. Aceh-Yogyakarta.. berat di rindu.. berat di ongkos.. dan berat di pulsa. Beberapa pasangan muda menikah dini namun mereka tetap di naungan yang sama, di kota yang sama. Tidak seperti kami, tantangan kami begitu besar. Apalagi saat itu aku sudah mulai mengajukan judul skripsi. Sengaja aku memilih dosen pembimbing yang agak menakutkan... namun kabarnya ia dapat memotivasiku dan banyak nilai positifnya. Tak banyak yang memilihnya, hanya orang-orang tertentu .. dan punya keberanian lebih aku rasa. Selama 2 bulan awal-awal pengajuan skripsiku, kerjaanku hanya bolak balik Yogyakarta - Lhoksmawe. Tak terketik sedikitpun kata pembuka untuk judul sripsiku ini.

Kabar gembira

Dibulan ke 3 aku mulai muntah-muntah, lemas, mual. Aku periksakan ke RS Panti Rapih.. ternyata Kabar gembira itu benar adanya. Janinnya 'Hamdi' berada di dalam tubuhku... nyawanya berada satu nafas denganku, hidupnya menyatu dalam kehidupanku. Aku bersyukur tak terhingga. Mengabarkan berita gembira ini ke semua orang yang aku temui. tak perlu malu aku rasa, toh aku hamil dengan dengan suami :))
Kekuatanku datang tiba-tiba, niat merampungkan skripsi menjadi besar tak terhingga. Aku sadar aku tak boleh melahirkan di kota ini. Disin aku hanya punya adikku yang masih SMU, sedang tak ada satupun keluarga lainnya. Jika aku tak bisa wisuda bulan 5, alamat aku bakal melahirkan disini.. oh Noooo.... skripsiku harus kelar. Anakku harus mempunyai ibu yang berjiwa besar dan kuat, aku tak mau ia malu ketika melihat undangan pernikahannya nati tidak ada gelar orang tuanya, padahal pendidikanku hanya tinggal selangkah
Kekuatanku tak sepenuhnya masuk ke orangorang disekelilingku. Di awal-awal kehamilanku, seluruh keluarga besar, teman-teman dan sahabat dekat bahkan khawatir dengan keadaanku. Jauh dari suami, skripsi, dan tanpa keluarga besar disampingku. Ah tidak, mereka salah.. aku tak sepenakut itu. Ini semua sudah aku perhitungkan. Keputusan menikah berarti aku juga telah siap memutuskan untuk memiliki anak. Semangatku tinggi, masa depanku semakin tercerahkan, dan aku semakin maju untuk berfikir.
Segera aku juga memborong beberapa buku kehamilan, pengasuhan anak, orang tua, dan lain-lain yang berhubungan dengan anak. Dan segera pula aku kembali mendatangi dosen pembimbingku. Tak kubiarkan dosen pembimbingku mengetahui kehamilanku, karena tak sedikitpun aku ingin di iba olehnya. Jika skripsi ini berhasil sesuai targetku, maka itu adalah jerih payah akau dan anakku.
Alhamdulillah, di sela-sela pengerjaan skripsi.. seluruh temanku mendukungku. Seluruhnya.. dan tak satupun dari mereka yang mengabaikanku. Aku berterima kasih kepada Allah karena diperkenalkan dengan teman seperti mereka (Opi, Fajri, Adam, wakid, denok, genia, ety, mas deni, komfak FE UII, semuanya.. semuanya big thanks for all of you guys, Your help and care won't be compared to anything)
Tak pernah terbayangkan aku bisa sesemangat itu dalam bertanggunga jawab. Walau keadaanku fisikku lemah [berulang kali pingsan di beberapa tempat], tapi janinku tetap kuat. Setiap pingsan aku selalu bertanya ke dokter bagaiman janinku. Dia katakan kehamilanku luar biasa baik. Hanya saja aku perlu banyak makan. Mual dan muntah setiap mencium bau makanan yang membuatku susah menelan sesuatu. Hanya buah dan biskuat yang bisa masuk ke kerongkonganku tanpa ada 'Hueeekkk' dari mulutku.
Skripsiku menggunakan metode research, objekku adalah semua jenis akuntan, mulai dari Akuntan pendidik, akuntan publik, akuntan perusahaan, dan akuntan sektor umum. Selain itu, skripsi wajib berbahasa ingris [berhubung program yang aku ambil adalah International Program].
Berhubung objek adalah akuntan, dan harus mencari 100 sample [awalnya] menjadi 75 [sample akhirnya karena akuntan perusahan memblokade diri karena takut datanya dilihat. Mencari 75 sample sebenarnya adalah perjalanan melelahkan. Setiap hari aku berangkat jam 7 pagi, menyebarkan questionaire padat tanya, menunggu disatpam, menunggu jawaban, mengejar dosen, kehujanan, kepanasan, dll. Sampai-sampai opi dan teman-teman menganjurkan agar anakku diberi nama 'si Tegar atau Tegarwati' hehehehhe...
75 sample bisa aku dapatkan dalam tempo 1 bulan dengan berbagai cobaan. Seluruh sample tidak ada yang di manipulasi, murni berasal dari objek yang aku dapatkan. [bagiku, memanipulasi objek bukan tindakan bertanggung jawab]. Proses pendataanpun lebih mudah ke depannya. Aku hanya tinggal bolak balik ke dosen pembimbing. Walau terkadang ada omelan, atau sindiran kalau salah.. tapi itu bukan batu sandungan. Bahkan aku semakin rindu dengan dosen pembimbing satu itu, sehari 2 kali aku bolak-balik ruangan dia.. hehehehehe.. biar dia eneg sekalian liat wajahku :)) [Prof. Hadri Kusuma, Drs, MBA, DBA Thank you for everything, May Allah bless you and your family].
Bimbinganku selesai, skripsiku akhirnya di setujui tanpa adalagi coretan. Saatnya aku ke bimbingan bahasa [Mrs, Any pujiastuty.. thank you for your smile]. Untunglah tak banyak kendala, tak banyak pula yang perlu diperbaiki, dan akhirnya seluruh penggunaan bahasa Inggrisku disetujui juga. Dan aku bisa mendaftarkan wisuda di bulan 5 tahun 2004, tepat 2 bulan sebelum kelahiran Muhammad Hamdi Kurnia Rahman. Semoga Allah menjadikannya Hamba yang cerdas dan masuk Surga.

(Bersambung lagi yaaa... saya mo pergi soalnya :))

Senin, 16 Agustus 2010

PERTAMA KALI BELAJAR MENYETIR

Diumur berapa aku belajar menyetir?

Kapan pertama kali kamu belajar naik mobil? Ada yang waktu SMP, SMU, waktu kuliah, ada juga yang setelah kerja karena tuntutan kerja dan lingkungan. Aku sendiri mulai mengenal dunia setir menyetir dan akhirnya menjadi supir emakku diumur 17 tahun. Kenapa nggak 16 tahun aja pas kelas 1 SMU, kan judulnya udah SMU?.. Lah ya gak bisalah... jelas-jelas peraturannya umur 17 tahun.. (itu loh yang selalu jadi alasan si ayah kalau aku ingin belajar nyetir waktu kelas 1 SMU).
Setelah ulang tahunku yang ke 17, awalnya aku minta belajar naik motor. Pengen naik motor ke sekolah, itu alasanku ke ayah. Gak tau apa karena aku anak paling besar sendiri (mksdku 2 adikku masih SD dan bayi), si ayah langsung menolak mentah-mentah, sambil berkata "Itu namanya bikin ayah cepet mati, setiap hari jantungan". Nah loh .. ini nih derita anak pertama. Jadi bahan percobaan. Ayah masih blom berpengalaman punya anak remaja. Padahal kesini-sininya.. 2 adekku malah udah bisa naek motor waktu SMU, malah si bontot udah di bolehin belajar waktu SMP (walau tetap tak boleh keluar dari sekitaran komplek DPR dekat rumahku).
"Ya udah, besok pida belajar naek mobil aja. minta ajarin mak enda. Kalo naek mobil lebih aman kalo kecelakaan, paling yang lecet mobilnya". Kalau tak salah ingat, kira-kira begitulah kata-kata ayahku saat itu. Aku kegirangan dong, soalnya dulu kalau masih SMU udah bisa naek mobil kan keren.

Bagaimana latihan menyetirku dihari pertama dan kedua?

Latihan menyetir di hari pertama bersama Mak enda (sebutan untuk adik laki-laki ibuku), seharian keliling komplek. Dasarnya memang aku yang cerdas ya cepat bisalah *PD tingkat tinggi*. Kalau cuma keliling komplek aja, nggak ada tantangannya sepertinya. Besoknya aku ijin ke ayah minta bawa mobilnya ke kota sambil belajar. Nggak tau kenapa si ayah ngasih ijin aja. Memang TOP Begete lah ayahku yang tiada duanya itu. Mobil keluar dengan selamat, menyusuri kota medan dengan sesuka hatiku. Sepertinya, perjalananku saat itu juga masih belum menantang. Lalu aku menantang diriku untuk masuk ke parkiran medan mall dan Thamrin Plaza. Nah ini dia baru tantangan. Hari kedua udah naik parkiran medan mall dan thamrin. Eh jangan salah loh, untuk ukuran newbie alias beginner, klo bisa menaiki kelok-kelok parkiran yang menuju lantai atas mall dan plaza, udah sangat hebat tuh. Biasanya kan untuk pemula harus menepis rasa takut dulu. Apalagi kalau pijakan gas tidak seimbang, bisa-bisa meluncur kebawah.

Menghadapi rasa takut yaitu dengan berjalan ke arah rasa takut itu

Mengawali niat dengan Bismillah, semangatku menggelora, maju terus pantang mundur. MEDAN MALL.... AKU DATANG!!!! teriakku dalam hati. Medan mall yang bertetangga akrab dengan pasar central dan sambu ini sudah jelas crowded alias 'semak'. Segala jenis kendaran nyeloyor sesuka hati. "Ini Medan Bung, jangan kau senggol-senggol aku.. nanti kusenggol balek kau", yah begitulah petuah orang medan ini. Tiket tanda masuk sudah kubayar, perjuanganku harus kuteruskan. Jangankan untuk ke parkiran atas, berjuang di parkiran bawah yang crowded bin semak tadi sudah cukup melelahkan. Akhirnya, sampai juga aku ke bibir putaran paling bawah, aku terdiam sejenak.. ya sejenak saja, tak boleh banyak (nanti di teriakin sama supir yang antri dibelakang), lalu aku mulai menancapkan gas dengan gigi 1 mengelilingi jalur puntaran yang terus menanjak tanpa henti sampai di lantai 4-5 (lupa saya medan mall itu sampai lantai berapa ya). Ternyata perjuanganku sukses dengan selamat. Lalu aku kembali turun, dan berputar naik lagi sampai aku puas. Setelahnya, aku menuju Thamrim plaza yang kalau tak salah parkirannya ada di lantai 7. Bentuk tanjakan tentu tak sama dengan Medan mall yang muter-muter bak spiral dan bikin sakit kepala, Tapi menanjak lurus setiap melewati satu lantai. Buatku lebih mudah asalkan injakan gas tetap stabil, dan tidak terpengaruh dengan mobil dibawah.
Aku pulang kerumah dengan baik tanpa lecet sedikitpun. Begitu seterusnya, sampai akhirnya aku dipercaya untuk memegang SIM A.

Apakah aku pernah menyenggolkan mobilku hingga lecet atau babak belur?

Ya jelas pernah, anak kecil aja kalau belajar naik sepeda pasti pernah jatuh. Nah masalahnya justru aku membuat lecet mobil ayahku disaat aku sudah mendapatkan SIM A, wah benar-benar perempuan luar biasa. Beginilah kalau tak mau menjadi yang biasa-biasa saja, sampai metode jatuh alias 'ngelecet' nya dilakukan disaat sudah mendapat sertifikat uji kelayakan lulus menjadi driver si emak.

Lalu apakah sampai sekarang aku tidak bisa naik motor?

Hohohohoho... tentu tidak sepeti itu. Ketika kuliah di jogja, susah sekali rasanya kalau tak punya kendaraan. Angkutan sudah mengistirahatkan diri tepat pukul 18:00. Apalagi aku ini aktifis super sibuk... *halah gayanya*. Benar-benar berat kalau mau keluar malam untuk melakukan kegiatan atau sekedar mencari makan. Harus nebeng terus sama orang. Akhirnya, aku mengajukan proposal untuk dibelikan mobil alakadarnya. "Ya paling nggak bisa jalan lah, yah", kataku dalan proposal yang kuajukan lewat telp. Ayahku menyetujui, hanya saja tunggu setelah panen udang katanya (maklum ayahku kan PNS, jadi tak mungkin membelikan mobil dari gaji PNS nya), Masa yang dinanti telah tiba, mobil telah dibeli, dan siap dikirimkan ke jogja. Hati riang gembira, tentunya. Namun di tengah kegembiraan, aku dengar dari emakku, kalau tambak udang gagal panen, dan sepertinya si emak butuh modal. Dengan ikhlas namun keluar air mata, kutawarkan mobil itu untuk dijual kembali. Si emak terkejut, sedih bercampur senang, ia sedih karena tau buah hatinya yang baik hati ini menunggu kedatangan mobil itu, namun tak bisa berbuat apa-apa. Yah sekali lagi, inilah derita anak pertama, selalu merasakan naik turun keuangan orang tua, yang jadi adik-adikku yang enak.. karena jarak kami jauh.. pasang surut keuangan orang tua tak berdampak ke mereka, adikku malah langsung di kasih mobil pribadi waktu belajar naik mobil ketika kuliah (walau belajarnya telat :D). Lagipula aku tau, sebenarnya ayah terlalu memaksakan diri membeli mobil itu karena kadung berjanji padaku. Padahal, saat itu panen sedang tak bagus. Biar bagaimanapun, Terima Kasih ayah, setidaknya kau tetap memberikanku yang terbaik. Foto mobil itu tetap tersimpan di albumku. Dan usahamu menyenangkanku tetap tersimpan di ingatanku.
Ketika mobil gagal menjadi milikku, dengan inisiatif sendiri aku belajar naik motor temanku. Untung semua temanku baik hati, mau meminjamkan motornya untuk ku jadikan percobaan. Syukur-syukur gak pake nabrak, ini malah sempat nyenggol mobil orang dari belakang. Untunglah, si empunya memafkan (padahal mobilnya udah lecet). Belajar naik motor tak lama, cuma perlu menghilangkan doktrin "kalau nabrak, yang lecet langsung kulit" aja. Masalahnya itu yang rada berat, tapi usahaku berhasil. Aku bisa naik motor tanpa takut, setidaknya kalau memang ada apa-apa, berarti sudah menjadi takdir Tuhan. Lalu aku menelfon ayahku, mengatakan aku sudah bisa naik motor. Ayah terkejut, tapi tak bisa bilang apa-apa. Namanya juga udah bisa, mau dilarang apa coba. Waktu liburan di medan, aku disuruh nyoba motor dirumah, aku antar mama keliling dan pulang dengan selamat. Selanjutnya ... sudah taulah kira-kira apa yang disetujui ayahku. Sebuah motor meluncur ke Jogja bersama diriku. Akupun tak lagi kesusahan dimalam hari. :)