Minggu, 26 Desember 2010

Cerita Komentar Pembaca


"Hi Fida, Suka banget sama cerpen-cerpenmu.. terutama yang judulnya SIFA dan CATATAN, keren euy...."

Sms itu baru aja aku dapatkan dari seorang sahabat ku dijakarta, Riska damayantu yang suka aku panggil "Jeand dut", selama ini para pembaca cerpenku selalu memuji "DOSA LAMA", mungkin karena itu yang baru aku publish di facebook.
Ketika launching tanggal 5 Desember 2010 kemaren, ada sebuah komentar menarik mengenai cerpen yang berjudul "Catatan" ini. Seorang peserta, memberikan komentar pada salah satu tulisanku di halaman 110, yang isisnya seperti ini:

"Aku muak dengan perjalanan cinta yang memegang tiang pernikahan ini, tidak ada kata sepakat, dan selalu berjalan di dua arah yang berbeda. Aku tak pernah membayangkan pernikahan neraka seperti ini. Pernikahan yang hanya membuatku perlahan-lahan habis dimakan fikiran. Menghancurkan seluruh tubuhku dalam kemarahan, dan menafikkan cinta dengan kebencian teramat dalam. Aku benci mencintainya. Itu yang kurasakan sekarang ini. Secepatnya ingin lepas, tapi aku tak berdaya, selain mencintainya.. aku juga terikat norma dan agama. Ohhh sungguh jika bercerai itu tak memalukan, jika kata „janda‟ itu tidak menurunkan derajatku, dan jika akibat perceraian itu tidak buruk bagi anakku, aku pasti berani untuk mengambil keputusan cerai sekarang juga. Jiwaku seperti habis, hilang berbentuk debu yang berserakan terbawa angin. Dan aku lunglai dengan seluruh fikiran ini.
Aku tak dapat lagi membedakan makna keberadaanku untuknya, dan makna keberadaannya untukku. Aku hanya terpenjara dalam fikiran dan sesakku sendiri. Aku merasakan pudarnya kebersamaan selama berhari-hari, dan aku muak. Rasanya aku sudah tak ingin lagi berbagi dengannya, tak ingin lagi mencintainya, dan tak ingin lagi bercerita dengannya. Tak kan ada jalan bagi kami untuk menyatukan fikiran kami, karena kami adalah manusia yang sungguh di luar jangkauan. Tak perlu menghilangkan cinta untuk berpisah kurasa, hanya sebuah keberanian YA... KEBERANIAN!!"

Tulisan itu sebelumnya sudah di baca oleh peserta tersebut dirumah, lalu ia bertanya seperti ini:
"Saya ingin memberi tanggapan pada tulisan fida dihalaman 110, tadi saya dengar kan sebahagian besar puisi-puisi di buku ini adalah puisi yang diilhami dari kejadian sehari fida. Di halaman 110 saya agak risih dengan tulisannya.. saya mau tanya.. apa suami fida tidak marah ada tulisan seperti itu di buku yang dibaca banyak orang, karena inikan masalah pribadi"

Saat itu saya memutar otak mencari tulisan seperti itu disalah satu puisi saya, untungnya pembedah buku yang bernama Riza Rahmi segera membuka buku yang tidak ada di tangan saya. Barulah saya sadari bahwa kalimat tersebut adalah salah satu tulisan di salah satu cerpen saya yang berjudul 'CATATAN" dan bukan disalah satu puisi saya. Mungkin pembaca tersebut terkecoh dengan judulnya dengan menyangka bahwa itu adalah catatan diary saya.

Saya langsung menjelaskan bahwa tulisan itu adalah cerpen, dan bukan kejadian nyata dikehidupan saya. Tapi saya tersanjung dengan komentar tersebut. Bahwa ia malah merasa itu adalah sebuah kejadian nyata :)

Di kesempatan lain, seorang adik memberi komentar di Facebook bahwa ia terkecoh dengan cerita "Dosa Lama"...

"Kak, aku terkecoh loh sama cerita "DOSA LAMA", ya ampun. Kiraiinnn...."

Aku langsung tersenyum, bahagia sebenarnya, karena justru ending tulisanku dianggap tidak monotan dan tertebak. Ini sebuah vitamin yang tinggi buatku.
Selain pujian tentu saja ada juga kritikan soal EYD yang masih ada kesalahan, aku sungguh berterima kasih kepada semua kritikus dan komentator, karena dengan begitu berarti mereka membaca buku saya ^_^

Kamis, 16 Desember 2010

Celoteh Hamdi-Ahza

Selasa, 14 desember 2010

Ahza udah tidur, sedang hamdi lagi belajar. Belajar selembar.. pertanyaannya berlembar-lembar..

"Ma, bunga sedap malam itu gmn? berarti bisa di makan? kan namanya 'sedap?" atau "Ma, Pare kan pahit kok ada yg mau makan?" trus "ma cariin di google, bola bekel itu kyk mana bentuknya, sekalian sama cengkeh kering ya, Ma?"Dan aku baru tau dari Hamdi ternyata sedap malam memang bisa dimakan :))

****

Kemaren waktu dijalan Hamdi banyak cerita, salah satunya:
"Ma, lipas itu kan waktu musim panas dia beranak seperti manusia, klo musim gugur dia beranak memakai telur." (Maksudnya melahirkan dan bertelur)
Aku: "Iya ya?? mama aja baru tau."
Hamdi: "Iya Ma, makanya makanya mama baca."

*dooohh

****

Barusan ada lagi:

"Ma, Nila itu warna apa, Ma?
Aku: "Ungu"
Hamdi: "Mana pula.. bukaaann.. liat ini ya hamdi baca: pelangi mempunyai 7 warna, warna merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan Ungu"
Aku: "ohh.. klo gitu nila itu ya indigo..."
Hamdi: "apa itu indigo?"
...Aku: "ya kayak ungu juga"
*akupun bingung :))

****




Sabtu, 27 November 2010

Serunya Halal bihalal FLP Aceh Jilid 4 (Kecelakaan kecil dikepala Hamdi)

Ceritanya, kunjungan kami berlabuh di rumah Isni, salah satu pengurus FLP. Rumah yang mempunyai lingkungan yang sejuk dan masih berbau hijau, alias asri. Kesananya aja harus melalui pemandangan yang luar biasa. Jalan setapak namun bersih, sawah, pohon-pohon rindang, juga aneka bunga di pinggir jalan. *baru sadar klo ada daerah kayak gini di darussalam

Dirumah Isni dan Rumah-rumah sebelumnya, Hamdi dan Ahza *terutama Hamdi, memunculkan ke'unik'an nya yang kata sebagian orang di kategorikan 'lasak'. Namun, lagi-lagi Hamdi mampu menarik perhatian teman-teman barunya di FLP (ah Hamdi, temanmu memang selalu kakak-kakak dan Om Om, btw kenapa klo perempuan dipanggilnya kakak tapi laki-laki dipanggilnya om? *aneh). Bahkan dua wanita manis (ingat Nuril dan Riza), mengaku jatuh hati pada Hamdi dengan berulang-ulang mengatakan I LOVE YOU, Hamdi.
*(di jawab dengan malu-malu oleh Hamdi : "Iiiiiiiihhhhhhhhhh")
Diam-diam si mama langsung menghitung berapa mayam yang akan disodorkan dua wanita paruh baya itu kelak *mama matre

Ahza, bukannya gak menarik. Namun Ahza lebih ke-perempuan-an alias cewek banget. Kalau rajin ngobrol sama Ahza, celotehannya sering bikin kita terkagum-kagum *hmm. Tapi Ahza sendiri sebenarnya berusaha mencari perhatian untuk mendapat perhatian seperti abangnya. Maka iapun mendapatkan seorang teman untuk bermain injit-injit semut untuk pertama kalinya (Lagi-lagi Baiquni).

Hujanpun tak reda-reda, Sedangkan Hamdi dan Ahza menghabiskan waktu bermain berdua. Sampai pada saat Ahza 'ngelendot' dibadannya Hamdi, dan Hamdi menjatuhkan badannya kebelakang yang nggak disadarinya, ada sebuah gelas kaca disana, lalu...
"Prangg"
Gelas itu pecah, Dan aku langsung menghampiri Hamdi yang menggosok-gosok kepalanya. Awalnya aku tidak melihat tanda-tanda luka sampai aku mengangkat tangan dari kepalanya.. yang ternyata sudah ada darah dan pecahan kaca dibaliknya *OMG. Berusaha tidak panik, walau sebenarnya miris melihat anak yang terluka dikepala dan terbayang kejadian 'kepala bocor' 5 tahun lalu yang harus membuat Hamdi menahan sakit beberapa jahitan. Aku langsung membawanya ke tempat terang, membuang serpihan kacanya, dan menyirankan air kekepalanya sampai bersih, dan memeriksanya lagi. Untungnya teman-teman FLP membantu membersihkan luka dan mengobati (mungkin Nuril sedang mengambil hati calon Ibu mertua *ehem). Alhamdulillah, luka itu tidak besar. Sebuah sobekan kecil namun karena letaknya di kepala, maka darah yang mengalir lebih banyak.

Sepulang dari rumah Isni, Hamdi mendapatkan sebuah oleh-oleh "perban" dikepala, dan meninggalkan jejak gelas pecah. *maaf ya Isni. Sedang Hamdi, masih ceria tanpa tangisan *hebaatt. Ahza yang melihat abangnya terluka berusaha memberi sayang dengan wajah iba. Ya Ahza memang selalu menjadi wanita lembut kalau salah satu keluarganya sakit :) *sungguh ke-wanita-an sekali.

Walau kepala bagian belakang berbalut perban, tapi hamdi tak menghentikan petualangannya untuk berkendara dengan motor ditengah gerimis *Duh. Sedangkan Ahza menyerah, dengan cara ikut masuk ke mobil untuk melanjutkan halal bihalal berikutnya.


Serunya Halal BiHalal FLP Aceh (Rumah Kak Cahaya)

Maka, kami segera melanjutkan perjalanan. Tapi kali ini tidak langsung menuju RumCay, Wahay? eh Why?. Aku teringat belum memberikan sebuah hutang janji untuk acara 1 blogger 1 book nya Aceh Blogger Community. Maka, kami menyambangi sebuah toko buku yang ikut mensponsori 'Launching" Bukuku nanti, Tb. Pustaka Paramitha. Sebagai catatan, Tb. Pustaka Paramitha dan Tb. Alif cukup layak dijadikan tempat berbelanja buku. Selain karena mereka salah dua sponsor acaraku nanti, tapi memang di toko buku tersebut banyak sekali buku-buku bagus yang jarang di jual di toko buku lain, terutama Tb. paramitha.

Acara memilih buku selesai dengan ending hamdi tak mau pulang, sedang sibuk membaca buku yang dikiranya buku perpustakaan itu. Sebelum sebuah mata memandang tak enak, maka dengan enak hati aku memanggilnya berulang-ulang *sampe dower. Hamdi mememelas, merengut, namun kembali berbahagia aman sentosa setelah aku mengatakan, bahwa RumCay adalah perpustakaan mini.

Di perjalanan, hamdi berulang kali bertanya
"Ma, dirumahnya kak cahaya nanti bukunya banyak?"
"Bukan Rumah kak cahaya, tapi rumah cahaya"
"kok bilangnya rumah cahaya, kan ada nama orang, cahaya"
"iya tapi ini bukan nama orang, tapi nama rumah"
"kok rumahnya dikasih nama?"
"kenapa ya?.... hmm... karna disitu banyak orang ngumpul, jadi dikasih nama. samalah kayak warnet kita. Hamdi blom pernah ya mama ajak kesana. Eh adek udah loh".
"Kok Ahza udaaaaaaaaaaaaaahhhhhhh?"
"Karena perginya hari minggu, kalo hari minggu kan Hamdi lebih milih main game. Kasian kan Hamdi diganggu".
"Harusnya mama tanya duluuuuu hu .. hu ... hu.. " *nangis dehh

Sampailah rombongan ibu dan anak ini kerumah kak cahaya *eh. Ternyata sudah ramai yang berkumpul. Memasuki pintu masuk, Hamdi dan AHza yang ntah bagaimana langsung mendatangi om Baiquni untuk bermain ludo *berasa udah kenal dekat aja si hamdi ini. Tapi ya Hamdi memang seperti itu. Selang beberapa menit, berangkatlah kami dengan berkonvoi ramai-ramai untuk mengunjungi para teman-teman baruku di FLP Aceh.

bersambung jilid 3
(Kecelakan kecil di kepala Hamdi)




Jumat, 19 November 2010

Serunya halal Bi Halal FLP aceh (bagian 2, "rapper dan NO ON" TIME)

Acara mandi Ahza masih belum kelar, tangisannya karena ditinggal olehku akhirnya bersambung keluar kamar mandi. dengan tetap melafazdkan

"Ahza gak mau basahh lambuttt" berulang kali.

"Ya udah yok ayah mandiin lagi ya... yang ini rambutnya ayah keringin dulu pake' handuk". Dengan inisiatif kencang, si Ayah menawarkan diri

"huuuu u u... iyaaa" jawab Ahza dibuat iba

Aku keluar dari kamar masih dengan cemberut ke Ahza (pura-puranya ikut ngambek), tapi ngambekku ala emak-emak cerewet

"Ahza gitu terus.. pas lagi pengen cepet slalu bikin-bikin alasan. Klo kayak gitu terus, Ahza gak usah ajalah ikut mama" kataku

Ehhh.. ahzanya nangis lagiiii.....

"yeeee... Ahzanya udah diem malah emaknya yang ribut. Jadi nangis lagi kan". Kepala keluarga malah jadi kesel dengerin aku nge-rap ngelebihin rapper .

Akhirnya ritual mandi Ahza selesai juga. Kalo untuk urusan memakai baju, aku gak perlu khawatir. Putri manisku itu lebih suka pake' baju sendiri. "udah gede" katanya. Lalu kami turun, dan masuk ke mobil sambil melambai manis pada ayah yang ditinggal.

Sesampainya Di RumCay alias Rumah cahaya, ternyata yang tepat waktu baru 2 orang. Mereka itu Roby dan 1 other. Beberapa menit nongkrong sambil bengong disana (sedang ahza lebih cerdas milih kegiatan, yaitu liat-liat buku anak), akhirnya aku pamit dulu mo ngejemput si Hamdi. Soalnya kupikir saat itu pasti Hamdi juga udah selesai ngeliat para Lembu dan Kambing di jemput ajalnya. Daannn... bener aja, sesampainya di MiN Model Banda Aceh, aku ngedapetin Hamdi lagi main Ludo bersama teman lain dengan keadaan sekolah yang udah sepi. Dibagian lain, kulihat daging-danging sedang terpajang manis di karpet plastik dengan 'bau daging' yang khas (bikin aku eneg).

Serunya Halal bihalal bareng FLP Aceh (bagian 1)

Gak nyangka klo hari ini bakal ikut seru-seruan bareng anak-anak mudanya Flp Aceh. kira-kira dua hari lalu, dapet sms dari Riza rahmi yang ngakunya pelayan umum *weleh, bilang kalo tanggal 20 mau kovoi halal bihalal ke rumah-rumah sejawat. Kayaknya seru kan.. sekalian jalin silaturahmi sebagai orang baru.
Nah, tanggal 20 tepatnya tadi pagi, aku ngecekin lagi sms si pelayan umum. Tak terlihat kemarin, klo ngumpulnya itu pagi jam 09:00. Huaaaa... sussehhh donkk...-_- . Masalahnya terlalu banyak alasan. Pertama, Jam segitu statusku sebagai 'pure' Ibu Rumah tangga masih berlaku. Dengan kata lain, kerjaanku berberes-beres pagi kayaknya masih berlangsung dan tak bisa diganggu gugat. Kedua, jam segitu adalah jadwal suamiku ngajar di Univ. Ubudiyah, dan biasanya dia bawa mobil ke kampus, apalagi motor sedang masuk bengkel.
Tapi ternyata, sepulangnya si 'abang sayang' dari nganter Hamdi sekolah, si abang malah tidur-tiduran di tempat tidur. Langsung deh aku tanya:
"Loh, Abang gak ngajar?"
"Nggak, kayaknya sih masih libur. Unsyiah libur seminggu kan?? ya berarti Ubudiyyah gitu juga ya?" Jawabnya... lahhh kok malah dia yang nanya -_-
"yaahhh... tau gitu tadi pida siap-siap aja ikut halal bi halal bareng anak-anak FLP". Kataku.
"Loh.. ya ikut aja, gih. Kan masih bisa klo mau siapan sekarang". Katanya
Aku mikir.. trus mikir lagi...
"Okelah.. ntar sekalian pida aja yang jemput Hamdi di sekolah"
Aku langsung ngajakin Ahza mandi bareng.. maksudnya biar cepet aja. ehh Ahza nya malah minta macem-macem. Minta makan dulu lah, minum dulu lah. Terpaksalah diriku ini mandi sendiri dulu. Sehabisnya mandi, kebiasaan sehari-hari Ahza kumat.
"Ahza mo mandi sama mamaaaaa... mama mandi lagiiii... mama mandi lagiiii... Ahza gak mau mandi sendiliiii" teriaknya.
*hadeeehhh.. dimana orang mau cepet.. malah di ajak lelet
"Ya udah ayoklah mandi lagi". Terpaksalah daku harus mandi kedua kali. Waktu mandi, kubasahi rambutnya. lalu ke semprotkan shampo ke tangannya. Otomatiskan dia yang nyampoin rabutnya sendiri... ehhh tiba-tiba ahza nangis sambil bilang..
"Ahza gak mau basah rambutttt.. ahza gak mau basah rambuttt.. ahza gak mau basah rambuuuttt".. katanya berulang kayak baru ngapalin pelajaran sejarah..
Anak-anak emang adaaa aja caranya buat narik perhatian. Padahal kan dia sendiri yang nyampoin rambutnya, lah kok bisa tiba-tiba di tengah jalan malah sadar klo dia sebenarnya gak pengen basah rambut *wadoh
"Ya jadi gimana dooonggg???? Kan rambutnya udah basah, trus Ahza sendiri kan yang nerima shampo dari mama". Katanku kesal
"Ahza gak mau basah rambut pokoknya"
"Ya udah deh, Ahza ulang mandi aja sama Ayah". Aku keluar dari kamar mandi, ngebiarin si kecil yang nangis dikamar mandi. Habis bingung mau gimana. Rambutnya kan udah terlanjur basah. Urusan selanjutnya kuserahkan kepada kepala keluarga yang memang lagi nganggur.

(bersambung)

Mengapa Puisi?


Mengapa aku suka dengan puisi?


1. Puisi penuh diksi indah
Aku semakin kaya kata, kaya wacana. Kata-katanya lebih meneduhkan daripada kalimat biasa. Terkadang suatu masalah dapat lebih indah difikirkan dengan merangkainya dalam puisi

2. Kaya wawasan
Setiap kali ingin menempah sebuah puisi, aku mengumpulkan banyak sekali sumber kata. Latar belakang, makna, dan filosofinya. Sehingga, otomatis aku semakin sering membaca. Bayangkan untuk sebuah puisi, aku harus membaca minimal 10 artikel tentang apapun (bunga, kimia, batu, udara, tata surya, dll). Banyak ilmu bukan?

3. Hemat kata dan perasaan dikala marah
Dengan menumpahkan amarah ke dalam puisi, kita tidak perlu mengumbar amarah langsung yang justru berdampak buruk (bisa jadi terapi marah buat saya). Setiap kata mampu memuaskan kita, saya sendiri merasakannya. Bahwa dengan puisi, marah saya tak perlu berkelanjutan. Bahkan tak semua orang harus tau masalah itu secara detil. Baik bukan? hanya dengan beberapa bait dapat dijadikan terapi marah hingga menghemat perasaan

4. Satu kalimat menggambarkan ribuan kata
GAk percaya?? coba deh baca puisi-puisi saya di "Puisi dianta HAri".

5. Kata-kata penyambung Rasa
Semua orang tentu lebih suka kalau dinasehati dengan baik. MAlah mungkin ada yang bahkan tidak suka dinasehati oleh orang sealim apapun. Hatinya yang keras justru akan lebig keras melihat orang yang mendikte dirinya dengan kata 'ini' 'itu' salah dan benar. Namun, tanpa dipungkiri, terkadang puisi dapat menyampaikannya dengan lebih baik, lebih bermakna, dan lebih menyentuh.

Contoh:


Bismillah
Kulapar, ENGKAU mengenyangkanku
sebelumnya terhidang selaksa Dzikir
dibalik gurat letih,
menghimpun ikatan kovalen antara aku dan ENGKAU
Atas namaMU
aku merunduk mengelupas kelemahanku
malu karena cinta terpenggal hanya sebait ayat
dan masih terseok diantara serat yang mengikat fikiranku
Padahal Engkau limpahkan gutasi disetiap jiwa yang ampun
Atau ini:
Tuhanku... Ada yang salah denganku.. aku tau itu.. Setiap langkahku ada Engkau di fikirku Tapi mengapa Tuhanku.... Ketika malam aku begitu hidup Percaya diri akan cintaku padaMU Tapii... Aku seperti Ratkirani yang kuncup dikala matahari menyapaku Begitu lemah.. dan malu dihadapanMu.... Bukan ini yang kumau wahai Penunjuk Jalan Berikan aku lebih banyak Gandharaj membaur dalam tubuhku Agar aku mampu mengharumkan setiap sudut hatiku Dan tak takut akan matahari yang menantangku

6. Rindu Lebih Berarti dengan menorehkannya kedalam bentuk Puisi
Suatu kali aku membaca ulang blog puisiku, beberapa puisi rindu berada disana, aku ingat semua bentuk kerinduan itu. Seperti menerawang kembali ketika rasa itu datang. Jadi membuat kerinduanku lebih berarti baik.

7. Pujangga dan Negri
Beberapa pujangga menorehkan penolakan, kritikan, dan kesedihan pada pemerintahnya ke dalam puisi. Mereka juga disebut pejuang dan perubah di angkatannya karena memberikan banyak motivasi untuk pemudanya.

ada lagi? Nanti saya fikirkan lagi ya :)





Kamis, 18 November 2010

[Buku Baru] Puisi diantara Hari


[Buku Baru] Puisi diantara Hari




Sudah tau belum, menerbitkan buku tidak seribet dan sesusah yg kita bayangkan. Smua bisa dinikmati dan di pelajari. Mari kita kupas bongkar rahasianya di Talkshow "Mudahnya menerbitkan buku", sekaligus launching Buku perdana saya "Puisi diantara Hari" pd 5 Desember 2010.

Tempatnya dimana?
- Aula Flexi Telkom Aceh, Jl. SA. Machmudsyah no 10A

Tiketnya mahal nggak?
- Wah, ya nggak dong.. Harga tiket hanya Rp 40.000 saja

Tapi 40 ribu kan duit juga, fasiliitasnya apaan tuh dengan duit segitu:
*hohohoho

- fasilitasnya:
- 1 Buah Buku "Puisi Diantara Hari"
- Snack
- Talkshow kit
- Door price:
Yang di sponsori oleh www.indie-publishing.com
- Voucher Diskon Belanja Buku di Toko Buku Alif
*GAK RUGI KAN

Pembicara siapa AJa???
- Ada saya tentunya, Afrida Arfah, seorang Ibu Rumah tangga yang suka menulis terutama puisi, seorang blogger, Juga seorang Enterpreneur sekaligus pengelola beberapa warnet, yang akan berbagi rahasia menerbitkan buku secara 'self publishing' tanpa harus keluar modal gede. Atau bahkan tanpa modal juga bisa, Nah gimana tuh caranya?. Dan bagaimana caranya saya diantara tanggung jawab saya yang lain masih tetap konsisten menulis sampai menerbitkan buku? Yukk.. mari kita tingkatkan motimasi menulis kita dengan wacana "Bahwa menerbitkan Buku tidak lagi hanya sebatas MIMPI " dalam talk show sekaligus launching buku perdana saya "Puisi diantara Hari"

- Lalu ada juga Riza rahmi (Ketua FLP ACeh, Pemenang lomba Cerpen piala MENPORA, penulis buku anotologi Kerdam Cinta Palestina, Rumah Matahari terbit)

Moderatornya?
-Ibnu Syahri Ramadhan (Sekretaris FLP Aceh)

EEiitttss.. ada lagi ... Ada Sorang anak kecil berumur 6 tahun yang akan Live performance membacakan puisi.
Namanya MUhammad Hamdi kurnia Rahman

Dimana aja bisa di beli tiketnya?
-Tiket bisa di dapat di :
1. Waroeng multimedia Net
(Lorong PBB, belakang BRI darussalam
2. Avolution Net
3. Basecamp Net (Jalan Inong Balee)
4. Neo Waroeng MultiMedia
(lorong Makmur, belakang BSM darussalam,
disamping LDC IAIN)
Cp: Vira :085260238161
Khadijah :085277479772
ATAU bisa juga di inbox ke sini, dengan judul tiket untuk pemesanan.


Acara ini terselenggara atas kerjasama Penulis buku dan panitia dengan:

1. SPEEDY telkom Aceh
2. www.indie-publishing.com
3. FLP Aceh
4.Toko Buku Alif. Jalam muhammad JAm no 100

JAngan Lupa Acaranya diadakan tanggal 5 Desember 2010,
PUKUL 09:00 - 12:00

Jumat, 27 Agustus 2010

Sebuah Tali Asih dari Pakdhe Cholik


Pertengahan pagi dan siang ini, ketika aku sedang melakukan tugas rumah tangga sambil sesekali melihat suara beep dari ym operator dan tweetdeck, tiba tiba hamdi yang baru saja aku minta tolongin beli Rinso di warung depan berteriak "Maaaaa... ada kiriman nih dari surabaya". Cucian yg notabene adalah baju kerja si dia (gak dicuci make mesin cuci) langsung aku tinggalkan. Secepat kilat [eh .. ndak ding.. ya dibawahnya kilat dikitlah] aku menyambangi posisi anakku yang memegang Rinso di tangan kanannya dan sebuah bingkisan ditangan kirinya.
"Ma itu dari siapa ma?? isinya apa???" .. tanya hamdi
"Wahh mama juga pengen buka nih... kita buka yukk"... kataku sambil merobek bingkisan tanpa merusak catatan alamat di depan bingkisan [rencananya alamat pakde akan kusimpan tidak hanya didalam hati tapi juga di map].
"Ma .. ada baju sama buku".... kata hamdi antusias..
"Iya.. keren kan... ada tulisan apa nih coba" .. tanyaku
"AKU CINTA INDONESIA" ... kata hamdi..
Ya benar.. semakin aku cinta Indonesia.. dan smakin aku cinta persaudaran ini. walau wajah tak pernah bertemu, dan terpisah oleh luasnya lautan... tapi semangat pakdhe bisa sampai ke Banda Aceh. Bahkan walaupun ongkos kirim surabaya-Banda Aceh tergolong mahal.
Sekali lagi, buku yang aku terima membuatku terharu .. buku itu berjudul "la tahzan for muslimah". Pakdhe pintar sekali memilih buku.

Kerianganku dan rasa terharu ini juga karena baru kali ini aku mendapatkan sebuah tali asih selama nge blog. maklum aku jarang sekali blog walking, hanya menulis untuk diri sendiri saja. Belakangan aku blog walking ke beberapa blogger dan senang main di blog nya pakdhe lalu puisiku mandet lalu blog walking lagi.
Yang bikin aku tertarik, diusianya yang ke 60, pakdhe punya semangat yang tinggi untuk tetap menulis di beberapa blognya. Tidak menyerah dan tidak termakan zaman. Pasti anak cucunya bangga sekali.
Cerita-cerita yang diungkapkan pakdhe tidak berat.. semua ringan dan indah. Bikin kita pengen mampir dan mampir lagi :)

Sekali lagi terima kasih untuk tali asihnya Pakdhe cholik

Buku ini akan segera saya rampungkan membacanya, lalu saya kupas tuntas di blog ini.

Selasa, 24 Agustus 2010

Tujuh Tahun Pernikahan


Harusnya sih sekarang ini aku bikin puisi yang temanya 'mengenang 7 tahun pernikahan' aku dan suamiku di blog ku (Puisi Fida). Berhubung mandek... biarlah aku berkoar-koar sejenak di blog yang ini. Aneh juga, bagi pasangan muda seperti kami... tanggal pernikahan saja bisa terlewatkan dan tidak ada perayaan spesial sedikitpun. Mungkin kami terlalu sibuk dengan fikiran kami masing-masing atau malah sudah tidak lagi memikirkan moment seperti itu. Ini salah, justru moment seperti itu yang dapat menghadirkan kembali gairah pengantin baru (atau jangan2 karena selalu bergairah malah ndak perlu moment itu :D) ..

17 tahun sudah perkenalan kami.
Diawali karena tumbuh di pesantren yang sama, sejak umur 13 tahun, aku sudah mengenal namanya. Belum tau orangnya, hanya sering disebut di kelas banat (kelas perempuan). Seorang ustadz, sering betul membanggakan nama yang katanya jago matematika itu. Tak lama, seorang teman dekatku, menaruh hati pada anak lelaki antah berantah ini. Bertukar surat cinta, sampai ke jadian cinta monyet. Beberapa pertemuan, hanya sekedar mengobrol dengan curi mencuri waktu tanpa ketauan ustadz/umi. Tentu aku tak ikut andil didalamnya. Di masanya, aku masih jaim.. dan tergolong takut berbuat salah. Cerita demi cerita saja yang diperdengarkan oleh temanku di telingaku ini.
Seiring waktu, aku tentu melihat orangnya. Taklah ganteng 'fikirku', dia pun tak tinggi. Tapi satu hal yang aku kagumi, dia cerdas. Buktinya di kelas 3, kami sama-sama diusung untuk mengikuti ujian masuk sebuah sekolah terbitan pak B.J habibie. Ada 8 orang yang aku ketahui saat itu. 4 dari banat (perempuan).. dan 4 dari walad (laki-laki). (kalimat diatas sengaja mengasumsikan diriku tergolong orang cerdas di sekolah :D :D). Aku rasa, saat itu mereka tak lagi berhubungan (yah namanya cinta monyet, ntah kapan jadiannya.. ntah kapan putusnya). Karena sering belajar bersama di rumah ustadz rizal, atau di sekolah... justru aku sepertinya naksir sama temennya (inisial dirahasiakan) yang juga ikut ujian 'magnet' ini (ahh cinta monyet lagi). Sayangnya, aku tak pernah berani, padahal dia pernah loh datang kerumah dengan judul menjemputku belajar bersama.
Belajar bersama, ujian bersama berakhir, berakhir pula pertemuanku dengan suamiku itu yang memang tak banyak kuantitasnya (tak menyangka dia yang jadi suamiku kini). Selama pertemuan itu, tak banyak yang kami bicarakan, dan aku lebih tertarik berbicara dengan temannya yang satu itu (inisial tetap rahasia).

Berpisah

Masing-masing kami meluncur dan melanjutkan di SMA yang berbeda. Ada yang masih mondok, ada yang ke SMU plus, SMA negeri, dia sendiri ke SMK Telkom. Itu karena tak ada satupun dari kami yang lulus ujian 'magnet' itu. Bukan karena kami bodoh, tapi karena soal ujian tertukar, alhasil kami mengerjakan soal ujian anak SMU. Jadilah siswa Ponpes Se-SUMUT tidak ada yang lulus saat itu.
Seperti benang merah, ada aja yang menghubungkan aku dengannya. Seperti mama yang pernah menumpang mobilnya, atau mama yang ntah gimana kadang-kadang suka nanyain kabarnya (mana ketehe.. ngobrol aja nggak :)), bahkan teman les PPIA ku yang juga satu sekolah dengannya, ntah gimana suka menceritakan manusia satu ini. Benang merah ini baru tersadar setelah kami menikah. Sayangnya selama SMA, tak pernah sekalipun aku bertemu dengannya.
Dari sisi dia, menurutnya benang merah itupun terasa. Dia pernah tertarik melihatku ketika di ponpes dulu. [Katanya] dia teringat seorang gadis yang pernah berteriak padanya dari bawah pohon (halah lebai nian) sambil bertanya mengenai persiapan ujian 'magnet'. Dan si lelaki ini selalu terngiang ucapanku waktu si 'mama' menumpang mobil ibunya "Tur, jaga mamaku ya' (hehehe ini lebai tingkat tinggi). Tak berhenti disitu, ketika SMA dia melihat adik kelasnya yang mirip denganku, ia penasaran ada hubungan apa aku dengan adik kelasnya. Kalau ketemu anak ponpes yang dia tanya selalu aku. . Nah yang anehnya, dia punya feeling (katanya) kalau aku yang bakal jadi istrinya. Alasannya ntahlah [saya juga tak tau hehehe].

Masa menuju pendewasaan (kuliah)

Perjalanan kuliahku ternyata jauh, jauh dari orang tua dan jauh dari si benang merah ini. Aku mempunya kehidupan baru di Yogyakarta. Sahabat-sahabat yang tidak akan pernah aku lupakan kenangan didalamnya sampai nyawa tercabut dari ragaku (widiiihhh). Begitu indahnya persahabatan dengan banyak teman ini membuat aku tidak berfikir untuk pacaran, bahkan dengan orang yang aku sukai sekalipun. oww... orang yang aku sukai .. ya ada sebuah nama, beberapa sentilan kenangan mulai muncul di kepalaku. Bagaimana dan mengapa aku menyukai 'teman sekelasku' ini. Ini tak mungkin ku katakan disini.. pastinya nanti bakal jauh dari tema ceritaku. Malah jangan-jangan ada seorang pemeran utama disini yang bakal protes (xixixixi).
Dipertengan proses kuliahku, aku bertemu seorang teman di dunia maya, yang ternyata juga teman sekelasnya. (bersambung)
***
27 agustus 2010, 12:58 PM
cerita saya lanjutkan (capek juga nulis tulisan selama 7 tahun hihihihi)

***
Teman seangkatannya ini bernama hakim, kalau tak salah sekarang ia berdomisili di Surabaya. Sering bercerita, hingga sampailah pada sebuah cerita kalau ia mengenal 'si benang merah ini'. Wah, kecilnya dunia ini... mengapa setiap cerita selalu kembali ke dia?? tak taulah saya...
Selang beberapa hari, aku mendapatkan sebuag telpon dari no yang tidak masuk dalam phonebook ku. Kuangkat, dan ternyata lelaki yang bernama lengkap 'Catur Kurnia Mustika Ramdhani' yang menlponku. Sedikit kikuk aku. Sekian lama tak berjumapa, dan tak pula pernah berbicara banyak. Kutanyakan dari mana ia dapat medeteksi no hp ku?. Singkat kata, hakim yang mengabarkannya, ohhh sungguh Hakim akan mendapatkan sebuah mesjid untuk benang merah ini :)).
Tak terasa intensitas menelpon menjadi semakin sering. Aku, yang kadang-kadang lebih sibuk darinya (sok sibuk) betul-betul senang kalau mendapatkan telp darinya. Diantara letih kuliah dan kegiatan ekstrakulikulerku di HMI, Telpon darinya merupakan pengobat penat.
Banyak hal yang kami ceritakan [sebenarnya aku yang bercerita], dan ia lebih cenderung mendengarkan. Lalu apakah cinta bersemai.... ahhh ntahlah kapan datangnya perasaan dekat itu, apakah ketika kami masih di pondok, atau perasaan terpisah ketika SMA, atau malah ketika ia menelponku.
Sudah lama tak melihatnya, begitupin dia. Ntah bagaimana dia sekarang [pikirku kala itu]. Dulu dia memang sudah gemuk, tapi katanya sekarang lebih gemuk lagi. Sudah dapat kubayangkan .. dengan panjang tubuh yang tak panjang :)) dan gemuk yang ia bicarakan :). TApi satu yang pasti tak mungkin berubah, bahwa ia masih cerdas seperti dulu.
Libur lebaran memaksaku untuk mudik [klo cuma libur semester yg satu bulan biasanya aku gunakan untuk beraktifitas bersama teman2 HMI ku]. Beberapa hari dirumah. Si Lelaki mengajakku Kopdar.
Bersama teman-teman nya ia menyambangi rumahku. Sedikit kikuk aku melihatnya [maklumlah udah lama gak ketemu]. Untunglah semua temannya rame [rame ceritanya], jadi bisa bikin suasana cair.
Esoknya ia mengajakku bertemu kebali tepat ketika aku sedang bertandang dirumah 'cinta monyet'nya yang sahabatku sampai sekarang. Ketika aku dan sahabat sedang asik bercerita tumpah ruah, telponnya mengagetkanku. Kikuk bukan kepalang.
"Dari siapa, da'? tanya si sahabat
"Dari catur, dia tau aku disini, pengen ngajak ketemu sekalian kan dah lama kalian gak ketemu" kataku ngeles
"?? kok bisa tau no mu" tanyanya
"iya, dari temen sekolahnya dulu" kataku lagi.
Maka berangkatlah kami dikala itu menuju 'sinar plaza'.

***

Sesampainya disana, teryata ia tak sendiri. Bersama sepupunya [yandi] dan beberapa temannya telah menunggu kami di musholla. Selesai Sholat zhuhur, kami menuju sebuah tempat makan di lantai atas. Kala itu, bukan aku yang berjalan beriringan dengannya, tapi 'sang sahabat' yang juga pasti telah lama tak melihatnya. Sedikit cemburu memang, tapi sepupunya yandi mengajakku ngobrol di belakang mereka.
Bercerita layaknya teman yang lama tak ketemu, menyegarkan memang. Lalu kami pulang dengan fikiran kami masing-masing dan kenangan masa lalu.
Malamnya, ketika aku sedang menemani ayah menghirup udara di kota medan, tiba-tiba datang sebuah sms darinya. kira-kira bunynya seperti ini :
"Setelah ngobrol tadi siang, aku nggak bisa tidur. Banyak yang ingin aku bilang" sms nya
"bilang aja" sms ku
"Aku terpana dengan wanita ini dan melihatmu kini membuatku tak bisa tidur" sms nya
Selanjutnya ia mengirimkan sebuah SMS yang mengungkapkan persaaannya.
Ku tak bisa membalasnya saat itu, ada ayah, dan aku merasa tak enak karena ayah sedang sedih mengingat adikku sedang sakit.
Kusuruh ia menelponku 3 hari kemudian. Dan tepat 3 hari setelahnya ia menelponku, dan aku dengan pasti menjawab persaaannya. Har jadian kami, kami rayakan di sebuah tempat yang cukup romantis [rahasia :)].

Ialah pacar pertama dan terakhirku.

Maaf, bukan karena tak laku [seingatku ada beberapa pria yg mengajakku pacaran *songong bukan kepalang :))*], tapi aku cukup sibuk dengan idealismeku. Mr. catur datang sebenarny juga disaat yang tidak terlalu tepat. Aku mengidealismekan berpacaran setelah menikah. Setelah kembali ke Jogjakarta,p erasaan bersalahku meraja lela. Jelang 2 bulan, aku mengungkapkan perasaanku. 'Kita putus aja dulu, atau kita menikah sekarang?'. Tanpa kusangka dan equal to tanpa kuduga, Mr. catur menerima tantangan: 'oke kita menikah'. Surprised sekali diriku, aku sendiri ingin lebih meyakinkan diriku. Keputusan menikah sebelum menyelesaikan kuliahku, akankah disetujui keluarga kami. Malamnya kami bersama-sama meminta izin ke orang tua melalui telp. Aku menelpon ayahku, mengungkapkan niat kami. Seperti biasa, dengan seluruh kebijaksanaannya, ayah mengatakan "Kalo pida merasa yakin buat ayah gak masalah, cuma satu syaratnya, kuliah harus tetap jalan dan uang kuliah ayah yang bayarkan". Waahhh senang dong aku. Kabar yang tak sama datang dari keluarganya, keluarganya belum menyetujui, mengingat statusku yang belum tamat kuliah dan jauh sangat dari peraduannya. Buat ku tak apa, semua itu butuh proses. Mr. catur tak pernah bosan meyakinkan keluarganya untuk menikah denganku [menurutnya ia sudah pantas, karena ia sudah bekerja]. Alhamdulillah, pandangan orang tua lebih mencair. Mereka mengizinkan kami menikah namun harus setelah pernikahan kakak ke 3 nya. dan jelang masa itu, ibundanya menganjurkan kami bertunangan dulu nanti ketika aku mudik libur kuliah. Akhirnya jadilah kami bertunangan, dan beberapa bulan kemudian kami menikah. Rasa syukur yang besar aku panjatkan ke Allah. Karena semua rasa bersalah atas idealismeku selama ini tertutupi. Kami dapat menjalani proses kemesraan dengan halal walau dengan jarak yang jauh dan menghabiskan pulsa telp [red: Aceh-jogjakarta]
(bersambung ----. capek euyyy nulisnya)

****
29 Agustus 2010 (Nyambung lagi lah)

Sedikit Flash back judulnya

Kabar pernikahan diantara teman-temanku.

Selama berpacaran dan bertunangan dengan lelaki ini, hanya ada 3 orang sahabatku di komisariat yang tau hal ini (Fajri, adam, dan Wakid). Aku menyimpannya, sedikit takut kalau ada hal yang berhalang, yang membuat pernikahan kami tak sampai.
Selama penyimpanan itu, ada seorang teman yang yakin aku tak akan menikah dalam waktu dekat. Ntah bagaimana awal obrolan terjadi, tiba-tiba dia berkata "Saya gak yakin kamu menikah tahun ini, kamu pasti maunya kerja dulu, lagian kamu masih kecil sekali"
helloooo...... i'm 22 saat itu. Taklah kecil kurasa. Tapi wajar kok banyak menganggapku imut-imut .. jangankan dulu, sekarangpun masih banyak yang tak percaya aku sudah punya anak dua.. kayak anak SMP kata mereka [hohohoho.. ini namanya merendahkan diri menaikkan mutu.. alias pede tingkat 7 :))]
Saya jawab tantangan si teman dengan bertanya "Kalau ternyata saya menikah tahun ini, gimana mas?"
"Saya akan ajak kamu makan di temapat makan manapun yang kamu mau" Tantangnya..
Girang bukan main... makanan enak bakal terbayang dimana.... ya iyalah.. secara beberapa bulan lagi aku akan menikah, tanggal pernikahan sudah di tetapkan, undanganpun segera dibuat... xixixixixi
Tak cuma itu seorang adik kelas pernah meramal tanganku, sambil berkata " Mbak fida bakal menikah diatas umur 25 tahun katanya" hihihihi... aku senyum-senyum simpul...

Kira-kira 1 bulan medekati pernikahan, aku mulai mengabarkannya ke teman-temanku. Kaget bukan kepalang mereka semua. teman, teman Komisarita HMI, teman - teman di Accounting International Program seangkatanku, juga teman-teman lain.
Undangan aku kirimkan ke komisariat saat aku sudah berada di Medan.

****
Pengantin Baru Jarak Jauh

Tak mudah menjadi pengantin baru dengan jarak beberapa propinsi. Aceh-Yogyakarta.. berat di rindu.. berat di ongkos.. dan berat di pulsa. Beberapa pasangan muda menikah dini namun mereka tetap di naungan yang sama, di kota yang sama. Tidak seperti kami, tantangan kami begitu besar. Apalagi saat itu aku sudah mulai mengajukan judul skripsi. Sengaja aku memilih dosen pembimbing yang agak menakutkan... namun kabarnya ia dapat memotivasiku dan banyak nilai positifnya. Tak banyak yang memilihnya, hanya orang-orang tertentu .. dan punya keberanian lebih aku rasa. Selama 2 bulan awal-awal pengajuan skripsiku, kerjaanku hanya bolak balik Yogyakarta - Lhoksmawe. Tak terketik sedikitpun kata pembuka untuk judul sripsiku ini.

Kabar gembira

Dibulan ke 3 aku mulai muntah-muntah, lemas, mual. Aku periksakan ke RS Panti Rapih.. ternyata Kabar gembira itu benar adanya. Janinnya 'Hamdi' berada di dalam tubuhku... nyawanya berada satu nafas denganku, hidupnya menyatu dalam kehidupanku. Aku bersyukur tak terhingga. Mengabarkan berita gembira ini ke semua orang yang aku temui. tak perlu malu aku rasa, toh aku hamil dengan dengan suami :))
Kekuatanku datang tiba-tiba, niat merampungkan skripsi menjadi besar tak terhingga. Aku sadar aku tak boleh melahirkan di kota ini. Disin aku hanya punya adikku yang masih SMU, sedang tak ada satupun keluarga lainnya. Jika aku tak bisa wisuda bulan 5, alamat aku bakal melahirkan disini.. oh Noooo.... skripsiku harus kelar. Anakku harus mempunyai ibu yang berjiwa besar dan kuat, aku tak mau ia malu ketika melihat undangan pernikahannya nati tidak ada gelar orang tuanya, padahal pendidikanku hanya tinggal selangkah
Kekuatanku tak sepenuhnya masuk ke orangorang disekelilingku. Di awal-awal kehamilanku, seluruh keluarga besar, teman-teman dan sahabat dekat bahkan khawatir dengan keadaanku. Jauh dari suami, skripsi, dan tanpa keluarga besar disampingku. Ah tidak, mereka salah.. aku tak sepenakut itu. Ini semua sudah aku perhitungkan. Keputusan menikah berarti aku juga telah siap memutuskan untuk memiliki anak. Semangatku tinggi, masa depanku semakin tercerahkan, dan aku semakin maju untuk berfikir.
Segera aku juga memborong beberapa buku kehamilan, pengasuhan anak, orang tua, dan lain-lain yang berhubungan dengan anak. Dan segera pula aku kembali mendatangi dosen pembimbingku. Tak kubiarkan dosen pembimbingku mengetahui kehamilanku, karena tak sedikitpun aku ingin di iba olehnya. Jika skripsi ini berhasil sesuai targetku, maka itu adalah jerih payah akau dan anakku.
Alhamdulillah, di sela-sela pengerjaan skripsi.. seluruh temanku mendukungku. Seluruhnya.. dan tak satupun dari mereka yang mengabaikanku. Aku berterima kasih kepada Allah karena diperkenalkan dengan teman seperti mereka (Opi, Fajri, Adam, wakid, denok, genia, ety, mas deni, komfak FE UII, semuanya.. semuanya big thanks for all of you guys, Your help and care won't be compared to anything)
Tak pernah terbayangkan aku bisa sesemangat itu dalam bertanggunga jawab. Walau keadaanku fisikku lemah [berulang kali pingsan di beberapa tempat], tapi janinku tetap kuat. Setiap pingsan aku selalu bertanya ke dokter bagaiman janinku. Dia katakan kehamilanku luar biasa baik. Hanya saja aku perlu banyak makan. Mual dan muntah setiap mencium bau makanan yang membuatku susah menelan sesuatu. Hanya buah dan biskuat yang bisa masuk ke kerongkonganku tanpa ada 'Hueeekkk' dari mulutku.
Skripsiku menggunakan metode research, objekku adalah semua jenis akuntan, mulai dari Akuntan pendidik, akuntan publik, akuntan perusahaan, dan akuntan sektor umum. Selain itu, skripsi wajib berbahasa ingris [berhubung program yang aku ambil adalah International Program].
Berhubung objek adalah akuntan, dan harus mencari 100 sample [awalnya] menjadi 75 [sample akhirnya karena akuntan perusahan memblokade diri karena takut datanya dilihat. Mencari 75 sample sebenarnya adalah perjalanan melelahkan. Setiap hari aku berangkat jam 7 pagi, menyebarkan questionaire padat tanya, menunggu disatpam, menunggu jawaban, mengejar dosen, kehujanan, kepanasan, dll. Sampai-sampai opi dan teman-teman menganjurkan agar anakku diberi nama 'si Tegar atau Tegarwati' hehehehhe...
75 sample bisa aku dapatkan dalam tempo 1 bulan dengan berbagai cobaan. Seluruh sample tidak ada yang di manipulasi, murni berasal dari objek yang aku dapatkan. [bagiku, memanipulasi objek bukan tindakan bertanggung jawab]. Proses pendataanpun lebih mudah ke depannya. Aku hanya tinggal bolak balik ke dosen pembimbing. Walau terkadang ada omelan, atau sindiran kalau salah.. tapi itu bukan batu sandungan. Bahkan aku semakin rindu dengan dosen pembimbing satu itu, sehari 2 kali aku bolak-balik ruangan dia.. hehehehehe.. biar dia eneg sekalian liat wajahku :)) [Prof. Hadri Kusuma, Drs, MBA, DBA Thank you for everything, May Allah bless you and your family].
Bimbinganku selesai, skripsiku akhirnya di setujui tanpa adalagi coretan. Saatnya aku ke bimbingan bahasa [Mrs, Any pujiastuty.. thank you for your smile]. Untunglah tak banyak kendala, tak banyak pula yang perlu diperbaiki, dan akhirnya seluruh penggunaan bahasa Inggrisku disetujui juga. Dan aku bisa mendaftarkan wisuda di bulan 5 tahun 2004, tepat 2 bulan sebelum kelahiran Muhammad Hamdi Kurnia Rahman. Semoga Allah menjadikannya Hamba yang cerdas dan masuk Surga.

(Bersambung lagi yaaa... saya mo pergi soalnya :))

Senin, 16 Agustus 2010

PERTAMA KALI BELAJAR MENYETIR

Diumur berapa aku belajar menyetir?

Kapan pertama kali kamu belajar naik mobil? Ada yang waktu SMP, SMU, waktu kuliah, ada juga yang setelah kerja karena tuntutan kerja dan lingkungan. Aku sendiri mulai mengenal dunia setir menyetir dan akhirnya menjadi supir emakku diumur 17 tahun. Kenapa nggak 16 tahun aja pas kelas 1 SMU, kan judulnya udah SMU?.. Lah ya gak bisalah... jelas-jelas peraturannya umur 17 tahun.. (itu loh yang selalu jadi alasan si ayah kalau aku ingin belajar nyetir waktu kelas 1 SMU).
Setelah ulang tahunku yang ke 17, awalnya aku minta belajar naik motor. Pengen naik motor ke sekolah, itu alasanku ke ayah. Gak tau apa karena aku anak paling besar sendiri (mksdku 2 adikku masih SD dan bayi), si ayah langsung menolak mentah-mentah, sambil berkata "Itu namanya bikin ayah cepet mati, setiap hari jantungan". Nah loh .. ini nih derita anak pertama. Jadi bahan percobaan. Ayah masih blom berpengalaman punya anak remaja. Padahal kesini-sininya.. 2 adekku malah udah bisa naek motor waktu SMU, malah si bontot udah di bolehin belajar waktu SMP (walau tetap tak boleh keluar dari sekitaran komplek DPR dekat rumahku).
"Ya udah, besok pida belajar naek mobil aja. minta ajarin mak enda. Kalo naek mobil lebih aman kalo kecelakaan, paling yang lecet mobilnya". Kalau tak salah ingat, kira-kira begitulah kata-kata ayahku saat itu. Aku kegirangan dong, soalnya dulu kalau masih SMU udah bisa naek mobil kan keren.

Bagaimana latihan menyetirku dihari pertama dan kedua?

Latihan menyetir di hari pertama bersama Mak enda (sebutan untuk adik laki-laki ibuku), seharian keliling komplek. Dasarnya memang aku yang cerdas ya cepat bisalah *PD tingkat tinggi*. Kalau cuma keliling komplek aja, nggak ada tantangannya sepertinya. Besoknya aku ijin ke ayah minta bawa mobilnya ke kota sambil belajar. Nggak tau kenapa si ayah ngasih ijin aja. Memang TOP Begete lah ayahku yang tiada duanya itu. Mobil keluar dengan selamat, menyusuri kota medan dengan sesuka hatiku. Sepertinya, perjalananku saat itu juga masih belum menantang. Lalu aku menantang diriku untuk masuk ke parkiran medan mall dan Thamrin Plaza. Nah ini dia baru tantangan. Hari kedua udah naik parkiran medan mall dan thamrin. Eh jangan salah loh, untuk ukuran newbie alias beginner, klo bisa menaiki kelok-kelok parkiran yang menuju lantai atas mall dan plaza, udah sangat hebat tuh. Biasanya kan untuk pemula harus menepis rasa takut dulu. Apalagi kalau pijakan gas tidak seimbang, bisa-bisa meluncur kebawah.

Menghadapi rasa takut yaitu dengan berjalan ke arah rasa takut itu

Mengawali niat dengan Bismillah, semangatku menggelora, maju terus pantang mundur. MEDAN MALL.... AKU DATANG!!!! teriakku dalam hati. Medan mall yang bertetangga akrab dengan pasar central dan sambu ini sudah jelas crowded alias 'semak'. Segala jenis kendaran nyeloyor sesuka hati. "Ini Medan Bung, jangan kau senggol-senggol aku.. nanti kusenggol balek kau", yah begitulah petuah orang medan ini. Tiket tanda masuk sudah kubayar, perjuanganku harus kuteruskan. Jangankan untuk ke parkiran atas, berjuang di parkiran bawah yang crowded bin semak tadi sudah cukup melelahkan. Akhirnya, sampai juga aku ke bibir putaran paling bawah, aku terdiam sejenak.. ya sejenak saja, tak boleh banyak (nanti di teriakin sama supir yang antri dibelakang), lalu aku mulai menancapkan gas dengan gigi 1 mengelilingi jalur puntaran yang terus menanjak tanpa henti sampai di lantai 4-5 (lupa saya medan mall itu sampai lantai berapa ya). Ternyata perjuanganku sukses dengan selamat. Lalu aku kembali turun, dan berputar naik lagi sampai aku puas. Setelahnya, aku menuju Thamrim plaza yang kalau tak salah parkirannya ada di lantai 7. Bentuk tanjakan tentu tak sama dengan Medan mall yang muter-muter bak spiral dan bikin sakit kepala, Tapi menanjak lurus setiap melewati satu lantai. Buatku lebih mudah asalkan injakan gas tetap stabil, dan tidak terpengaruh dengan mobil dibawah.
Aku pulang kerumah dengan baik tanpa lecet sedikitpun. Begitu seterusnya, sampai akhirnya aku dipercaya untuk memegang SIM A.

Apakah aku pernah menyenggolkan mobilku hingga lecet atau babak belur?

Ya jelas pernah, anak kecil aja kalau belajar naik sepeda pasti pernah jatuh. Nah masalahnya justru aku membuat lecet mobil ayahku disaat aku sudah mendapatkan SIM A, wah benar-benar perempuan luar biasa. Beginilah kalau tak mau menjadi yang biasa-biasa saja, sampai metode jatuh alias 'ngelecet' nya dilakukan disaat sudah mendapat sertifikat uji kelayakan lulus menjadi driver si emak.

Lalu apakah sampai sekarang aku tidak bisa naik motor?

Hohohohoho... tentu tidak sepeti itu. Ketika kuliah di jogja, susah sekali rasanya kalau tak punya kendaraan. Angkutan sudah mengistirahatkan diri tepat pukul 18:00. Apalagi aku ini aktifis super sibuk... *halah gayanya*. Benar-benar berat kalau mau keluar malam untuk melakukan kegiatan atau sekedar mencari makan. Harus nebeng terus sama orang. Akhirnya, aku mengajukan proposal untuk dibelikan mobil alakadarnya. "Ya paling nggak bisa jalan lah, yah", kataku dalan proposal yang kuajukan lewat telp. Ayahku menyetujui, hanya saja tunggu setelah panen udang katanya (maklum ayahku kan PNS, jadi tak mungkin membelikan mobil dari gaji PNS nya), Masa yang dinanti telah tiba, mobil telah dibeli, dan siap dikirimkan ke jogja. Hati riang gembira, tentunya. Namun di tengah kegembiraan, aku dengar dari emakku, kalau tambak udang gagal panen, dan sepertinya si emak butuh modal. Dengan ikhlas namun keluar air mata, kutawarkan mobil itu untuk dijual kembali. Si emak terkejut, sedih bercampur senang, ia sedih karena tau buah hatinya yang baik hati ini menunggu kedatangan mobil itu, namun tak bisa berbuat apa-apa. Yah sekali lagi, inilah derita anak pertama, selalu merasakan naik turun keuangan orang tua, yang jadi adik-adikku yang enak.. karena jarak kami jauh.. pasang surut keuangan orang tua tak berdampak ke mereka, adikku malah langsung di kasih mobil pribadi waktu belajar naik mobil ketika kuliah (walau belajarnya telat :D). Lagipula aku tau, sebenarnya ayah terlalu memaksakan diri membeli mobil itu karena kadung berjanji padaku. Padahal, saat itu panen sedang tak bagus. Biar bagaimanapun, Terima Kasih ayah, setidaknya kau tetap memberikanku yang terbaik. Foto mobil itu tetap tersimpan di albumku. Dan usahamu menyenangkanku tetap tersimpan di ingatanku.
Ketika mobil gagal menjadi milikku, dengan inisiatif sendiri aku belajar naik motor temanku. Untung semua temanku baik hati, mau meminjamkan motornya untuk ku jadikan percobaan. Syukur-syukur gak pake nabrak, ini malah sempat nyenggol mobil orang dari belakang. Untunglah, si empunya memafkan (padahal mobilnya udah lecet). Belajar naik motor tak lama, cuma perlu menghilangkan doktrin "kalau nabrak, yang lecet langsung kulit" aja. Masalahnya itu yang rada berat, tapi usahaku berhasil. Aku bisa naik motor tanpa takut, setidaknya kalau memang ada apa-apa, berarti sudah menjadi takdir Tuhan. Lalu aku menelfon ayahku, mengatakan aku sudah bisa naik motor. Ayah terkejut, tapi tak bisa bilang apa-apa. Namanya juga udah bisa, mau dilarang apa coba. Waktu liburan di medan, aku disuruh nyoba motor dirumah, aku antar mama keliling dan pulang dengan selamat. Selanjutnya ... sudah taulah kira-kira apa yang disetujui ayahku. Sebuah motor meluncur ke Jogja bersama diriku. Akupun tak lagi kesusahan dimalam hari. :)

Rabu, 09 Juni 2010

Untukmu Guru-guru ku TK sinar Mulia

Engkau dan sebongkah senyummu
Menggenggam jariku ketika pelupuk mataku basah
Menarikku lembut ketika ibu menghantarku untuk pertama kalinya
Dan ia menghilang sejenak

Saat itu..
Tak ada faham selain menangis
Dipangkuanmu aku menyerah
Bersama musikmu aku bangun
Dan aku mulai terngiang senyum saat kau bercerita

Bersamamu aku mengenal cinta orang-orang disekelilingku
Menggaruk pasir demi mencari mutiara
hingga sadar akan keberadaanmu
yang terus menggenggamkan mutiara itu ditanganku
agar kelak aku lebih berarti
dimata dunia dan TUHANKU

4 tahun ..
tak pernah cukup untukku
4 tahun ...
dengan kesabaranmu dan polah tingkahku
dan selama 4 tahun aku berproses

kini setelah tahun-tahun itu..
aku melangkah membawa bekal
Sebutir mutiara yang kau titipkan
dan tetap akan ku genggam ketika aku menjalani bagian-bagian masa depanku
Karena ada engkau didalamnya ... dan selalu ada engkau... guruku

Tak berujung rasa terima kasihku untukmu
Kata-kata yang kau tanamkan berpendar indah menggeluti nadiku
memberikan keberanian untuk kebenaran
menempel kelembutan dalam kata-kataku

Puisi ini dibawakan Hamdi pada saat wisuda TK


Sabtu, 13 Maret 2010

Surat untuk ayah yang lagi mancing

Assalamu'alaikum ayah sayang..

Udah hampir Isya nih yah. Kok ayah belum pulang juga. Bosen nungguin ayah dirumah. Seharian mama bertiga sama Hamdi dan Ahza, seharian mama coba-coba bikin puisi, seharian mama bingung mesti ngapain. Padahalkan harusnya biasa aja... Lah ayahkan emang sebenarnya dari senin sampe jum'at emang kerja pulang magrib terus. Tapi klo libur gini gak ada dirumah, mama jadi susah hati. Ayah sih, kesenengan barunya mancing. Mancing itu kan lama yahh.... Kayaknya belang kulit sebulan lalu karna mancing ditengah laut masih blom ilang deh.
Yahhh... mama bosen nih nunggu ayah dirumah. Kalo libuur gini kan harusnya bisa jalan-jalan.
Yah, jangan sering-sering dong mancingnya. Mama kan kangen sama Ayah. Oya.. Hamdi dan Ahza juga kangen katanya seharian gak ketemu.

Dagh ayah....

Mama dirumah